
Arsyad meletakkan bunga di atas makam sang ibu, kali ini ia lebih tegar, tak lagi membiarkan air mata mengalir dan tak lagi membiarkan rasa sakit mendera hatinya. Bahkan, kini ia bersyukur karena Tuhan tak mengambil nyawanya atau dua anak yang bahkan belum lahir akan menjadi yatim piatu. Kini tujuan Arsyad hanya satu, memperjuangkan Aira dan bertanggung jawab pada anak-anaknya.
Setelah memohon dan terus memohon pada Dokter Satyo dan Dokter Patrick, kini akhirnya Arsyad di izinkan keluar dari rumah sakit untuk berziarah ke makam Ummi Ridha, Arsyad yang mengalami patah tulang masih harus berada di kursi roda.
Arsyad berziarah dengan di temani oleh Dokter Patrick karena ia harus memastikan keadaan Arsyad baik-baik saja, dan Micheal yang merasa kasihan pada Arsyad pun ikut menemani Arsyad.
Keberadaan Micheal di sisi Arsyad membuat Dokter Patrick mengira bahwa Arsyad masih suami Aira.
"Maafin aku jika aku belum bisa membahagiakan Ummi selama ini," ucap Arsyad lirih, ia sedikit membungkuk agar bisa menyentuh nisan yang bertuliskan nama ibunya itu. "Maaf karena..." Arsyad menarik napas panjang, mencoba menenangkan hatinya yang kembali bergemuruh. "Maaf karena aku nggak bisa mengantar Ummi pulang." napas Arsyad tercekat di tenggorokannya dan ia sedikit tenang saat Micheal memeluk pundaknya, seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja.
Setelah selesai berdoa, Dokter Patrick mengajak Arsyad kembali ke rumah sakit. Selama dalam perjalanan, ketiga pria itu diam saja, seolah sibuk dengan pemikiran masing-masing.
Arsyad yang tak bisa bergerak banyak hanya duduk dan menatap keluar dengan tatapan kosong, begitu juga dengan Micheal, ia membuang Pandangannya keluar. Kini mereka seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar.
"Kenapa Aira nggak pulang, Micheal? Suaminya 'kan lagi sakit," kata Dokter Patrick sembari melirik Arsyad dari kaca spion.
"Dia..."
"Aku yang akan kesana," sela Arsyad memotong ucapan Micheal.
"Ya, mungkin 3 bulan lagi kamu bisa kesana," kata Dokter Patrick.
"Nggak bisa, 3 bulan lagi Aira pasti akan melahirkan. Aku ingin secepatnya kesana," ujar Arsyad penuh tekad.
"Oh begitu..." gumam Dokter Patrick. "Kalau begitu kita harus bekerja untuk menyembuhkanmu."
🌱
Sementara di desa Firda, Ummi Firda kini sedang berbicara dengan Aira dan Aira menceritakan tentang Javeed. Tentu saja Ummi Firda terkejut dan ia meminta Aira menjaga jarak demi menjaga nama baik Aira, juga untuk menghindari fitnah yang mungkin terjadi.
"Kamu itu masih dalam masa iddah, Nak. Seharusnya kamu memanga nggak keluyuran apalagi sampai ke luar negeri, kamu harus pandai jaga diri."
"Iya, Ummi. Aku benar-benar nggak sadar sudah melewati garis batas, Ummi. Aku benar-benar cemas sekarang, aku takut apa yang di katakan Nida itu benar."
"Kamu bicara baik-baik pada pria itu, ciptakan kembali garis batas itu tapi ingat, jangan sampai membuat orang tersinggung, apalagi kamu ada di negara asing, bersama orang-orang asing. Kamu harus benar-benar bisa menjaga diri."
__ADS_1
"Iya, Ummi. Insyaallah, Ummi doakan aku, ya."
"Selalu, Nak. Seorang ibu itu akan selalu mendoakan anaknya, tidak perlu di minta. Oh ya, jangan lupa check kandunganmu ya, jaga kesehatanmu."
"Inysaallah, Ummi," jawab Aira. "Ummi, apa Abi membicarakan sesuatu?" Tanya Aira kemudian.
"Tentang apa?" Ummi Firda justru balik bertanya.
"Mas Arsyad..." terdengar suara lirih Aira dari seberang telfon.
"Kata Dokter Patrick Arsyad mengalami patah tulang yang cukup parah di kedua kakinya, dia juga mengalami cidera di kepalanya."
"Ya Allah," gumam Aira.
"Dan perempuan itu, kata Hulya dia sudah pergi."
"Anggun? Pergi kemana?"
"Ummi nggak tahu, tapi kata Hulya, mereka sekeluarga nggak ada yang datang lagi ke rumah sakit setelah Arsyad sadar."
^^^Lahore, Pakistan.^^^
Aira menatap pantaulan dirinya di cermin, ia memegang perutnya yang semakin hari semakin besar.
Aira teringat dengan apa yang di katakan ibunya. Anggun pergi? Kenapa? Kemana? Padahal selama ini Anggun melakukan segala hal untuk bisa bersama Arsyad.
"Itu bukan urusanmu, Ai...."Aira berseru pada dirinya sendiri.
Ia baru saja selesai berbicara dengan ibunya di telfon, dan Aira bisa tenang karena tahu semakin hari kondisi Arsyad semakin membaik.
"Via...." panggil Aira saat ia mendengar suara seseorang di depan.
"Via..." panggil Aira lebih lantang, ia segera mengambil cadarnya dan Aira terkejut melihat pintu yang terbuka lebar.
Aira kembali berteriak memanggil Via namun anak itu tidak menyahut. Aira panik, ia mencari ke rumah Nida namun Via tak ada disana.
__ADS_1
"Mungkin sama Javeed, Ai," kata ibunya Nida.
"Tapi nggak biasanya Javeed bawa Via tanpa izin, Tante," ucap Aira cemas..
"Jangan cemas dulu, Kak. Biar aku telfon Javeed," jawab sambung Nida. Ia segera mengambil ponselnya namun saat menghubungi Javeed, a tak mendapatkan jawaban.
"Nggak di jawab," ucap Nida.
"Ya Allah," cemas Aira.
Ibunya Nida pun mengajak Aira mencari Via di sekitar rumah mereka. Ia juga meyakinkan Aira bahwa Via akan baik-baik saja, tak mungkin ia di culik apalagi daerah tempat mereka tinggal itu sangat aman.
Dan saat Aira hendak keluar dari komplek itu, Aira melihat Javeed datang dengan Via di gendongannya. Di satu sisi Aira lega karena Via bersama Javeed namun di sisi lain Aira kesal karena Javeed membawa Via tanpa seizinnya.
"Ummi, mau kemana?" Tanya Via dengan polosnya, ia bahkan seolah tak melihat kecemasan yang Aira tunjukkan lewat tatapannya.
"Via! Siapa yang mengizinkan kamu keluar?" Tanya Aira, ia segera merenggut Via dari gendongan Javeed, membuat Javeed sedikit bingung, apalagi akhir-akhir Aira menunujukan sikap dingin padanya.
"Aira, jangan marahin Via. Tadi aku yang ajak dia," ucap Javeed.
"Kamu juga! Kamu nggak berhak bawa Via gitu aja, tanpa izin dari aku. Kamu tahu nggak aku panik, aku cemas!" seru Aira sedikit emosi yang membuat Via takut. Sementara Javeed tercengang, meski selama ini Aira bersikap cuek padanya namun baru kali ini Aira tampak emosi.
"Okay, aku minta maaf," ujar Javeed kemudian, ia berusaha mengerti Aira. Seorang anak yang tiba-tiba tak ada di rumah, tentu saja membuat ibu mana pun menjadi cemas. "Tapi jangab marahin Via, please. Dia takut tuh," ucap Javeed, Aira langsung menatap Via yang memang menampilkan raut wajah takutnya.
"Maaf, Ummi..." lirih Via dengan bibir bergetar.
"Astagfirullah...." gumam Aira mencoba menenangkan hatinya. "Aku cemas tadi," kata Aira.
"Lain kali izin dulu, Javeed. Apalagi Aira dan Via cuma tinggal berdua, mereka pasti takut sebenarnya," sambung Ibunya Nida.
Javeed menatap Aira dengan tatapan rasa bersalah. Alasan Javeed tak meminta izin pada Aira karena Javeed tahu, Aira takkan mengizinkan Via pergi berdua bersamanya.
Selama ini jika Via pergi, maka Aira pun pergi. Namun akhir-akhir ini Aira selalu di rumah dan ia seolah menghindari Javeed.
"Sebenarnya kamu ada masalah apa sih sama aku?" Tanya Javeed akhirnya. "Akhir-akhir ini kamu kayak batasin jarak sama aku."
__ADS_1
TBC...