
"Arsyad Ibrahim," ucap Arsyad memperkenalkan diri. "Ayah dari anak-anaknya Aira."
Deg
Hati Javeed seperti terhantam sesuatu yang berat dan besar mendengar ucapan Arsyad. Patah hati, mungkin itulah yang ia rasakan saat ini. Baru saja ia memupuk harapan pada wanita pujaannya, baru saja ia ingin membawanya terbang namun kini ia seolah di lempar ke dasar bumi.
Sakit, perih, hatinya berdenyut perih saat menyadari hal itu, namun saat melihat tatapan Via yang berbinar indah, perlahan rasa perih itu memudar.
"Javeed, sahabat Via, tetangga Aira," kata Javeed dengan menahan segala perasaan yang membuncah di hatinya.
"Abi, sebenarnya kita mau belanja, karena Ummi sudah gendut, bajunya banyak yang nggak muat," lapor Via kemudian ia menatap sang Ummi, Aira dengan cepat mengucek matanya yang masih berair, ia menyunggingkan senyum di bibirnya. "Iya 'kan, Ummi?" Tanya Via dan Aira hanya bisa mengangguk pelan.
"Kalau begitu Abi ikut," kata Arsyad dengan semangat.
"Jangan, kamu baru sampai,' kan?" Sambung Aira apalagi ia melihat Bi Sri yang masih membawa tasnya. "Kamu sudah booking hotel? Biar aku antar, kamu seharusnya istirahat." lanjutnya.
"Ummi, abi jangan tinggal di hotel, tinggal sama kita aja, Via kan kangen," rengek Via.
"Sayang, Abi di hotel cuma kalau malam kok, kalau siang nanti kita bisa main sama-sama," ucap Arsyad.
"Nggak mau, kenapa harus di hotel kayak temannya Om Jibril? Kan Abi bukan temannya Ummi, dulu kita tinggal satu rumah, Abi sama Ummi satu kamar, Abi juga suka bantuin Ummi pakai kerudung, keringkan rambut, Abi dulu sayang sama ummi, mau sama Ummi terus, kenapa sekarang nggak?" Aira dan Arsyad terhenyak mendengar ucapan panjang lebar Via.
Dulu, mereka tinggal satu rumah, satu kamar, bahkan satu ranjang. Mereka berbagi segalanya namun sekarang?
"Via, bukan begitu, Sayang. Abi masih sayang sama Ummi, Abi sangat mencintai Ummi," ucap Arsyad sambil melirik Aira, lirikan yang begitu menusuk hingga membuat jantung Aira berdebar.
"Tapi untuk sementara, Abi akan tinggal di hotel, Abi ingin tahu rasanya tinggal di hotel," tukas Arsyad berharap anaknya itu mengerti.
"Ohhh...." bibir Via menyatu, membentuk huruf O. "Kalau begitu, Via dan Ummi juga tinggal di hotel ya, sama Abi. Di hotel itu enak, Bi. Makanan di anterin ke kamar, terus kamarnya besar, jendelanya besar, bisa lihat pemandangan di luar," ujar Via dengan semangat yang membuat Aira dan Arsyad tak tahu lagi harus berkata apa.
Aira dan Arsyad saling melempar tatapan, sementara Via menatap kedua orang tuanya itu dengan tatapan yang begitu memelas, membuat hati Aira dan Arsyad tak sanggup jika harus mengecewakan Via.
"Iya, Sayang. Abi akan tinggal sama kita," kata Aira akhirnya yang membuat Arsyad langsung menatap Aira tak percaya namun hatinya begitu bahagia, ia seperti musafir yang mendapatkan air di gurun pasir yang begitu panas.
"Yeeyyyy..." teriak Via girang.
__ADS_1
Hati Javeed begitu tersentuh melihat senyum gembira di bibir Via juga binar bahagia di matanya, semenjak kenal dengan Via, ini pertama kalinya Javeed melihat anak itu benar-benar bahagia seperti sekarang.
"Terima kasih," ucap Arsyad dengan suara tercekat. "Kamu nggak bisa bayangkan betapa bahagianya aku dengan keputusanmu ini, Humaira."
"Aku nggak mau Via sedih lagi," kata Aira dan Arsyad mengangguk mengerti. "Kita belanja besok aja, sekarang kita pulang." lanjutnya.
"Ayo!" ajak Via dengan semangat. Bi Sri pun mendorong kursi roda Arsyad sementara Via enggan melepaskan tangan ayahnya itu.
"Via mau duduk di sini? Di pangkuan Abi?" Tanya Arsyad kemudian.
"Jangan, Mas. Nanti kamu sakit," cegah Aira.
"Nggak kok, kalau cuma duduk di pangkuanku, bisa," ucap Arsyad meyakinkan.
"Biar aku bantu," kata Javeed kemudian ia mendudukan Via ke pangkuan Arsyad.
"Syukriya, Om," seru Via dengan senyum lebarnya setelah ia berhasil di dudukan di pangkuan Arsyad.
"Wah, Via bisa bahasa Urdu?" tanya Arsyad dan Via mengangguk percaya diri.
"Kamu punya toko?" Tanya Arsyad.
"Roti, yang di depan sana," kata Javee.
"Oh begitu, sepertinya besok aku akan belanja disana," ujar Arsyad.
"Enak rotinya, Bi. Via kalau belanja pasti di kasih banyak sama Om Javeed, karena Om sahabat Via," sambung Via. Arsyad hanya terkekeh sambil mengelus kepala Via dengan sayang, Javeed pun tersenyum walaupun senyum itu tak sampai ke matanya.
Saat Javeed berbalik, air mata jatuh begitu saja membasahi pipinya namun Javeed segera menyekanya. Ia melangkah pulang, membawa hati yang tercabik. Ternyata ibunya benar, sakitnya karena jatuh cinta itu jauh lebih sakit daripada jatuh di aspal.
Beda halnya dengan Arsyad yang tampak sangat bahagia sekarang. "Di sini hanya ada dua kamar, Mas. Nanti biar Bi Sri tidur sama aku dan Via aja, ranjangnya besar kok, muat untuk 3 orang," kata Aira saat mengantar Arsyad ke kamar yang dulu di tempati Jibril.
"Jangan, Nyonya. Masak saya tidur sama Nyonya, saya tidur di ruang tengah saja, di karpet tuh," kata Bi Sri.
"Jangan dong, Bi. Masak tidur di ruang tengah," kata Aira.
__ADS_1
"Memangnya nggak ada ruangan lain, Humaira?" tanya Arsyad.
Humaira, adalah panggilan Arsyad saat pertama kali bertemu dengan Aira. Semua orang memanggilnya Aira, namun entah mengapa Arsyad lebih sering memanggilnya Humaira sejak dulu, dan ternyata kebiasaan itu masih ada sampai sekarang. Dan harus Aira akui, hatinya bergetar setiap kali Arsyad memanggilnya dengan nama panggilan yang berbeda itu.
"Ada, di samping dapur, tapi kamarnya kecil, cuma isi satu ranjang kecil banget, nanti Bi Sri nggak nyaman," kata Aira.
"Sudah biasa saya tinggal di kamar kecil, Nyonya. Nggak apa-apa," ujar Bi Sri meyakinkan.
"Bibi lihat dulu kamarnya, beneran kecil," kata Aira sembari membawa Bi Sri ke kamar yang ia maksud. "Tuh, kecil, nanti pengap," kata Aira yang merasa tak tega jika Bi Sri harus menempati kamar itu.
"Ini mah ukuran normal untuk kamar pembantu, Nyonya," kata Bi Sri sambil tertawa kecil, dalam hati ia mengagumi Aira, di pertemuan pertamanya ini Aira sudah memikirkan kenyamannya yang hanya seorang pembantu. "Pantas tuan sangat mencintaimu, Nyonya. Sampai rela terbang ke sini dalam keadaan seperti ini, ternyata dia mengejar bidadari," gumam Bi Sri dalam hati.
Sementara di kamarnya, Arsyad berusaha berpindah ke ranjang, Via pun membantu memegang tangan Abinya itu. "Terima kasih, Sayang," kata Arsyad. Via pun menyusul Arsyad, ia merangkak naik ke atas ranjang.
"Bi, Abi tahu tidak..." Via berbisisk sambil melirik pintu, takut ibunya datang. Arsyad yang menyadari gerak-gerik Via dan ia terkekeh geli.
"Bilang aja, apa, Sayang?" Tanya Arsyad lembut.
"Via kasihan sama Ummi, karena Ummi sering nangis kalau malam, Ummi kangen berat sama Abi." Lagi-lagi Arsyad terkekeh mendengar laporan anaknya itu.
"Abi juga begitu, Sayang. Abi nggak bisa tidur, nggak bisa makan dan kadang menangis kalau sudah merindukan Ummi." Arsyad juga berbisik lirih pada anaknya itu.
...🌱...
^^^Bandung, Indonesia.^^^
"Sudah tidak ada jalan lain..." ucap Dokter dengan lirih, ia menyerahkan sebuah surat pada Anggun.
Anggun menahan napas, air matanya mengalir deras hingga membahasi kertas itu. Dengan tangan yang gemetar, Anggun mengambil pulpen yang di berikan Dokter kemudian ia memberikan tanda tangannya di kertas itu.
Tbc..
Kisah bapaknya dan kakaknya Aira neh. Wajib banget di samperin 😘
__ADS_1