Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #116 - Tetap Kamu Ratunya!


__ADS_3

"Ada apa, Sayang?" Tanya Arsyad.


"Anggun, Mas..." jawab Aira langsung membuat Arsyad mengernyitkan keningnya.


"Anggun? Kenapa dia?" Tanya Arsyad.


"Katanya dia harus di operasi karena mengalami kontraksi?"


"Apa?" pekik Arsyad tak percaya. Kedua orang tua Aira juga sangat terkejut mendengar kabar buruk itu, bahkan mereka juga mencemaskan keadaan bayi yang akan di lahirkan Anggun.


Aira memberikan ponsel Arsyad yang masih tersambung dengan ibunya Anggun. "Ini, ibunya..." lirih Aira.


Arsyad menyambar ponsel itu dan langsung menanyakan keadaan Anggun pada bu Husna. "Bayinya bisa di selamatkan, 'kan?" Tanya Arsyad cemas, Aira mengusap pundak Arsyad, mencoba menenangkannya.


***


Bandung, Indonesia.


Bu Husna menatap Anggun yang saat ini juga menatapnya, dengan hanya gerakan bibir Anggun meminta ibunya itu menjawab pertanyaan Arsyad.


"I-iya," jawab bu Husna menjawab dengan gugup sementara Anggun justru tersenyum


"Boleh aku melihatnyaa?" Tanya Arsyad yang seketika membuat Bu Anggun dan ibunya melotot terkejut. "Aku mau melihat bayiku," ucap Arsyad lagi. Kedua wanita itu kini semakin panik, mereka hanya menyiapkan jawaban dari pertanyaan yang mungkin akan di lontarkan Arsyad, namun mereka lupa mempersiapkan akan apa yang kemungkinan di minta Arsyad.


Saat ini keduanya berada di rumah, dan sangat tidak mungkin memperlihatkan apa yang ingin Arsyad lihat.


Anggun memutar otak dengan cepat, mencari jawaban yang tepat untuk permintaan Arsyad. "Tante...." panggil Arsyad.


"Dia di ruang NICU, mas," jawab Anggun dengan cepat. "Iya, dia di sana. Aku nggak bisa kesana," ucapnya lagi dengan nada yang di buat seolah ia sedang lemas.

__ADS_1


"Lalu keadaan kamu sendiri bagaimana?" Tanya Arsyad yang seketika membuat Anggun tersenyum karena ia merasa di perhatikan.


"Aku masih lemas, Mas. Rasanya nggak punya tenaga bahkan untuk duduk," jawab Anggun.


"Sabar, ya. Semoga kalian cepat sehat," ucap Arsyad lagi.


"Kamu kapan pulang, Mas?" Tanya Anggun lagi.


"Nanti, setelah Aira melahirkan," jawab Arsyad yang langsung membuat raut wajah Anggun berubah.


"Bagaiamana keadaan Mbak Aira? Terus keadaan kandungannya bagaimana?" Tanya Anggun yang berusaha menekan rasa cemburunya.


"Dia sehat," jawab Arsyad sehat. "Dan tolong minta suster fotokan bayiku, aku ingin melihatnya." lanjutnya.


"Iya, Mas, nanti aku minta suster fotokan bayi kita, emm sekarang sudah dulu ya, Mas. Aku mau istirahat," tukasnya padahal ia hanya tak ingin Arsyad meminta lebih banyak hal lagi.


"Iya, semoga kamu cepat sembuh. Kabari aku kalau kamu sudah bisa keluar dari rumah sakit."


***


Lahore, Pakistan.


"Waalaikum salam," jawab Arsyad.


"Bagaiamana, Mas? Apa bayinya baik-baik aja?" tanya Aira.


"Katanya di ruang NICU, Sayang," Jawab Arsyad.


"Semoga mereka cepat sehat kembali."

__ADS_1


"Aamiin, terima kasih doanya, Sayang."


Aira hanya tersenyum, walaupun sebenernya ada percikan cemburu dalam hatinya melihat kecemasan Arsyad pada Anggun dan anaknya walaupun itu wajar karena ini tentang anak kandung Arsyad. Namun tetap saja, rasa cemburu di hati Aira tak bisa di ajak kompromi.


"Aira..." panggil Abi Gabriel yang menyadari raut wajah Aira yang berubah. "Ada apa, Nak? Kamu cemburu karena Arsyad perhatian sama Anggun?" Tanyanya dengan gamblang yang langsung membuat Aira melotot dan menganga.


Sementara Arsyad langsung menatap Aira kemudian berkata, "Alhamdulillah kalau kamu cemburu, Sayang. Berarti kamu masih cinta sama aku." Arsyad lebih melongo lagi mendengar ucapan Arsyad yang sambil tertawa kecil.


Sementara Ummi Firda hanya geleng-geleng, ia menpuk pundak Aira dengan lembut. "Ummi yakin, kejadian ini sudah kamu prediksi sebelum kamu memilih kembali pada Arsyad. Kamu siap dan kamu melewatinya," ucap sang ibu yang membuat Aira langsung tersenyum penuh haru. "Dan seperti apapun perhatian yang Arsyad berikan pada Anggun, tetap Kamu lah ratu nya, Kamu lah yang memenangkan pertarungan ini, Nak. Karena kamu yang di sakiti dan kamu memaafkan. Karena kamu menerima dengan lapang dada dan mau berdamai dengan keadaan."


Aira tersenyum simpul mendengar ucapan sang ibu yang selalu mampu menghibur hatinya dan memberikan ketenangan pada jiwanya.


"Ummi benar," sambung Arsyad. "Kamu lah pemenangnya dan Kamu lah ratu nya, Sayang." Arsyad mengusap pipi Aira dengan lembut.


"Aku memang sedikit cemburu, karena kamu mengkhawatirkan wanita lain di depannku, Mas."


"Aku mengkhawatirkannya karena dia melahirkan anakku, itu aja, nggak lebih. Sedangkan aku mengkhawatirkanmu karena aku mencintaimu."


"Itu perbedaan kamu dan wanita itu, Aira." Abi Gabriel juga menyambung obrolan mereka. "Jadi jangan biarkan hati kamu terluka hanya karena duri kecil seperti itu, yang bisa dengan mudah kamu singkirkan."


Aira hanya menahan senyum samar dan menganggukan kepala walaupun hatinya masih belum setuju pada ucapan sang ayah.


Duri kecil memang mudah di singkirkan, namun jika duri itu berbentuk rasa cemburu, tak perduli sekecil apapun ukurannya tetap saja sangat menganggu hati dan tak mudah untuk di singkirkan.


Namun seperti kata Ummi Firda, ia sudah tahu ini pasti terjadi dan ia siap untuk itu.


"Via harus di beri tahu kalau adiknya sudah lahir, mungkin dia akan senang mengingat selama ini dia nggak sabar nunggu aku melahirkan," kata Aira kemudian.


"Jangan dulu, Sayang," cegah Arsyad. "Dulu dia pernah bilang sama aku, dia nggak mau adik dari Ummi lain, dia cuma mau adik dari kamu." Aira terperangah mendengar ucapan Arsyad itu karena ia baru tahu itu. "Jadi sebaiknya kita beri tahu nanti, pelan-pelan kita jelaskan pada Via."

__ADS_1


TBC...



__ADS_2