Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #132 - Memulai Cinta Yang Baru


__ADS_3

"Maafin aku, ya. Seharusnya aku nggak biarin kamu ikut." Arsyad berkata dengan begitu cemas sambil mengompres Aira yang kini panasnya semakin tinggi. Istrinya itu bahkan menggigil padahal Arsyad sudah menyelimuti nya dengan selimut tebal.


Tangan Arsyad gemetar saat mengompres Aira dan itu membuat Aira tersenyum samar, ternyata suaminya tak juga berubah. Sejak dulu, dia begitu cemas dan panik jika Aira sakit.


"Aduh, Mas. Sakit kepalaku..." rengek Aira kemudian sambil meringis seolah sangat kesakitan, padahal ia hanya sedikit pusing dan lemas.


"Sabar ya, aku sudah panggil dokter kok," kata Arsyad sembari memijit pelipis Aira dengan begitu lembut. "Bissmillah, sembuhkan istriku ya Allah." Arsyad berdoa dengan begitu tulus dan serius.


Sejak kembali dari Bandung, kesehatan Aira semakin buruk, dan tak henti-hentinya Arsyad menyalahkan dirinya sendiri. Sementara Aira justru mengambil kesempatan itu untuk bermanja-manjaan pada Arsyad. Dan jujur saja, dulu Aira tak genit dan tak manja pada sang suami. Namun sekarang ia berubah 180 derajat. Aira sering merengek manja bahkan ia menjadi genit pada suaminya.


"Dingin banget, Mas. Mau peluk..." rengeknya dengan begitu manja. Tanpa berfikir panjang, Arsyad langsung masuk ke dalam selimut dan memeluk Aira dengan erat. Menyalurkan kehangatan tubuhnya ke tubuh sang istri yang memang menggigil.


Sementara di luar, baby Ali justru sedang di kerumuni oleh Tanvir dan Via. Kedua anak itu tahu bahwa ibu dari adek mereka sedang sakit, alhasil mereka bersedia menjaga baby Ali padahal tadinya mereka mau main bersama anak tetangga.


Ummi Firda memasang karpet lembut tepat di tengah ruangan, sehingga cucu-cucunya bisa bermain dengan nyaman disana.


"Adik bayi lucu sekali, jadi gemas ih..." Via mencolek hidung baby Tanvir dengan gemas.


"Kamu juga lucu, jadi gemas," kata Tanvir pada Via, bahkan ia juga mencolek pipi Via dengan gemas.


"Tapi Via bukan bayi, Kak," ujar Via cemberut.


"Hey, anak bayi..." kedua anak itu menoleh saat mendengar suara bass Om mereka. "Anak bayi sedang menemani bayi, hm." Jibril duduk di samping Tanvir dan Via.


"Siapa yang anak bayi? Tanvir sudah besar, Om. Bukan bayi lagi," sanggah Tanvir tak terima. Jibril hanya mengedikan bahu, kemudian ia menggendong baby Ali dan menciumnya dengan gemas beberapa kali.


"Om suka adik bayi?" Tanya Tanvir dan Jibril hanya mengangguk. "Kalau begitu Om bikin dong adik bayi..." pupil mata Tanvir langsung melebar mendengar apa yang baru saja di katakan bocah kecil itu.


"Belum ada pasangan produksinya," jawab Jibril akhirnya.

__ADS_1


"Makanya di cari..." seru Zenwa yang kini datang bergabung dengan mereka sembari membawa beberapa cemilan untuk anak-anak itu.


"Bingung mau di cari dimana, Mbak." jawaban yang sama selalu di berikan oleh Jibril jika di singgung tentang pasangan.


"Iya sih, nggak mungkin kamu cari di pasar, di mall, atau di tempat lain, tapi itu mata kamu masih berfungsi dengan baik, 'kan? Masak nggak pernah lihat wanita, terus kemudian muncul dalam benak kamu 'oh, sepertinya wanita ini cocok menjadi istriku'. Iya,' kan? Pernah nggak?" Jibril terdiam sejenak, sembari mengingat-ngingat pernahkah ia bertemu dengan wanita yang membuat ia berfikir, mungkinkah wanita itu bisa di jadikannya istri?


Setelah berfikir selama beberapa menit, mengorek-ngorek Ingatannya, akhirnya Jibril punya jawaban. "Ah... Yang itu, Mbak...."


"Ada, 'kan?" Tanya Zenwa tak sabar ingin tahu jawaban Jibril.


"Nggak ada," jawab Jibril singkat dan serius yang membuat Zenwa menghela napas lesu, apalagi melihat raut wajah Jibril yang seolah tak punya ekspresi.


"Jay, yang ikut kajian kamu itu banyak gadis-gadis muda lho" tukas Zenwa dengan gema.


"Kayaknya sih iya, Mbak. Kalau ada mengajukan pertanyaan kayanya ada suara gadis muda." Zenwa melongo mendengar ucapan Jibril.


"Kayaknya?" tanya Zenwa dengan kedua alis yang terangkat dan Jibril mengangguk. "Emangnya kamu nggak pernah perhatikan siapa saja jemaah kajian kamu itu?" Tanya Zenwa penasaran dan Jibril menggeleng.


Tak berselang lama Micheal datang bersama seorang dokter untuk memeriksa Aira. "Padahal cuma demam, sampai di panggilkan dokter," gumam Zenwa.


"Maklum mbak, suami dan kakaknya Aira itu sedikit berlebihan," kata Jibril.


"Jangan bilang gitu, nanti kalau kamu punya istri, bisa lebih berlebihan dari mereka," tukas Zenwa sambil terkekeh. "Eh, tapi rasanya nggak mungkin sih, nyapa cewek aja kamu nggak pernah, apalagi merhatiin." Jibril hanya mengulum senyum mendengar ocehan kakak iparnya itu dam itu bukan hal baru, semua anggota keluarganya sering mengucapkan hal yang sama.


Micheal mengetuk pintu kamar Aira dan tak berselang lama pintu terbuka. "Syukurlah kau sudah datang, Dok. Panasnya Aira cukup tinggi," ujar Arsyad.


"Sudah di kompres belum?" tanya Micheal dan Arsyad hanya menjawab dengan anggukan. "Masak?" tanya Jibril ingin memastikan yang membuat Arsyad mendengus dan ia enggan menanggapi kakak iparnya itu.


Dokter memeriksa keadaan Aira kemudian berkata, "Cuma demam biasa, nanti aku resepkan obat penurun panas. Kalau dalam tiga hari masih demam, sebaiknya di bawa ke rumah sakit."

__ADS_1


"Dok, istriku sedang menyusui. Tolong berikan resep obat yang paling bagus dan aman," ujar Arsyad.


"Seluruh warga desa sudah tahu kalau Ning Aira sedang menyusui, jangan khawatir, aku akan meresepkan obat yang aman," kekeh dokter yang membuat Arsyad tersenyum malu. "Aku hadir saat Ning Aira mengadakan syukuran kehamilannya." lanjutnya yang membuat senyum Arsyad langsung musnah dan raut wajahnya langsung berubah karena justri ia lah yang tak hadir dalam acara itu.


Aira yang menyadari raut wajah sang suami langsung menarik tangannya dan menggenggamnya, ia melemparkan senyum lembutnya yang langsung membuat Arsyad kembali tersenyum.


"Biar aku beli obatnya sekalian mengantar dokter, kamu jaga Aira," kata Micheal dan Arsyad hanya mengangguk pelan.


"Terima kasih, Dok," ucap Aira.


"Sama-sama, Ning Aira. Semoga cepat sembuh, biar cepat bisa bermain dengan anak-anak. Apalagi tadi aku lihat ada Tanvir, pasti seru main sama dia," kekeh dokter itu sebelum akhirnya ia keluar mengikuti Micheal.


Saat Micheal keluar, ia segera di hampiri Tanvir yang bahkan langsung menabraknya. "Apa?" Tanya Micheal.


"Pa, minta uang lagi dong," kata Tanvir sambil menadahkan tangannya.


"Untuk apa?" Tanya Micheal.


"Mau traktir teman-teman ke warung, mumpung ada di sini," kata Tanvir bak orang dewasa.


Micheal pun memberikan dua lembar uang berwarna merah untuk anaknya, Via yang melihat itu langsung ikutan girang dan segera menghampiri Tanvir. "Kak, Via ikut ya..." pinta nya sambil tersenyum lebar.


"Tidak boleh!" Tegas Tanvir tanpa bisa di bantah dan hal itu berhasil membuat Via cemberut.


"Jangan begitu sama adiknya, Tanvir," tegur Micheal penuh penekanan.


"Tidak boleh, Papa. Via itu perempuan, tidak boleh pergi sama anak laki-laki, di rumah saja. Nanti kaka bawakan jajan ke rumah yang banyak." Tanvir berkata dengan begitu serius sembari memasukan uang jajannya itu ke dalam saku celananya kemudian ia berjalan keluar dari rumah begitu saja.


Via cemberut namun Micheal berhasil membujuk nya dan meyakinkan bahwa Tanvir hanya ingin menjaga Via takutnya ada anak yang nakal di luar sana. "Kak Tanvir itu 'kan kakaknya Via, jadi tugas kakak adalah melindungi adiknya," tukas Michael yang langsung mengembalikan senyum Via.

__ADS_1


"Oh begitu, iya deh, Om," ujarnya sumringah.


Sementara di dalam kamarnya, Arsyad kembali memeluk Aira, ia membelai kepala istrinya itu dengan lembut. "Jangan memikirkan masa lalu, Mas. Saatnya merajut cinta yang baru," lirih Aira. "Yang lalu sudah lewat, nikmati saja saat ini. Karena yang akan datang pun belum pasti."


__ADS_2