Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #62 - Permintaan Menyakitkan


__ADS_3

^^^Lahore, Pakistan^^^


"Kak...." Aira memanggil Jibril dengan manja sambil senyum-senyum.


"Kenapa, Dek?" Jibril bertanya dengan lembut namun ia menahan senyum geli melihat tingkah sang adik yang tiba-tiba manja.


"Pengen makan Kheer," kata Aira yang membuat Jibril langsung mengerutkan keningnya.


"Kheer?" Tanyanya untuk memastikan dan Aira mengangguk sambil tersenyum. "Okay, kita beli di luar, bagaimana?"


"Tapi aku malas keluar, Kak. Kakak aja yang beli, aku tunggu di rumah aja ya."


"Okay, jangan buka pintu untuk orang yang nggak kamu kenal." Aira langsung mengangguk setuju setelah mendengar apa yang di katakan Jibril.


Jibril pun segera mengambil dompetnya untuk pergi membeli Kheer dan ia tidak tahu dimana yang menjual Kheer.


Saat Jibril keluar dari rumah, ia berpapasan dengan Tante Raisa yang baru saja datang dari pasar bersama Javeed. "Mau kemana, Jibril?" Tanyanya.


"Mau cari Kheer, Tante. Aira ngidam sepertinya," kata Jibril.


"Kenapa harus beli? Aami bisa buat," celetuk Javeed yang langsung membuat ibunya melongo.


"Nggak usah, aku nggak mau merepotkan kalian. Aku akan mencarinya," kata Jibril.


"Nggak merepotkan, Aami juga nggak punya pekerjaan lain." Tante Raisa semakin melongo melihat tingkah absurd anaknya itu.


"Biar aku buatkan, Jibril," ucap Tante Raisa akhirnya yang membuat Javeed langsung tersenyum lebar mendengar ucapan sang ibu.


"Chal, Aami. Masak di rumah Aira!" seru Javeed dengan semangat yang membuat ibunya kembali melongo seperti orang bodoh, karena entah kenapa, Javeed selalu antusias saat mendengar nama Aira.


***


Aira memperhatikan tante Raisa yang memasak Kheer, bahkan rasanya Aira sudah ileran karena mencium aroma makanan manis itu. "Dulu aku juga suka yang manis-manis saat mengandung Javeed," ucap Tante Raisa sembari mengaduk bubur ala Pakistan itu.


"Pantas aku manis ya, Ma," sambung Javeed yang saat ini sedang makan aloo paratha bersama Jibril dan Via.

__ADS_1


Aira yang mendengar ucapan Javeed hanya mendelik, rasanya ia tak pernah bertemu dengan pria se-absurd Javeed sebelumnya.


Setelah Kheer sudah siap, Aira langsung menyantapnya dan tentu ia tak melepaskan cadarnya. "Apa kamu masih pakai cadar meskipun di dalam rumah?" Tanya Javeed.


"Iya, karena ada kamu," jawab Aira dingin yang membuat Javeed menghela napas berat.


"Hem, enak...." ucap Via yang juga menikmati Kheer itu.


"Emangnya kamu nggak kenyang, Via?" Tanya Jibril karena Via makan lagi dan lagi.


"Kenyang, Om. Tuh, perut Via sudah besar, tapi mulut Via masih mau lagi, Om." Via berkata sambil menunjukkan perutnya yang memang sudah sedikit buncit.


Aira dan yang lainnya tertawa dengan kelakuan Via.


****


Jakarta, Indonesia.


Usaha para Dokter dan Suster tidak sia-sia untuk menyelamatkan Arsyad yang hampir saja kehilangan nyawanya. Kini mereka semua bisa sedikit bernapas lega namun masih tak bisa mengenyahkan kecemasan akan keselamatan Arsyad.


"Sekecil apapun kemungkinan untuk selamat, kita harus tetap berusaha melakukan yang terbaik, Sus."


Sementara Ummi Ridha, ia terkena serangan jantung karena terlalu shock dengan keadaan Arsyad, dan hal itu membuat ia harus di rawat di rumah sakit.


Anggun dan kedua orang tuanya menjadi semakin tersiksa akan keadaan ini, rasa bersalah menggerogoti ketenangan mereka, namun tak ada yang bisa lakukan.


Kini ibu dan anak itu sama-sama terbaring di ranjang rumah sakit dan Anggun harus mengurusnya dengan baik.


Fahmi dan Hulya pun selalu menjenguk Arsyad dan Ummi Ridha setiap hari, mereka tiada henti mendoakan sahabat mereka itu.


"Bro, bangun dong." Fahmi berkata pada Arsyad yang masih menutup matanya rapat-rapat.


Ruangan itu teras begitu hening, hanya terdengar bunyi beep menitor yang menunjukkan detak jantung Arsyad yang begitu lemah. Fahmi dan Hulya juga begitu terkejut saat mendengar detak jantung Arsyad sempat berhenti.


"Aku nggak tahu kenapa masalah kamu nggak ada habisnya, tapi yang aku tahu, kamu itu kuat, kamu itu tangguh. Aku harap kamu bangun dan bisa mengejar Aira kembali, sekarang kamu dan Anggun udah nggak punya hubungan lagi, jadi kamu seharusnya bisa mengejar Aira. "

__ADS_1


"Arsyad, ibu kamu juga sakit karena kamu!"


"Arsyad, kamu pasti di cariin sama Via!"


Fahmi hanya bisa menghela napas berat karena Arsyad masih tak memberikan respond apapun. Ia menatap wajah sahabatnya yang di penuhi luka itu, Fahmi tidak bisa membayangkan bagaimana kecelakaan itu terjadi, namun ia menduga, pastilah mobil itu melaju sangat kencang hingga Arsyad bisa mengalami luka separah ini.


Di ruang rawat Ummi Ridha, ada Hulya dan Jihan yang menjenguknya. Hulya memberikan semangat pada Ummi Ridha yang masih tampak sangat lemah.


Ummi Ridha melirik Jihan yang sejak tadi duduk di pangkuan Hulya, dan itu membuat Ummi Ridha teringat dengan Vai, ia merindukan anak itu.


"A-apa Aira menghubungimu, Hulya?" Tanyanya dengan lemah dan Hulya menggeleng. "Kenapa? Bukankah kalian sahabat? Aku merindukan Via, apa kamu bisa telfon mereka sekarang?"


"Tante, Aira dan Via sepertinya pergi ke suatu tempat, aku nggak tahu mereka dimana," kata Hulya yang membuat Ummi Ridha mengerutkan dahinya.


"Kemana?" Tanyanya.


"Aku nggak tahu, udah lama aku nggak bisa menghubungi nomor Aira, dan saat aku menghubungi Tante Firda, dia bilang Aira dan Via baik-baik aja tapi dia nggak pernah membiarkan aku berbicara dengan Aira." Ummi Ridha merenung sejenak, ia teringat saat acara syukuran kehamilan Anggun, di malam itu Aira menghubunginya beberapa kali namun saat ia menelepon Aira, ponsel Aira tidak aktif dan sampai detik ini ia tak lagi berusaha menghubungi Aira maupun keluarganya.


Tak berselang lama, Anggun datang untuk menjenguk ibu mertuanya itu. "Kamu kenapa kesini, A Anggun? Seharusnya kamu di rumah saja, istirahat," kata Ummi Ridha.


"Ngak apa-apa, Ummi. Aku sehat, aku mau nemenin Ummi sama mas Arsyad disini," kata Anggun sembari meletakkan sekeranjang buah yang ia beli sebelum ia kerumah sakit.


Hulya menatap Anggun dengan sinis, entah mengapa ia tak tersentuh sedikitpun dengan kebaikan Anggun pada Ummi Ridha. Entah apakah Anggun tulus atau tidak, di mata Hulya perusak tetap perusak dan tidak ada perusak yang baik. Namanya saja perusak, sudah pasti buruk, fikirnya.


"Tante, aku pulang dulu, ya! Ini sudah sore, mas Fahmi juga harus kembali ke restaurant," kata Hulya.


"Terima kasih, Hulya. Titip restaurant, ya." Hulya menganggu, ia pun membawa Jihan pergi dari sana dan ia tak menyapa Anggun sedikitpun. Setelah Hulya pergi, Ummi Ridha langsung meminta Anggun duduk di sisinya, ia memegang tangan Anggun kemudian bertanya, "Apa kamu sangat mencintai Arsyad, Anggun?" tentu Anggun mengangguk tanpa ragu.


"Kenapa Ummi masih bertanya? Ummi tahu dengan pasti jawabannya," kata Anggun yang membalas genggaman tangan Ummi Ridha, ia pun tersenyum mendengar jawaban Anggun.


"Anggun, ajal bisa datang kapanpun, kita nggak pernah tahu. Dan sebelum ajal Ummi tiba, Ummi ingin melihat Arsyad kembali bahagia, dan Ummi ingin mengembalikan Aira pada Arsyad."


Deg


Jantung Anggun langsung berdegup kencang dan ia terperangah mendengar ucapan Ummi Ridha. Dan Anggun semakin terkejut saat mendengar apa yang di ucapkan Ummi Ridha selanjutnya."Jika Ummi nggak bisa menyatukan mereka kembali, Ummi harap kamu bisa menyatukan mereka kembali, Anggun. Jika kamu benar-benar mencintai Arsyad, bantu dia mendapatkan cintanya kembali."

__ADS_1


TBC....


__ADS_2