Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #101 - Mencari Jawaban


__ADS_3

Setelah Arsyad mengungkapkan isi hatinya, Aira merasakan sesuatu yang tak biasa, seolah satu beban dari pundaknya terangkat, seolah ada satu sumbatan di hatinya yang terlepas.


Namun, tak semudah itu hatinya melupakan apa yang terjadi sehingga sampai detik ini, Aira tak menanggapi ucapan Arsyad di hari itu.


Saat ini Aira sedang berada di kamarnya, ia video call dengan kedua kakaknya dan itu membuat kedua kakaknya sedikit bingung karena untuk pertama kalinya, Aira ingin berbicara hanya dengan mereka berdua, tanpa di dengar oleh siapapun.


"Kaka jadi penasaran, kamu mau bicara apa sih, Dek? Mau goisipin apa sampai nggak boleh ada yang dengar?" Tanya Micheal penasaran.


"Iya, Ai. Tumben, ini pertama kalinya kita membicarakan hal serius dan cuma bertiga begini," sambung Jibril .


"Pertama kalinya apaan? Waktu kecil kita sering bicara rahasia begini, tapi sekarang masalahnya aku sudah punya Zenwa, kalau aku telfonan sembunyi-sembunyi begini, bisa curiga dia," sahut Micheal yang membuat Aira terkekeh.


"Sebenarnya aku mau tanya sesuatu sama kalian," tanya Aira dan seketika kedua kakaknya itu langsung memasang wajah seriusnya.


"Mau tanya apa, Ai?" Tanya Jibril.


"Kamu ada masalah lagi, Dek? Sama bocah itu? Usir aja dari rumah," seru Micheal.


"Bukan, Kak," tegas Aira. "Aku cuma mau tanya, kalau misalnya kalian ada di posisi mas Arsyad, apa yang akan kalian lakukan?"


Seketika raut wajah Jibril dan Micheal langsung kaku, bahkan kedua pria itu hanya bisa menelan lidahnya tanpa bisa langsung menjawab pertanyaan Aira. tapi  Aira pun memperhatikan dengan seksama wajah keduanya kakaknya itu." Kenapa kalian diam aja?" tanya Aira setelah beberapa saat masih tak ada jawaban dari Jibril dan Micheal.


"Kenapa kamu tanya gitu, Ai?" Jibril justru balik bertanya.

__ADS_1


"Iya, Dek. Ibu kita kan nggak sepertinya ibunya Arsyad, dan semoga nggak akan pernah seperti itu," lirih Micheal.


"Aku tahu, aku cuma tanya karena kalian sesama seorang anak laki-laki," ujar Aira, ia kembali mengingat ungkapan hati Arsyad yang tampakbya begitu berat. "Karena aku tahu berada di posisi Arsyad itu nggak mudah, Kak. Aku faham itu, cuma meskipun aku faham, masih ada bagian ego dalam diriku seolah ingin menyalahkan dan menyalahkan padahal hatiku masih mencintainya," lirih Aira. "Aku jadi bingung sendiri sekarang, tetap pada egoku atau menyingkirkannya."


Benar, ia faham, ia tahu betul tak mudah berada di posisi Arsyad. Tapi masih ada bagian dalam diri Aira yang menonjolkan egonya dan enggan menerima pemahaman itu, atau lebih tepatnya, ada bagian di hatinya yang masih terluka dan sakit.


"Aku belum menikah, Dek. Dan aku nggak tahu rasanya berada di antara istri dan ibu, tapi sepertinya itu sangat sulit," jawab Jibril.


"Iya, Dek. Zenwa pernah melontarkan pertanyaan seperti itu, jika seandainya aku di suruh memilih, ibuku atau dia, siapa yang akan aku pilih? Dan sampai detik aku nggak sanggup memilih," sambung Michael.


Kini ketiga saudara itu pun sama-sama diam, apalagi Aira sudah menduga jawaban dari kedua makanya.


***


Jibril menatap mata sang adik yang selalu sendu, namun kali ini tatapan adiknya itu tampak berbeda, seperti lebih hidup dari hari-hari sebelumnya.


Karena Aira dan Micheal tak lagi bersuara, Jibril pun langsung berinisiatif untuk meminta pendapat ibunya, karena Jibril yakin, Ummi Firda akan punya jawaban yang bijak apalagi ia seorang ibu.


Jibril pun turun dari kamarnya dan ia bergegas mencari sang ibu. Ummi Firda saat ini sedang mencuci piring di dapur, Jibril langsung menghampirinya dan menceritakan topik pembicaraannya dengan Aira pada Ummi Firda.


"Kak, kok melanggar janji?" seru Aira yang mendengarkan Jibril berbicara dengan Ummi Firda.


"Dari pada kamu bingung, Ai. Apalagi Ummi juga seorang ibu," kata Jibril.

__ADS_1


Ummi Firda  merasa kasihan pada sang buah hati yang saat ini sedang dilema dalam perasaannya, ia mengambil ponsel Jibril. "Nak..." panggil Ummi Firda, ia menatap wajah Aira.


"Sebenarnya Arsyad nggak salah dalam menuruti keinginan ibunya, Ai. Apalagi Arsyad anak tunggal dan mereka nggak punya siapa-siapa lagi. Ibunya pun sebenarnya nggak salah kalau dia ingin punya keturunan supaya garis keturunannya tidak putus, yang salah adalah dia memaksa Arsyad. Yang salah adalah dia tergesa-gesa, seolah takdir sudah pasti sesuai dengan diagnosa Dokter. Yang salah adalah dia yang memberimu pilihan yang tak pantas, yang salah adalah dia yang tidak bijak dalam keinginannya hingga membuat pernikahan anaknya hancur."


Aira tampak mendengarkan ibunya dengan seksama, begitu juga dengan Jibril dan Micheal. "Arsyad pun sebenarnya nggak salah kalau menikah lagi demi mendapatkan keturunan karena salah satu tujuan pernikahan adalah mendapakan keturunan. Yang salah adalah dia berbohong, yang salah adalah dia nggak jujur tentang diagonosa dokter terhadap kamu. Dia salah karena dia sombong, merasa harus memberikan kebahagiaan yang sempurna buat kamu, nggak mau nyakitin kamu dengan kabar buruk diagonosa dokter, dia lupa bahwa tidak ada kebohongan yang abadi dan saat kebohongan itu terbongkar, maka semuanya sudah hancur lebur. "


Ketiga bersaudara itu masih menjadi pendengar yang baik dan tak sedikitpun mereka memotong atau mengganggu penjelasan Ummi Firda.


"Tapi kenapa kamu tanya begini, Ai? Apa dia masih minta maaf dan mengaku terpaksa atau semacamnya untuk membela diri?" tanya Ummi Firda namun Aira menggeleng.


"Dia bilang dia nggak akan memaksakan hubungan kami lagi, Ummi. Dia bilang dia hanya ingin kesempatan untuk membuktikan cintanya," jawab Aira lirih. "Dan dia juga bilang, jika setelah melahirkan aku masih nggak bisa terima dia, maka dia akan mundur," ucap Aira sambil tersenyum ketir.


"Jadi artinya, dia jauh-jauh pergj ke Pakistan bukan untuk rujuk?" tanya Micheal, Aira hanya mengangguk pelan.


"Padahal gampang kalau dia mau memperistri kamu lagi di masa sekarang ini, tinggal bilang aja mau rujuk," kata Jibril.


"Dia nggak mau hubunyan kami terjalin seperti dulu, Kak. Hanya lewat persetujuan, sekarang dia mau hubungan kami terjalin karena keinginan hati kami masing-masing. Dia kasih aku kesempatan untuk menentukan," tutur Aira.


"Istikharah, Sayang. Minta jawabannya pada Allah," kata Ummi Firda.


Tbc...


__ADS_1


__ADS_2