Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira - Epilog


__ADS_3

Arsyad, Aira beserta keluarga yang lainnya menyambut tamu yang datang dengan begitu hangat, pesta yang mereka gelar ini seharunya hanyalah pesta sederhana namun setelah mereka semua membuat daftar tamu undangan, terpaksa pesta di buat lebih besar. Bagaimana tidak? Arsyad memiliki banyak relasi, apalagi kakeknya Baby Ali. Relasi bisnisnya yang ada di luar kota juga di luar negeri ia undang semuanya, bahkan Micheal menambah daftar tamu karena ia juga mengundang relasi bisnisnya sendiri.


Akhirnya pesta di adakan dihotel milik Abi Gabriel dan seketika hotel itu berubah seolah menjadi tempat khusus untuk Baby Ali yang bahkan baru belajar bicara dan berjalan.


Aira tidak tahu bagaimana caranya menghentikan ketiga pria itu agar tak mengundang banyak orang, namun ketiga pria itu terlalu bahagia dengan kehadiran baby Ali dan ini salah satu cara mereka mengungkapkan kebahagiaan mereka.


Berbagai macam hadiah pun baby Ali dapatkan dari semua orang, Tanvir, Via dan Jihan bahkan tak sanggup menghitung banyaknya hadiah yang datang untuk sang adik.


Seperti biasa, Arsyad tak pernah lupa mengundang anak-anak panti karena sampai kapanpun mereka adalah bagian dari Via sedangkan Via adalah bagian dari Arsyad dan keluarganya. Arsyad tak ingin sampai Via lupa siapa keluarga pertamanya.


Aira memandangi Arsyad yang saat ini membawa baby Ali menyapa beberapa tamu yang baru datang. "Nggak usah di pandang terus, suami dan anakmu nggak akan hilang kok." Aira menoleh saat mendengar suara Hulya.


"Aku cuma khawatir baby Ali nangis," kata Aira padahal memang benar, ia memandangi Arsyad. Karena entah mengapa, Aira seolah kembali merasa jatuh cinta pada suaminya itu. Bagaimana Arsyad mengasuh baby Ali, memperkenalkannya pada orang-orang, menunjukan bahwa Arsyad sangat mencintai putranya itu.


"Kamu gemukan, Ai." celetuk Hulya yang membuat Aira mendelik. "Malah mendelik, beneran. Kamu hamil lagi?"


"Nggak lah, baru kemarin aku suci dari haid," jawab Aira kemudian sembari mengambil cup cake dan memakannya dengan pelan-pelan. Setelah menghabiskan cup cake itu, Aira kembali mengambilnya satu lagi ia menghabiskan 3 cup cake dan itu cukup aneh bagi Hulya.


"Tumben kamu rakus, beneran kamu nggak hamil?" Tanya Hulya lagi dan Aira hanya menggeleng. Namun keningnya berkerut saat ia menyadari sesuatu.


Akhir-akhir ini Aira suka makanan yang manis sedangkan biasanya ia tak suka, selain itu, emosinya juga naik turun dan ia sangat sensitif. Aira teringat saat ia mengandung baby Ali, Aira masih mendapatkan tamu bulanannya. Benarkah sekarang dia...


Aira mengulum senyum membayangkan dirinya kini hamil lagi, ia sangat berharap dalam rahimnnya benar-benar akan ada adik baby Ali. Karena sangat penasaran, Aira meminta salah satu karyawan restaurant untuk membelikannya test peck.


Saat ia mendapatkan barang itu, diam-diam Aira langsung pergi ke toilet untuk memeriksanya.


Kedua orang tuan Aira dan kedua kakak Aira juga sangat menikmati pesta itu, mereka punya banyak teman dan relasi kecuali Jibril yang lingkaran temannya hanya ada 3 orang. Arkan, Bayu dan Rehan.


Sementara itu, Abi Gabriel mencari Aira untuk melanjutkan ke sesi foto. Namun putrinya itu tiba-tiba menghilang di pestanya sendiri.


"Hulya, Aira mana?" Tanya Abi Gabriel.


"Tadi ada disini..." kata Hulya yang juga celingukan mencari sahabatnya itu. "Kok hilang," gumam Hulya namun tak berselang lama Aira muncul yang langsung di panggil oleh Abinya.


"Kenapa, Bi?" Tanya Aira.

__ADS_1


"Saatnya foto bersama, ajak anak-anak juga," kata sang ayah yang langsung di angguki dengan semangat oleh Aira.


Kini, semua keluarga Aira sudah bersiap berfoto bergantian. Arsyad juga mengajak karyawannya untuk berfoto bersama. "Nanti pajang di restaurant baru, ya. Kayaknya restaurant itu aku jadikan salah satu warisan untuk Baby Ali," ujarnya yang membuat semua orang melongo. Pasalnya, restaurant Arsyad yang sekarang dua kali lipat lebih besar dan lebih mewar dari restaurant Arsyad yang lain. Untuk membuka restaurant itu membutuhkan modal yang tak sedikit, tentu hasilnya juga takkan sedikit. Dan sekarang, bocah yang baru berusia 1 tahun telah dengan sangat beruntung mendapatkan warisan itu.


"Ide bagus," kata Fahmi dengan semangat. Aira yang mendengar itu hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Mas, jangan bicara warisan sekarang. Malu di dengar orang," bisik Aira yang seketika membuat suaminya itu terkekeh.


Setelah selesai sesi berfoto, semua tamu di persilakan menikamati hidangan yang ada. Aira pun juga sudah tak sabar ingin makan lagi namun tiba-tiba Tanvir justru menarik bajunya. Aira menoleh pada bocah itu.


"Aku mau gendong baby Ali, Om," seru Tanvir. "Mau foto bersama dengan Via, boleh ya?" Tanvir memelas sambil mengulurkan tangannya pada Aira.


"Jangan, Nak. Tanvir kan belum bisa gendong adik bayi," kata Aira.


"Iya, Tanvir. Nanti adiknya jatuh," sambung Zenwa.


"Ya sudah, kalau begitu foto duduk saja. Pokoknya Tanvir mau foto bertiga sama Livia dan Baby Ali," tukasnya tanpa mau di bantah. Bahkan tatapannya begitu serius dan tajam. Namun hal itu justru terlihat lucu bagi para tamu yang datang, tak sedikit yang memuji Tanvir karena sangat menyayangi Livia juga baby Ali padahal mereka hanya sepupu. Terlebih Livia hanyalah anak adopsi, namun tak satupun dari keluarga yang memperlakukan Livia dengan berbeda. Termasuk Tanvir, ia tampil sebagai kakak yang sempurna. Sungguh keluarga idaman.


"Memangnya kenapa sih cuma mau foto bertiga aja?" Tanya Micheal.


"Tuh, bro..." Arkan menyikut Jibril yang sejak tadi hanya menjadi penonton. "Anak kecil aja faham sesuatu yang spesial, masak kamu nggak," sindirnya.


"Eits, jangan salah..." sambung Rehan. "Tante Firda sudah menemukan jodoh yang cocok," imbuhnya.


"Oh, gadis itu..." Bayu berseru dengan mata berbinar. "Tapi gadis itu terlalu kalem, nggak cocok sama pangeran kita yang kaku seperti es batu ini. Yang ada, nanti pernikahan mereka hambar, sepi seperti kuburan," ejek bayu yang langsung membuat Jibril mengeplak kepalanya.


"Dia pilihan Ummi, sudah pasti cocok," jawab Jibril dengan suara bass nya itu.


"Istikharah dulu, cocok kata orang tua belum tentu cocok untuk anak," saran Arkan.


"Hem, betul. Istikharah dulu yang bener, jangan sampai kau salah jodoh." Jibril hanya mengulum senyum menanggapi ucapan-ucapan sahabatnya itu.


Sementara di depan sana, fotografer sedang mengatur posisi foto Tanvir, Via dan baby Ali.


Ia menyediakan satu kursi untuk tempar duduk baby Ali, sementara Tanvir dah Livia berlutut sambil memegang kedua tangan baby Ali agar tak terjatuh. Setelah itu, terserah Tanvir dan Livia akan berpose seperti apa. Dan untunglah putra Arsyad dan Aira itu tak menangis atau banyak bergerak, ia justru cekikikan pada kedua kakaknya itu.

__ADS_1


"Mereka terlihat sangat bahagia, Sayang." Arsyad merangkul pundak Aira kemudian mengecup pundak Aira.


"Mas, aku punya hadiah buat kamu," lirih Aira sambil mendongak guna menatap mata suaminya itu.


"Hadiah? Wow, selain baby Ali yang mendapat hadiah, rupanya aku juga dapat," kekeh Arsyad. "Apa hadiahnya sayang?" Tanya Arsyad tak sabar.


"Bintang yang bersinar," kata Aira yang justru membuat Arsyad mengernyit bingung namun pupil matanya melebar saat ia menyadari sesuatu.


"Sayang, kamu..." Aira menarik tangan Arsyad kemudian ia memberikan test peck yang menunjukan Dua garis biru. Arsyad tertegun, bahkan ia menahan napas. Aira yang melihat ekspresi suaminya itu justru terkekeh geli.


Aira berjinjit kemudian berbisik mesra di telinga sang suami. "Aku hamil, Mas. Dan sekarang, kamu adalah orang pertama yang tahu."


Arsyad masih tak percaya, ini seperti mimpi baginya apalagi baru kemarin Aira suci dari haidnya dan baru tadi pagi mereka...


"Sama seperti baby Ali, aku tetap datang bulan meskipun lagi isi," ucap Aira lagi dan seketika Arsyad memekik girang sambil mengangkat Aira dalam gendongannya. Sontak hal itu menarik perhatian semua orang, tak terkecuali Tanvir dan Livia.


"Arsyad...." tegur Abi Gabriel namun Arsyad tak mengindahkannya. Ia justru maju dengan membawa Aira bersamanya.


"Pengumuman semuanya..." Teriak Arsya. "Hari ini, hadiah terbesar untuk baby Ali datang dari ibunya, yaitu..." Arsyad mengangkat test peck Aira yang membuat Aira langsung tertunduk malu. "Karena dia akan mendapatkan adik baru."


Sontak semua orang terkejut sekaligus turut berbahagia, terutama keluarga Aira. Dan jangan lupakan juga Tanvir dan Livia yang juga memekik girang karena mereka akan mendapatkan adik kembali.


Sekali lagi, Aira mendapatkan ucapan selamat serta do'a dari para tamu yang hadir, yang tanpa sadar membuat Aira menitikan air mata harunya. Sungguh, sekarang hidupnya di penuhi berkah yang tak henti-hentinya mengalir.


"Selamat, Sayang..." Ummi Firda memeluk sang putri dengan hangat. "Tuhan mengujimu sekali, tapi memberikanmu hadiah dua kali."


"Benar, Ummi. Aku juga nggak nyangka, secepatnya ini dan seindah ini hadiah yang aku dapatkan."


Cadar yang Aira kenakan sedikit basah karena air mata harunya, namun Arsyad takkan memintanya berhenti menangis karena itu adalah air mata kebahagiaan.


Arsyad memeluk Aira dan mengecup keningnya penuh cinta, kemudian berkata." Kita memulai semuanya dengan cinta, maka akan terus berjalan atas nama cinta. Jika suatu hari nanti kisah kita berakhir, maka itu hanya karena untuk melanjutkan kisah cinta kita di kehidupan selanjutnya dan kisah cinta kita akan kekal disana, dengan Mahligai Cinta Yang begitu kokoh dan takkan pernah goyah. Bidadariku." Aira begitu terenyuh mendengar ungkapan cinta sang suami, ia membalasnya pelukan suaminya itu.


"Iya, Sayang. Mahligai cinta yang sekarang harus lebih kokoh dan jangan biarkan siapapun menggoyahkannya."


......🦋......

__ADS_1


But true love never ends...


__ADS_2