Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #106 - Ternyata...


__ADS_3

"Alhamdulillah kalau mereka mau rujuk, sejatinya mereka memang saling mencintai sejak dulu, saling menjaga dan saling menghormati," ucap Fahmi setelah ia mendapatkan kabar dari Arsyad bahwa ia dan Aira akan rujuk.


Saat ini Fahmi baru saja selesai mandi sementara Hulya sibuk membersihkan kamar mereka.


"Alhamdulillah, Mas. Aku juga senang meskipun sebenarnya aku juga kasihan sama Aira, apalagi nanti ada anaknya Anggun, yang ada Aira bisa ingat terus sama pengkhianatan Arsyad," balas Hulya. "Kalau aku jadi dia, mungkin aku enggak akan sanggup kembali pria yang sama yang telah menyakitiku," lirihnya kemudian.


"Tapi Aira sanggup, Sayang. Dia wanita yang hebat," ujar Fahmi.


"Sebenarnya bukannya dia wanita hebat, cintanya yang hebat karena masih bertahta dan memenangkan pertarungan," jawab Hulya yang membuat Fahmi terkekeh.


"Kamu itu kalau ngomong kadang-kadang bisa bijak banget, ya. Bagus banget kata-kata kamu, menyentuh," puji Fahmi.


"Karena, gampang kasih nasehat, yang sulit itu praktik!" seru Hulya sembari melempar suaminya dengan handuk basah. "Seperti susahnya kamu prakitekin taro handuk ke tempatnya, bisa nggak sih jangan taruh handuk di ranjang?" Geram Hulya kesal.


"I-iya, Sayang. Maaf, tadi aku lupa." Fahmi langsung berlari ke kamar mandi untuk menjemur handuknya disana.


"Tiap hari kamu itu lupa terus, Mas. Coba biasakan, kalau habis di pakek tuh kembalikan ke tempatnya!" seru Hulya.


"Iya... Iya!" Balas Fahmi sembari membuka lemarnya untuk mencari baju.


"Sayang, kemeja biruku dimana, ya?" Tanya Fahmi kemudian.


"Ya ada disana, Mas."


"Nggak ada!"


"Ada!"


"Sudah aku bilang nggak ada!" Fahmi berdecak kesal sambil menyingkap baju yang di gantung satu persatu.


Mau tak mau Hulya harus mencarikan kemeja suaminya, ia menyingkap satu persatu kemeja yang di gantung. "Ini..." Hulya menarik kemeja biru yang Fahmi mau.


"Loh, kok ada? Tadi aku cari nggak ada," kata Fahmi. Hulya hanya mendengus, bertahun-tahun hidup bersama Fahmi membuat ia harus bisa memaklumi segala hal yang menyebalkan dari sang suami.


Hulya melanjutkan pekerjaannya, kini ia mengumpulkan baju kotor.


"Sayang, ini kaos kaki aku satunya mana ya?"


"Astagfirullah..." Hulya menghela napas lesu sambil mengelus dadanya. Ia meletakkan keranjang baju kotor dengan setengah melemparnya, kemudian ia mencarikan pasangan kaos kaki suaminya sementara sang suami kini justru sibuk dengan ponselnya.


"Astagfirullah, kaos kaki sudah aku susun rapi dengan pasangannya masing-masing, malah di acak-acak, kalau sudah acak begini, pasangannya jadi hilang katanya, padahal tinggal cari dan cocokan aja." Hulya menggerutu kesal sembari merapikan kaos kaki Fahmi.


" Neh, Mas. Lain kali jangan di acak kalau ambil kaos kaki, Mas. Ambilnya hati-hati, " ujar Hulya mengingatkan.

__ADS_1


" Iya, Sayang. Makasih ya, " ujar Fahmi kemudian mengecup pipi Hulya sambil tersenyum


"Dari sebelumnya Jihan belum lahir kamu iya iya terus sama apa yang aku bilang, Mas. Astagfirullah, ini Jihan udah gede, sikapmu masih ada sama."


"Hehe, besok nggak lagi kok."


"Iya, besok bilang lagi nggak lagi dan begitu seterusnya. Tahu ah, bikin kessel aja." Fahmi cengengesan sambil garuk-garuk kepala mendengar omelan sang istri.


"Jangan kessel gitu, nanti cantiknya nambah lho. Nanti aku jatuh cinta lagi, cintaku sama kamu sudah besar, jangan tambah besar lagi, takutnya aku semakin nggak sanggup hidup tanpa kamu." goda nya yang justru membuat Hulya merona.


Kelemahan wanita ada di telinganya, ia tak bisa mendengar sedikit pujian atau ungkapan cinta, karena itu pasti akan langsung menyentuh hatinya .


***


Lahore, Pakistan.


Aira bangun lebih pagi dari biasanya karena hari pagi ini orang tuanya akan sampai.


Aira ingin memasak untuk mereka namun Arsyad yang juga bangun justru melarangnya.


"Kenapa, Mas?" Tanya Aira kecewa.


"Nanti kamu capek, Sayang. Ummi sama abi juga pasti nggak mau kamu capek, jadi lebih baik biar bi Sri aja yang masak," tukas Arsyad.


"Ya Allah, ini baru anak pertama, aku sudah merasa sangat kesulitan," keluh Aira.


Arsyad mendorong kursi roda nya, mendekati Aira. "Sabar, semoga Allah memberikan hadiah yang luar biasa atas kesabaranmu dalam mengandung," ucap Arsyad.


"Aamiin ya Allah," Balas Aira.


"Oh ya, kamu sudah menyiapkan nama untuk anak kita?" Tanya Arsyad kemudian dan Aira menggeleng. "Sama sekali?" Tanya Arsyad, kedua alisnya terangkat, lagi-lagi Aira menggeleng.


"Jika laki-laki, bagaimana kalau namanya Ali Zubair Ibrahim?" saran Arsyad.


"Masyaallah, Ali Zubair Ibrahim?" tanya Arsyad yang tampak begitu takjub dengan nama pilihan Arsyad.


"Iya, Sayang. Bagaimana menurutmu? Atau kamu punya saran nama yang lain?"


Aira terdiam, mencerna makna dari 3 nama pilihan Arsyad. Ali, sahabat Nabi yang mulia, menantu tersayang, sekaligus sauadara sepupu tercinta. Kecerdasan dan keberaniannya tak ada yang mempertanyakan. Zubair, sahabat Nabi yang sangat mulia, pembarani juga kaya raya, dan nama terakhir yang Arsyad pilih adalah nama keluarganya, dimana itu juga nama Nabi yang bahkan mendapatkan julukan khalilullah (Kekasih Allah)


Aira teringat dengan mimpinya sejak ia remaja, salah satu pria idamannya adalah yang memiliki sifat seperti Ali R.A.


"Aku suka, Mas. Semoga anak kita juga memiliki sifat-sifat seperti pemilik nama itu."

__ADS_1


"Aamiin ya Allah, kalau anak kita perempuan?" Tanya Arsyad. Lagi-lagi Aira menggelengkan kepala, tanda ia benar-benar tak memikirkan nama anaknya kelak. "Kamu belum fikirkan juga?" Pekik Arsyad.


"Aku bingung mau kasih nama siapa, Mas," jawab Aira sambil tersenyum tipis.


"Aku juga belum tahu kalau anaknya perempuan mau di kasih nama siapa, nanti kita fikirkan bareng-bareng deh," Balas Arsyad dan Aira mengangguk setuju.


"Fikirkan dua nama laki-laki dan dua nama perempuan ya, Mas," kata Aira yang seketika membuat raut wajah Arsyad langsung berubah, ia tahu apa yang di maksud Aira. Aira pasti menyinggungnya bahwa Arsyad sedang menunggu dua anak.


Suasana menjadi sedikit canggung dan Aira merutuki dirinya sendiri yang entah kenapa selalu memancing ke arah yang ia sendiri tak suka.


"Sayang, aku..."


"Assalamualaikum..." ucapan Arsyad terhenti saat mendengar suara dari luar.


"Itu pasti Om Sahir, mugkin dia mau berangkat untuk jemput Abi," kata Aira sembari beranjak dari duduknya.


Arsyad mengikuti Aira yang membuka pintu, dan dugaan Aira memang benar. "Waalaikum salam, Om. Mau jemput Abi?" tanya Aira.


"Iya, Ai. Ada yang mau ikut?" tanya Om Sahir.


"Via masih tidur, Om. Padahal dia bilang mau ikut jemput kakek Nenek nya," jawab Aira.


"Kamu nggak mau ikut, Ai?"


"Nggak, Om."


"Ya udah, kalau gitu Om berangkat dulu."


"Iya, Om. Hati-hati..."


Aira memperhatikan Om Sahir yang kini kembali masuk ke dalam mobil. Tak berselang lama, mobil yang lain datang dan itu Javeed yang pasti baru datang dari pasar seperti biasa.


Javeed turun dari mobilnya kemudian ia menghampiri Arsyad dan Aira." Belikan nasi kuning lagi?" Tanya Arsyad.


"Bukan, aku beli samosa untuk Via karena dia suka ini," ujar Javeed sembari memberikan satu kreset yang berisi samosa, Aira sudah hendak mengambilnya namun Arsyad mendahuluinya.


"Ck..." Javeed berdecak kesal. "Aghr mujhe mauka mila tu, main wada karta houn ky ap ki Biwi le longa aur apni bana loun ga. Dekh lena. (Kalau aku punya kesempatan, aku janji akan merebut istrimu itu, liat aja nanti)" Ucapnya yang berfikir Arsyad dan Aira takkan mengerti ucapannya namun nyatanya tak seperti itu karena tiba-tiba Arsyad berkata...


"Mujhe pata hai ap ne kia bola, khayal sy chotey larky. Meri Biwi sirf meri hai, ab, aur hamesha rahey gi? (Aku tahu apa yang kamu bicarakan, hati-hati, bocah! Istriku milikku, sekarang dan selamanya)"


Javeed melongo, tak percaya Arsyad bisa berbahasa Urdu dengan sangat lancar. Sementara Aira hanya bisa menahan senyum, karena ia tahu Arsyad bisa bahasa Urdu sejak dulu.


Tbc...

__ADS_1



__ADS_2