Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #67 - Terlambat


__ADS_3

Pukulan yang luar biasa berat dan keras untuk Anggun ketika ia di beri kabar bahwa Ummi Ridha telah meninggal, dan saat ia di bebaskan begitu saja karena permintaan Ummi Ridha sebelum meninggal, Anggun merasakan penyesalan dan perasaan bersalah yang begitu luar biasa di hatinya, dua perasaan itu seolah mencekiknya, membuat ia kesulitan bernapas.


Anggun menangis tiada henti, meratapi nasibnya yang benar-benar menjadi racun dalam keluarga Arsyad. Anggun menyayangi Ummi Ridha, ia menghormatinya namun keadaan membuat ia benar-benar menjadi seperti monster sekarang dan ia tak bisa melakukan apapun untuk memperbaiki keadaan. Sekarang yang ada hanya penyesalan dan penyesalan.


Sementara itu, Firda pun sangat terkejut setelah ia mendapatkan kabar dari Hulya bahwa mantan besannya telah meninggal dunia karena serangan jantung. Ummi Firda langsung berlari mencari suaminya di halaman belakang rumah untuk menyampaikan kabar duka itu.


"Abang...."Ummi Firda berteriak panik, mengejutkan Abi Gabriel yang saat ini sedang membersihkan kebun belakang.


"Ada apa,Sayang? Kenapa? Apa Aira telfon?" Tanya Abi Gabriel .


"Mbak Ridha, Bang. Dia ... dia meninggal karena serangan jantung."


"Apa?" Pekik Abi Gabriel.


"Kata Hulya, dia mengalami serangan jantung, Bang. Dan ... dan penyebab kecelakaan Arsyad itu Anggun katanya."


"Bagaimana bisa?" Gumam Abi Gabriel tak percaya.


"Aku juga nggak tahu, Bang. Jadi bagaimana? Apa kita melayat?" Abi Gabriel tak langsung menjawab, ia masih terdiam sejenak dan rasanya ia masih tak percaya mantan besannya telah tiada secepat ini dan dalam keadaan yang seperti ini.

__ADS_1


"Iya, Sayang. Bagaimana pun juga dia pernah menjadi bagian dari kelauarga kita," jawab Abi Gabriel kemudian.


"Terus bagaimana dengan Aira, Bang? Apa perlu kita memberi tahu Aira ?"


"Jangan sekarang, Sayang. Kasihan Aira, biarkan dia fokus pada hidupnya sendiri, biarkan dia mengobati lukanya."


Abi Gabriel dan Ummi Firda langsung terbang ke Jakarta, terlepas dari apa yang terjadi pada pernikahan anak-anak mereka, mereka sempat menjadi keluarga yang saling menyayangi, menghormati, dan saling menghargai satu sama lain. Mereka tak membenci, tak juga memusuhi, namun hati yang kecewa setelah perasaan yang begitu tulus di berikan, itu lebih sakit dari pada perasaan benci dan amarah.


Sementara di kediaman Ummi Ridha, para tetangga sudah banyak berdatangan untuk melayat. Kematian Ummi Ridha bukan hanya pukulan untuk Anggun tapi juga untuk Bu Husna, apalagi sebelum menjadi besan, mereka adalah teman dekat. Dan Bu Husna tak bisa menyembunyikan rasa bersalah dan penyesalannya karena penyebab dari kematian Ummi Ridha adalah Anggun, ia sendiri merasa hidupnya kacau, ia tak menyangka akan berada pada titik ini.


Anggun masih menangis tiada henti, apalagi ketika ia mengingat bahkan Arsyad tak bisa melihat ibunya untuk terakhir kalinya. "Semuanya salahku." Aku menggumam pilu, ia menangis meringkuk di tengah ranjangnya sementara di bawah kini orang-orang bersiap mengantar jenazah Ummi Ridha ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Tak berselang lama bu Husna datangg menghampiri Anggun, ia mengajak Anggun turun. "Sudah saatnya kita mengantar dia pulang, Anggun."


"Ini sudah jalan takdirny, Nak." Bu Husna mengusap kepala Anggun dengan lembut.


"Arsyad belum sadar, dan sekarang Ummi ... Ummi ..." Bu Husna langsung memeluk putrinya itu yang tangisnya semakin menjadi, ia menenangkannya


Semua orang begitu bersimpati pada apa yang terjadi dengan Ummi Ridha, takdir yang sungguh ironis. Ia meninggal saat Arsyad masih koma, ia bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal pada orang-orang terkasihnya .

__ADS_1


Fahmi dan Hulya mengantar Ummi Ridha untuk di kebumikan, begitu juga dengan pak Arif dan bu Husna namun tidak dengan Anggun. Ia masih terpukul, jiwanya tergoncang karena apa yang terjadi.


Fahmi mengasihani Arsyad dan Ummi Ridha, yang hidupnya kacau setelah kehadiran Anggun, padahal dulu hidup mereka begitu damai dan tenang. Namun, apakah sungguh hanya Anggun yang salah? Jika Arsyad berkata jujur tentang keadaan Aira, jika saja Arsyad tak menjadi naif atas nama cinta, mungkin cerita hidup mereka akan berbeda sekarang. Jika Ummi Ridha tak menekan Arsyad saat itu, atau jika saja ia tak meminta Aira memilih, menerima Anggun atau meninggalkan Arsyad, mungkin kisah hidup mereka takkan sepedih ini.


***


Ummi Firda dan Abi Gabriel sampai saat malam hari di rumah Arsyad, mereka di sambut oleh bu Husna juga Anggun. Namun suasana begitu canggung hingga Hulya datang. "Aira nggak di kasih tahu?"


 Hulya bertanya dengan lirih dan Ummi Firda menggeleng pelan.


"Sebelum meninggal, dua kata terakhir yang di ucapkan oleh Tante Ridha adalah Arsyad dan Aira, Tante," ucap Hulya.


"Semoga Allah mengampuninya, Hulya. Bagaimana pun juga dia pernah menjadi bagian dari keluarga kami," Ucap Ummi Firda.


"Aku yakin dia sangat ingin bertemu dengan Aira sebelum ajal menjemputnya, Tante. Beberapa kali dia memohon sama aku, dia ingin berbicara dengan Aira."


Ummi Firda dan Abi Gabriel hanya bisa terdiam mendengar ucapan Hulya, ia merasa bersimpati dengan mantan besan mereka namun apa yang ia alami adalah karena dirinya sendiri.


Anggun menatap orang tua Aira dengan sayu, ia teringat dengan permintaan Ummi Ridha yang ingin menyatukan Arsyad dan Aira kembali, Anggun ingin menguatarakan hal itu namun ia tak tahu memulai dari mana.

__ADS_1


"Tante, sebenarnya..."


"Kami pulang dulu..." Abi Gabriel beranjak begitu juga dengan Ummi Firda. Ia bersalaman dengan orang tua Anggun bahkan dengan Anggun. "Kami pasti mendoakannya, kami juga sedih dengan apa yang menimpanya, kami memaafkan segala kesalahannya dan kami harap ia pun memaafkan segala kesalahan kami."


__ADS_2