
Hidup hanya sekali, namun perjalanannya panjang seolah tak berujung kecuali pada kematian.
Hidup itu singkat, namun perjalanannya penuh lika-liku dengan berbagai macam batu sandungan.
Hidup itu penuh warna, tak selalu cerah, tak selalu gelap, bahkan ada kalanya hanya abu-abu.
Tak ada yang abadi dalam hidup, tidak senyum, tidak air mata. Tidak kebahagiaan, tidak penderitaan.
Hidup itu tak seperti cerita dalam novel yang katanya, di akhir cerita para pemeran hidup bahagia selamanya.
Karena hidup itu hanyalah perjalanan.
Seperti perjalanan Aira yang tak sebentar ke Pakistan, kenapa Pakistan? Tentu saja jawabannya masih sama, karena Jibril mau kesana.
Setelah menempuh perjalanan yang tak singkat dan tak cepat, kini akhirnya mereka mendarat di Allama Iqbal International Airport, Lahore, Pakistan.
Arkan, Bayu dan Rehan yang merupakan teman-teman Jibril tampak sangat antusias saat mereka turun dari pesawat.
Begitu juga dengan Jibril dan Via, namun tidak dengan Aira yang entah mengapa ia tak bisa tenang sejak meninggalkan Indonesia. Seolah ada sesuatu yang tertinggal disana, seolah ada sesuatu yang mengharuskannya tak pergi.
"Kita langsung ke hotel atau jalan-jalan?" Tanya Bayu dengan semangat.
"Aku rasa kita istirahat dulu, aku juga mau mengantar Aira dan Via. Mereka pasti sangat lelah," ujar Jibril sembari menatap Via yang kini tidur di gendongannya.
"Aku sudah menyusun rencana kita selama kita disini, lihat!" sambung Arkan sembari menjukan kertas yang di penuhi dengan catatan kegiatan mereka. "Oh ya, apa nanti Aira akan ikut kita jalan-jalan dan mengkesplor Negara Pakistan?"
"Besok kita ke Islamabad, ya." sela Rehan.
"Nggak lah, kita minggu depan kita ke Karachi," sambung Bayu.
"Kita eksplor negara yang menjadi salah satu negara penghasil wanita tercantik di dunia," seru Arkan dengan sangat semangat.
Jibril hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar perdebatan ketiga temannya itu. Mereka datang ke Pakistan memang untuk jalan-jalan namun Jibril tidak tahu apakah ia bisa ikut mereka atau tidak jika harus ke luar kota Lahore, karena Jibril mengkhawatirkan kondisi Aira yang sedang mengandung.
Via menggeliat dalam gendongan Jibril dan tak lama kemudian ia membuka matanya. "Kita sudah sampai, Via," ucap Jibril yang membuat kedua mata Via langsung terbuka lebar, ia langsung menatap ke sekelilingnya.
"Kita dimana, Om?" Tanyanya.
"Masih di bandara, Sayang," jawab Aira.
"Wah, rame sekali disini. Via fikir ini di tempat hiburan, rame," celetuknya. Jibril pun menurunkan Via dan Aira langsung menggandeng tangan Via.
__ADS_1
"Eh itu bukan yang menunggu kita...." Bayu menunjuk seorang pria yang memegang kertas besar dan bertuliskan Jibril Humaira.
Jibril membuka ponselnya dan melihat foto orang yang bernama Sahir. "Iya, itu orangnya," kata Jibril.
Mereka pun mendekati pria paruh baya bernama Sahir itu.
"Assalamualaikum, pak Sahir?" Tanya Bayu dan pria bernama.
"Ji, Haan. Eh, iya..." jawabnya sambil tertawa karena ia menyambut sapaan Bayu dalam bahasa Urdu.
"Pak, jangan pakai bahasa Urdu. Kami nggak ada yang ngerti, kalau nggak mau pakai bahasa Indonesia, pakai bahasa Arab aja," celetuk Rehan.
"Om Sahir bisa bahasa Indonesia kok," sambung Jibril dan Om Sahir pun mengangguk.
"Ayo, mobil ku disana."
)***
Sepanjang perjalanan dari bandara ke rumah yang mereka tuju, Aira selalu diam namun ia menikmati perjalanannya, ia juga mencari tahu tentang kota Lahore di Internet.
Kota Lahore adalah kota kedua terbesar di Pakistan setelah kota Karachi, dan harus Aira akui, Aira juga mencari tahu tentang sejarah kota Lahore yang ternyata pernah menjadi ibu kota di masa kejayaan Dinasti Mughal. Salah satu warisan dinasti Mughal yang sangat bersejarah adalah masjid Badashi, yang di bangun oleh Raja keenam dari dinasti Mughal itu aurangzeb Alamgir.
Juga ada benteng Lahore dan taman Shalimar, Aira tersenyum saat melihat keindahan taman Shalimar itu.
"Kalau nikah disini, kayaknya harus ada uang banyak ya, pestanya besar, terus ada tari-menari seperti di film-film." celetuk Bayu.
"Wow, apa mereka memakai baju yang pusarnya kelihatan seperti di film-film?" Tanya Rehan antusias.
"Ini Pakistan, bukan India. Culture kami mirip tapi beda," kata Sahir. "Nanti malam tetanggaku mengadakan pesta pernikahan, kalian datang tapi jangan bikin rusuh, kalau kalian mau tahu adat pernikahan disini."
"Dek, kamu mau ikut?" Tanya Jibril.
"Apa kata nanti malam, Kak. Kayaknya aku lelah banget," jawab Aira dan Jibril pun mengangguk.
Hotel yang akan di tempati teman-teman Jibril tak jauh dari rumah yang akan di tinggali Aira. Sahir menurunkan mereka bertiga disana dan ketiga pria bujangan itu tampak sangat senang saat memasuki hotel.
"Itu lebih baik," kata Sahir tiba-tiba.
"Apanya?" Tanya Jibril.
"Di Pakistan, tidak baik satu wanita tinggal bersama beberapa orang pria apalagi yang bukan keluarganya."
__ADS_1
"Di Indonesia juga, Om," sambung Aira. "Dimana pun tempatnya, seorang wanita muslimah tidak baik tinggal bersama pria yang bukan mahramnya." Om Sahir melirik Aira dari spion sambil tersenyum.
Tak lama kemudian mereka sampai di rumah yang akan mereka tempati. "Rumahku tidak jauh dari sini, kalau kalian butuh apa-apa, jangan sungkan datang pada kami. Apalagi ayah kalian menitipkan kalian padaku."
"Terima kasih banyak, Om."
Om Sahir membantu mengangkut barang-barang bawaan Aira ke dalam rumah itu.
"Via suka nggak rumah ini?" Tanya Aira sembari menelusuri rumah itu, tak begitu besar namun terasa nyaman.
"Suka, Ummi." Via menjawab dengan semangat.
Aira memasuki salah satu kamar disana, tak cukup besar, namun ia suka dekorasinya.
Setelah itu, ia pergi ke dapur, kemudian ke halaman belakang. Setelah itu ia kembali ke depan dan Aira melihat ada seorang wanita yang berbincang dengan Jibril.
"Assalamualaikum..." sapa wanita itu pada Aira sambi tersenyum.
"Waalaikum salam." Aira menjawab dengan ramah.
"Aira, dia putri ku, namanya Nida. mungkin kalian bisa menjadi teman, atau kalau kamu mau pergi ke suatu tempat, kamu bisa mengajak Nida."
"Terima kasih," kata Aira.
"Oh ya, bagaimana kalau kalian ke rumahku dulu sekarang? Kalian bisa kenalan dengan keluargaku, sekalian kita makan siang bersama."
"Boleh, Om," jawab Jibril karena ia memang sedikit lapar.
Mereka pun jalan kaki dari rumah Aira ke rumah Om Sahir yang memang sangat dekat.
Saat di jalan, Aira berpapasan dengan beberapa rombongan wanita yang memakai niqab dan berpakaian serba hitam dan itu membuat Aira merasa aman dan sepertinya berada di lokasi yang tepat.
"Ini rumahku, silakan masuk." Om Sahir mempersilakan Aira dan Jibril masuk namun perhatian Aira justru tertuju pada seorang wanita yang tampaknya marah pada anak laki-lakinya, Aira tidak mengerti apa yang dia katakan namun dari nada bicaranya, sepertinya dia sedang kesal.
"Yaar ap Kahan ja rahey ho mein ap sy bat karna chata houn abhi meri bat khatm nahi howi!"
"Maaf kijey, Ami. mein ja raha houn."
Dan laki-laki itu pergi begitu saja yang membuat Aira geleng-geleng kepala, apalagi saat melihat wanita itu tampak kesal. "Anak nakal!"
TBC..
__ADS_1