
"Aku fikir kamu gila, Syad. Kamu menjatuhkan talak pada istrimu yang sedang hamil? Dan sekarang kamu di usir dari rumah. Hidupmu kenapa jadi kacau begini?"Fahmi berkata sambil mengerutkan keningnya dalam, ia hampir tak percaya pada temannya bisa melakukan hal seperti ini.
"Ini konsekuensi yang harus aku terima atas apa yang sudah aku lakukan," kata Arsyad sembari tetap fokus melakukan pekerjaannya, apalagi selama beberapa hari ini ia sering sekali mengabaikan pekerjaan karena ia tak bisa fokus dan sibuk memikirkan masalah hidupnya. "Bertahan pun hanya akan sia-sia, aku akan menyia-nyiakan Anggun, dan aku nggak mau menyia-nyiakan wanita untuk yang kedua kalinya."
Fahmi hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar apa yang di katakan Arsyad, kehidupan yang dulu harmonis, yang bahkan membuat tak sedikit orang yang iri, kini hancur lebur dalam waktu sekejap. Apa ini yang namanya takdir itu misteri?
"Lalu? Kenapa sekarang kamu kelihatan baik-baik aja? Padahal sebelumnya kamu benar-benar rapuh, bahkan melampiaskan semuanya pada rokok dan nyebur ke dalam sungai."
"Aku sudah lelah menangis, Fahmi. Aku juga sudah lelah sedih, rapuh, karena meskipun aku sedih sampai mati pun, itu nggak akan merubah keadaan. Aku nggak bisa menarik Aira kembali ke dalam hidupku, kemudian membangun kembali mahligai cinta kami yang telah terkoyak." Arsyad tersenyum kecut di akhir kalimat, mahligai cintanya sudah terkoyak tanpa ampun dan itu semua sudah terlambat untuk di hentikan.
"Yang bisa aku lakukan sekarang hanya bisa meminimalisir hati yang sakit." Fahmi tersenyum tertahan mendengar ungkapan Arsyad itu dan ia membenarkan apa yang di katakan Arsyad.
Semua yang terjadi telah terjadi, tak dapat di pungkiri bahwa itu telah menjadi masa lalu yang akan selalu di ingat sebagai sebuah sejarah. Baik oleh Arsyad, Aira begitu juga oleh Anggun.
Ketiga orang itu akan selalu ada pada sebuah titik dalam lingkaran, dimana ketiganya bisa saja di pertemukan di waktu yang tak terduga.
"Tapi masih ada Via, bagaimana dengan anak itu?"
"Aku akan tetap menemuinya, di masih putriku dan akan selalu menjadi putriku. Aira juga pasti mengizinkannya."
...----------------...
Sementara di sisi lain, Anggun mencoba tegar dengan apa yang terjadi. Sekarang statusnya memang sudah bukan istri Arsyad lagi, namun ia tetap berharap, suatu hari nanti Arsyad akan luluh padanya. Harapan itu masih ada, selama anak itu terus ada dalam rahimnya hingga ia lahir ke dunia nanti.
Anggun mendatangi Ummi Ridha yang masih enggan keluar dari kamarnya, bahkan ia juga tak sarapan dan itu membuat Anggun merasa cemas. Anggun mengetuk pintu kamar Ummi Ridha beberapa kali.
"Nanti Ummi sakit, Ummi harus makan, ya." Anggun membujuk dengan lembut dan tak berselang lama Ummi Ridha keluar.
__ADS_1
"Apa kamu masak pagi ini?" Tanyanya. Anggun hanya mengangguk sambil menyunggingkan senyum tipis. "Apa Arsyad sudah pulang?" Anggun menggeleng pelan dan itu membuat Ummi Ridha langsung menghela napas berat.
"Ya Allah, anak itu. Apa dia sudah makan?" ia hanya bisa menggumam cemas.
"Mas Arsyad sudah dewasa, Ummi. Dia pasti sudah makan di restaurant kok," ujar Anggun kemudian untuk menenangkan hati Ummi Ridha.
Ummi Ridha hanya mengangguk pelan sebelum akhirnya ia mengikuti Anggun ke meja makan. Hari sudah siang, dan Ummi Ridha memang sudah pusing karena ia tak sarapan.
Semalaman Ummi Ridha juga tak bisa tidur, ia terus memikirkan Arsyad dan setiap kata yang di ucapkan putranya itu. Rasanya masih begitu menyakitkan, dan masih sulit ia percaya bahwa Arsyad tega menceraikan istrinya yang sedang hamil.
...----------------...
"Ummi, Pakistan itu jauh apa dekat?" Via bertanya dengan sangat serius, mata bulatnya itu menatap Aira dengan penasaran yang membuat Aira selalu merasa gemas.
"Jauh, Sayang." Aira menjawab sembari mengikat rambut Via dengan rapi.
"Apa disana ada salju?" Tanya Via lagi.
"Wah, liburannya pasti seru, Ummi. Kita pergi bersama Abi juga, 'kan? Abi pasti suka salju, Abi juga pasti senang." Aira langsung terdiam mendengar ucapan Via yang penuh harap itu.
Aira tidak tahu bagaimana caranya memberi tahu Via bahwa ia dan Arsyad sudah tidak mungkin tinggal bersama apalagi liburan bersama.
Aira tidak tahu, bagaimana caranya ia memberi tahu Via, bahwa Abi dan Ummi nya kini tak lagi memiliki jalan yang sama dan harus fokus pada jalannya masing.
"Nah, rambut Via sudah Ummi ikat, sekarang Via main gih." Aira segera berusaha mengalihkan topik pembicaraan begitu juga dengan perhatian Via, karena ia sungguh tak punya jawaban atas semua keinginan Via. "Tapi ingat! jangan jauh-jauh dari rumah mainnya, jangan rebutan mainan sama teman-temannya ya."
"Baik, Ummi. Via mengerti," jawab Via sambil tersenyum lebar yang membuat hati Aira menghangat.
__ADS_1
Meskipun Via bukan darah dagingnya, bukan ia yang mengandung dan melahirkanya, namun bagi Aira, Via adalah belahan jiwanya, buah hatinya.
Via langsung berlari keluar rumah dan menghampiri anak tetangga yang juga bermain disana.
Sementara itu, Ummi Firda mendatangi Aira di kamarnya dan ia menanyakan kembali keputusan Aira yang ingin ikut Jibril ke Pakistan.
"Ummi khawatir kalau kamu pergi jauh begini, Aira. Apalagi kamu sedang hamil, Ummi takut terjadi sesuatu, Sayang."
"Nggak akan, Ummi. Kan ada Kak Jibril yang akan menjagaku, lagi pula hanya beberapa hari." ucap Aira meyakinkan sang ibu. "Aku mau pergi karena aku harap itu bisa sedikit aja mengurangi rasa sakit yang aku rasakan, Ummi. Tempat baru, suasana baru. Siapa tahu itu bisa sedikit menghiburku." lanjutnya lirih.
Ummi Firda terdiam sejenak, ia menelisik wajah sendu sang putri. "Iya, Ummi faham, Sayang. Cuma kenapa harus Pakistan?"
"Karena Kak Jibril pergi kesana, Ummi. Sekalian aja bareng,'kan."
Ummi Firda menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk.
Sama seperti Ummi Firda yang merasa sangat cemas dengan keadaan Aira, begitu juga yang di alami oleh Daddy Gabriel.
Namun jika memang Aira sangat ingin pergi ke Pakistan dan itu membuat Aira kembali bahagia, maka Abi Gabriel pun akan bahagia dan ia akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuknya.
Abi Gabriel mulai mengurus keberangkatan Aira, Jibril dan si kecil Via yang tampaknya sangat antusias untuk liburan itu.
"Semoga kamu menemukan kebahagiaan yang lain disana, Sayang." Abi Gabriel menggumam sedih dan penuh harap.
Tak lama kemudian Jibril datang menemui sang ayah, ia pun membicarakan tentang keberangkatannya bersama teman-temannya.
"Apa Abi bisa bantu kami supaya semuanya cepat selesai?"
__ADS_1
"Iya, biar Abi yang akan mengurus keberangkatan kalian," jawab ayah nya itu.
TBC...