
Islamabad, Pakistan
Javeed duduk merenung sembari menikmati pemandangan kota islamabad dari balkon kamar Hotel nya, ia teringat dengan masa-masa yang ia habiskan dengan Aira. Javeed tahu Aira bukanlah seorang gadis, namun ia tetap ingin mendekatinya. Javeed juga tahu Aira sedang dalam luka, namun lagi-lagi Javeed begitu naif dan beranggapan ia pasti bisa merebut hati Aira jika ia terus berada di sisi Aira, menghiburnya dan membuatnya tersenyum.
Namun nyatanya ia tak bisa, pemilik hati Aira hanyalah suaminya. "Aku yang ada di samping dia, aku yang menghibur dia, tapi kenapa hatinya tetap tak tersentuh sedikitpun?" Javeed menggumam frustasi.
"Mungkin akan lebih baik aku tinggal di sini sampai dia kembali ke negaranya, supaya aku nggak cemburu melihat dia dengan suaminya."
"Ck, jangankan sampai melihat! memikirkan dia bersama suaminya saja sudah membuatku cemburu!"
"Kenapa harus cemburu? Sialan!" Javeed kembali ke kamarnya, ia langsung melemparkan tubuhnya ke ranjang. "Tahu gini, lebih baik aku jatuh cinta pada wanita yang masih gadis aja, yang belum punya mantan, biar bisa langsung aku nikahin."
***
Lahore, Pakistan.
"Aira kembali check up dan kali ini ia datang ke rumah sakit bersama kedua orang tuanya, Arsyad tentu juga Via dan Bi Sri.
Dokter mengatakan bahwa kandungan Aira sangat baik dan Aira pasti bisa melahirkan dengan normal seperti yang Aira mau.
Dokter juga memprediksi kemungkinan besar Aira akan melahirkan dalam waktu dekat, kurang dari dua minggu. Mendengar hal itu Arsyad merasa semakin bahagia, ia tak sabar menunggu kelahiran anaknya.
Begitu juga dengan Via yang tak sabar ingin melihat adik bayinya.
__ADS_1
Setelah memeriksa kandungan Aira, Abi Gabriel mengajak mereka langsung pulang karena ia tak mau Aira kelelahan. Dan saat dalam perjalanan pulang, Aira menghubungi kedua kakaknya itu memberi tahu kabar gembira itu.
"Alhamdulillah kalau kamu bisa melahirkan normal, Dek. Semoga ibu dan anaknya sehat, selamat," kata Jibril.
"Iya, Ai. Alhamdulillah kalau gitu," sambung Micheal. "Terus kapan kalian pulang?" Tanyanya kemudian.
"Ya belum tahu, Kak. Mungkin setelah aku sehat nanti dan bayiku sudah cukup kuat untuk di bawa pulang," jawab Aira yang langsung membuat Micheal berdecak.
"Ck, padahal kakak tuh pengen jadi orang pertama liat anak kamu pas lahir, Dek. Malah kamu terbang ke Pakistan dan mau melahirkan disana," gerutu Micheal.
"Ya aku nggak ada niat mau melahirkan disini, Kak. Cuma setelah sampai sini dan aku merasa nyaman di sini, jadi aku perpanjang aja masa tinggalku disini," sanggah Aira sambil melirik Arsyad. Sementara Yang di lirih hanya menahan senyum samar.
"Iya sih, waktu itu kamu merasa nyaman disana karena jauh dari Arsyad," celetuk Micheal sekenanya yang membuat pupil mata Arsyad langsung melebar sementara Aira hanya tersenyum tipis.
"Karena akal sehatnya tinggal beberapa persen aja," sambung Abi Gabriel.
"Salah, Bang. Justru akal sehatnya orang lagi jatuh cinta atau patah itu 0%, sebagian," sela Ummi Firda dan seketika mereka semua tertawa kecuali Jibril.
"Kenapa kamu nggak ketawa, wahai pria kaku?" Ledek Micheal.
"Apanya yang perlu di tertawakan?" Tanya Jibril yang memang belum pernah merasakan jatuh cinta apalagi patah hati.
"Ayam yang terpaksa bertelur dengan cara cecar," celetuk Micheal yang justru membuat mereka semua semakin tertawa namun Jibril justru melongo.
__ADS_1
"Dasar!" seru Jibril mendengus.
Kembali berada di antara keluarga Aira yang begitu hangat membuat Arsyad merasa begitu terharu, ia merasa hidupnya seolah penuh dengan anugerah. Kehangatan mereka, kasih sayang dan cinta yang mereka bagi layaknya sebuah keluarga membuat Arsyad tersentuh dan ia juga menginginkan keluarga yang seperti itu.
Arsyad kembali teringat pada mendiang ibunya, dulu sang ibu juga mengatakan bahwa keluarga Aira adalah keluarga baik-baik, Arsyad akan sangat beruntung memiliki Aira sebagai istri. Dan umminya itu benar, Arsyad bukan hanya beruntung memiliki Aira sebagai istrinya tapi juga beruntung memiliki orang tua Aira yang kini juga menjadi orang tuanya.
Dan andai saja, mendiang ibunya mau sedikit bersabar menantu kehadiran cucunya, mau bersabar sedikit saja akan harapannya pada Aira yang pasti mengandung. Mungkin detik ini mendiang ibunya masih ada di antara mereka, menemani Aira saat memeriksa kandungannya. Menemani Aira saat nanti melahirkan, tapi karena sang ibu yang sudah pasrah pada diagnosa Dokter, dan karena Arsyad yang tak punya ketegasan melawan kehendak sang ibu, kini ceritanya berbeda dari apa yang Arsyad harapan. Kini semuanya hanya tinggal kata seandainya dan seandainya.
"Via..." seru Tanvir tiba-tiba namun Via enggan memnyahut.
"Di panggil, Sayang," kata Arsyad.
"Via nggak mau bicara, Abi. Kaka Tanvir bilang Via centil," jawab Via.
"Via, jangan centil lagi, ya. Nanti ... nanti..."
"Nanti apa?" Tanya Via seolah menantangnya.
"Nanti aku cium kamu!" seru Tanvir yang membuat semua orang langsung melongo, namun kini justru Jibril yang terkekeh.
"Pasti hasil didikan bapaknya neh!" seru Jibril.
TBC...
__ADS_1