
Bukan hal yang mudah untuk mengambil langkah ini, namun Aira yakin ini adalah keputusan yang terbaik untuknya.
Mungkin, keputusan ini lebih condong pada hawa napsu Aira, dan itu manusiawi. Karena tidak ada wanita yang ingin di duakan, tidak ada wanita yang mau berada di bawah bayang-bayang wanita lain, dan tidak ada wanita yang sanggup menjalani rumah tangga yang di setir oleh ibu mertuanya.
Aira menatap Via dan Tanvir yang saat ini sedang main kejar-kejaran, kedua anak itu terlihat sangat bahagia. Bahkan, Tanvir yang dulunya tak menyukai keberadaan Via karena takut kasih sayang Aira terbagi, kini ia terlihat sangat menyayangi Via.
"Hati-hati, Dek!" Teriak Tanvir saat Via hampir saja jatuh.
Mereka sedang berada di taman yang berada di samping halaman rumah Micheal, Aira duduk di ayunan dengan tatapan yang tak sedikitpun terlepas dari anaknya.
"Aku fikir hidupku akan sempurna dengan kehadiran Via, ternyata aku salah. Justru kehadiran Via membuka semua pintu rahasia di rumahku, menunjukan jurang-jurang tersembunyi disana." Aira menggumam sedih, apalagi saat mengingat Via yang mengadu tentang Ummi Ridha yang membicarakannya pada ibu Kinan. Bagaimana bisa ibu mertuanya setega itu padanya?
"Orang bilang...." Aira langsung menoleh saat mendengar suara ayahnya itu, Aira langsung menyunggingkan senyum di bibirnya meskipun ia tak sedang ingin tersenyum. "Orang cantik itu akan hilang cantiknya kalau lagi sedih, tapi Abi rasa itu hanya mitos." Abi Gabriel duduk di depan Aira dan ia menggerakkan ayunan itu.
"Buktinya? Kamu tetap cantik saat sedih, cemberut, atau bahkan menangis. Tapi akan lebih cantik lagi, kalau kamu tersenyum dan tertawa. Kamu sangat cantik, seperti bulan purnama."
Senyum Aira mengembang lebar dan itu bukan lagi senyum palsu. "Abi pintar memuji orang, pantas saja Ummi tergila-gila sama Abi," ujar Aira sambil terkekeh.
"Iya dong, menaklukan Ummi itu seperti menaklukan seribu musuh di medan perang," tukas Abi Gabriel dan seketika Aira tertawa renyah.
"Ummi benar, Abi sangat berlebihan," ucap Aira.
"Abi berlebihan dalam menjaga kebahagiaan kalian," balas Abi Gabriel.
Ia menatap putrinya itu yang kini kembali tersenyum lebar, dimana senyumnya adalah kebahagiaan yang sangat besar untuknya. Apakah ia berlebihan seperti yang di katakan Aira? Abi Gabriel tentu saja tidak perduli, yang ia perduli hanyalah kebahagiaan anak-anaknya.
"Setelah ini, aku ingin kembali ke desa," kata Aira dan wajahnya kembali murung.
__ADS_1
"Tentu saja, Sayang. Kita akan tinggal bersama, Via pasti suka di desa." Abi Gabriel pindah ke sisi Aira dan ia merangkul Aira dengan lembut. "Apapun yang terjadi, itu tidak akan mengurangi nikmat yang Allah berikan untukmu, Humaira. Jika ini ujian, mungkin Allah ingin menaikkan derajatmu. Jika ini teguran, maka sesungguhnya Allah menegur hamba-Nya karena Dia sangat sayang pada hamba-Nya."
Hati Aira terasa lebih damai mendengar apa yang di ucapkan oleh ayahnya itu. Ia pun menyenderkan kepalanya di pundak sang ayah, yang selalu menjadi tempat sandaran yang sangat nyaman.
"Terkadang aku berfikir, dosa apa yang telah aku lakukan hingga Allah memberikan cobaan yang luar biasa berat seperti ini, Abi? Aku seprti tidak sanggup menahannya, aku seperti...." napas Aira terasa berat, matanya kembali terasa panas. "Aku seperti tercekik, Abi. Dan dadaku sesak sekali, seperti terhimpit ribuan batu. Perih sekali, seolah seseorang menyayatnya dengan kejam. Mahligai cinta yang aku dan suamiku jaga selama ini runtuh dalam sekejap dan itu sangat menyakitkan. Sampai kapan, Bi? Sampaikan sesak dan perih ini ada?"
Hatinya sebagai seorang ayah seperti di cabik-cabik mendengar penuturan penuh luka sang putri, dan Daddy Gabriel merutuki dirinya sendiri karena ia tak bisa melakukan apapun untuk meredakan rasa sakit sang putri, bahkan walau hanya sedikit saja.
Yang bisa ia lakukan hanya mendekapnya dengan hangat seperti ini. "Percayalah, Zeda Humaira. Mahligai cintamu akan selalu berdiri kokoh, indah dan sempurna, dengan atau tanpa Arsyad." air mata Aira kembali mengalir begitu saja di pipinya namun sang ayah segera menyekanya. "Mungkin sekarang kamu berfikir ini adalah kutukan, tapi siapa tahu? Mungkin di balik ini ada anugerah yang menantimu. Kami percaya itu, Sayang. Dan kamu pun harus percaya."
Abi Gabriel membelai kepala Aira dengan lembut, mengecup pucuk kepalanya penuh kasih sayang, memberi tahu Aira bahwa ia ada di sisinya, selalu.
....
Arsyad duduk melamun di ruang kerjanya sembari memandangi cincin pernikahannya, melepas Aira? Itu adalah mimpi terburuk dalam hidupnya.
"Ikhlaskan saja...." Arsyad terlonjak saat mendengar suara Fahmi yang entah sejak kapan sudah berada di depannya. "Aku nggak tega sama kalian berdua, apa ini seperti kisah romeo dan juliet?" kekeh Fahmi namun Arsyad tetap memasang wajah tegangnya.
Arsyad tak menanggapi ucapan Fahmi, ia justru beranjak dari kursinya, memakai jasnya kemudian melenggang pergi begitu saja seperti linglung.
Fahmi hanya bisa menatap penuh prihatin pada Arsyad." Memang sulit berada di antara dua ratu, Arsyad. Semoga Allah memudahkan jalanmu dan Aira. Karena sungguh, kalian berdua adalah orang-orang yang baik."
...
Arsyad pulang ke rumahnya meskipun hari masih siang, ia sungguh tak bersemangat bekerja atau melakukan apapun.
Sesampainya di rumah, Arsyad harus di buat kesal saat melihat Anggun disana." Kamu ngapain disini?" Geram Arsyad.
__ADS_1
"Kenapa? Aku ada di rumah suamiku," kata Anggun yang membuat Arsyad tersenyum kecut.
"Benar," gumamnya kemudian ia berjalan melewati Anggun, namun Anggun mengejar Arsyad dan menarik tangannya.
"Sampai kapan kamu mau mengabaikan aku seperti ini, Mas?" Tanya Anggun kesal.
"Entahlah," jawab Arsyad malas yang membuat Anggun semakin kesal.
"Mulai sekarang aku akan tinggal disini, toh Aira tidak akan kembali," ujarnya kemudian yang membuat Arsyad tersenyum miring.
"Dimana kata-kata kamu dulu? Yang katanya tidak akan menuntut apapun dariku, hm?" Desis Arsyad. "Dimana kata-kata kamu dulu yang katanya mau menghormati Aira?"
"Kapan aku tidak pernah menghormatinya?" Balas Anggun. "Aku tidak ingin menuntut apapun dari kamu, tapi aku harap kamu jangan lepas tanggung jawab dari bayi yang aku kandung."
"Aku tahu, karena itulah, aku akan...."
"Arsyad..." seru Ummi Ridha memotong ucapan Arsyad. "Kamu bisa nggak berbicara dengan sedikit lembut pada Anggun?" tanya ibunya, Arsyad hanya menghela napas frustasi.
"Kamu bisa bersikap lembut pada Aira kenapa nggak sama Anggun? Ummi mau, kamu hormati Anggun seperti kamu menghormati Aira. Ummi nggak maksa kamu mencintai Anggun, cukup jadi suami yang baik untuknya."
"Bagaiamana bisa?" tanya Arsyad. "Aku sudah gagal menjadi seorang suami, sangat gagal. Rumah tanggaku di ambang kehancuran Ummi dan itu semua karena Ummi...."
Plakkkkkk
Kedua mata Arsyad langsung terbuka lebar dan ia menahan napas saat merasakan tamparan sang ibu untuk pertama kalinya. Pipinya terasa panas dan sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit.
Anggun pun sangat terkejut melihat Ummi Ridha yang menampar Arsyad dengan sangat keras.
__ADS_1
"Begini caramu berbicara pada ibu yang sudah melahirkan dan merawatmu, huh? Berteriak?" Ummi Ridha mendesis tajam. "Ummi tidak mengharapkan apapun dari kamu selain sedikit saja bakti kamu pada Ummi, Arsyad!"
Arsyad tersenyum miring mendengar uapan sang ibu, dengan penuh kecewa ia berkata, "Baik. Jika menikahi Anggun adalah bentuk bakti yang Ummi mau! Baik, jika bentuk bakti yang Ummi mau adalah menceraikan Aira, baik! Apa Ummi bahagia sekarang? Memiliki anak yang sangat berbakti? Semoga Ummi selalu bahagia karena sesungguhnya aku sangat mencintaimu, Ummu. Akan aku korbankan apapun untukmu, berbahagialah!"