
Anggun hanya bisa menangis saat ia menjalankan introgasi, ia begitu ketakutan sekarang. Sementara sang ayah saat juga di introgasi oleh polisi namun di ruangan yang berbeda. Mereka berdua menjadi tersangka atas apa yang sebenarnya terjadi pada Arsyad karena sebelumnya Ummi Ridha memang meminta polisi untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada putranya.
"Kamu sengaja melakukannya?" Tanya polisi itu dengan nada rendah dan tenang namun Anggun masih sangat ketakutan.
"Aku sedang hamil, aku mohon...." lirih Anggun memelas.
"Karena itulah kami melakukan introgasi dengan begitu lembut, pelan dan kamu bahkan tidak menggeratakmu, Bu Anggun," tukas polisi wanita itu.
"Aku mengkhawatirkan ibu mertuaku," kata Anggun.
"Kamu dan putra ibu Ridha tidak memiliki surat nikah," ucap polisi itu lagi.
"Kami menikah siri," kata Anggun dengan suara tercekat.
"Kata Ibu Ridha, Arsyad tinggal di restaurant selama beberapa hari terakhir, dan ia yakin Arsyad tidak akan pergi ke rumahmu apalagi larut malam seperti itu. Apa yang membuat dia datang?"
"Aku tidak tahu!" Anggun menjawab dengan suara lantang yang membuat polisi itu tersenyum miring.
"Ayahmu sudah mengatakan yang sebenarnya, percuma kamu bohong!" seluruh tubuh Anggun langsung tegang mendengar apa yang di katakan polisi itu.
Sementara di ruang introgasi yang lain, pak Arif pun di introgasi, di intimidasi dan di tekan lebih dari Anggun, namun pak Arif justru mengaku Arsyad celaka karenanya, ia melakukan itu agar Anggun tak di penjara.
"Cctv membuktikan kalian berdua mendorong Arsyad, tapi Anggun lah yang mendorong Arsyad hingga ia kecelakaan, Pak! Dan karena itulah, dia bisa di jatuhi hukuman 20 tahun penjara!" Gertak polisi yang membuat jantung pak Arif berdebar dan hatinya di selimuti ketakutan yang begitu besar.
"Apa yang membuat Arsyad datang kesana? Menurut keterangan dari bu Ridha, ia sangat yakin Arsyad tidak akan ke rumahmu tanpa alasan yang jelas dan kuat." pak Arif hanya bisa membuka mulutnya tanpa tahu harus menjawab apa.
"Katakan saja apa yang membuat Arsyad datang kesana saat larut malam, mungkin dengan begitu hukuman kalian bisa di ringankan!"
Pak Arif teringat dengan apa yang Anggun ceritakan, Arsyad datang karena ia marah pada Anggun yang tak memberi tahu bahwa Aira hamil.
"Apa kalian ada dendam pribadi? Apa kecelakaan itu di rencanakan?" Sinis polisi itu untuk memancing emosi pak Arif, dan benar saja, pak Arif mulai tak terima dengan intimidasi mereka.
"Bukan Anggun yang salah, ini salah Arsyad yang menceraikan Anggun saat dia hamil. Anggun tidak bermaksud menyembunyikan kehamilan Aira pada Arsyad, dia hanya emosi saat itu."
"Siapa itu Aira?" Tanya polisi itu yang membuat pak Arif kembali terdiam. "Siapa itu Aira?" polisi kembali mengulangi pertanyaannya.
"Istri pertama Arsyad..."
__ADS_1
***
Di rumah sakit, Hulya dan Fahmi hanya bisa diam merenung.
Mereka shock, tak menyangka ternyata kecelakaan Arsyad bukan murni kecelakaan. Yang membuat mereka lebih shock, Anggun lah penyebab kecelakaan Arsyad.
Saat ini mereka masih menunggu Ummi Ridha yang sedang di tangani oleh Dokter di ruang ICU, tak lama kemudian Dokter keluar dari ruang ICU dan menghampiri mereka. Hulya langsung menanyakan keadaan Ummi Ridha.
"Pasien ingin bertemu dengan Anggun," kata Dokter yang membuat Hulya menghela napas panjang, tak habis fikir kenapa masih Anggun yang Ummi Ridha cari saat ini.
"Boleh saya menemuinya, Dokter?" Tanya Hulya.
"Boleh, tapi sebenarnya keadaan pasien sangat buruk, dia sangat lemah dan mungkin ini adalah saat..." Dokter tak mampu melanjutkan ucapannya.
Dalam waktu dekat, Ummi Ridha sudah dua kali terkena serangan jantung dan itu membuat ia takkan bisa bertahan lebih lama lagi.
Hulya segera masuk ke ruang ICU dan ia mendekati Ummi Ridha yang terbaring tak berdaya di atas ranjang kecil.
Ummi Ridha yang mendengar bahwa penyebab kecelakaan Arsyad adalah Anggun sendiri sungguh merasa terpukul, apalagi selama ini Anggun berlagak seolah tak tahu apa-apa. Ummi Ridha begitu terkejut, sakit hati dan kecewa, apalagi sekarang putranya berada dalam kondisi antara hidup dan mati.
"Anggun..." Ummi Ridha berbisik dengan suara yang tercekat. "Dia..."
"Sudah, Tante jangan memikirkan dia, Tante harus sehat," ucap Hulya namun Ummi Ridha memberi isyarat sesuatu padanya.
"Anggun... Mengandung... Dia... Cabut... Laporan.... Aira... Arsyad...." dengan susah payah Ummi Ridha menyusun kata-kata itu, ia mengucapkannya dengan terbata-bata.
Ummi Ridha sangat kecewa pada Anggun, ia marah dan murka. Namun Ummi Ridha tak mau Anggun di penjara karena saat ini ia sedang mengandung anak Arsyad. Ummi Ridha tak mau cucunya lahir di penjara, dan ia merasa semua terjadi juga karenanya.
"Tante, Anggun..."
"Tante...."pekik Hulya saat tiba-tiba Ummi Ridha menutup matanya.
Hulya segera berteriak memanggil Dokter dan mereka meminta Hulya menunggu di luar.
Dokter dan Dokter pun datang dan langsung memberikan penanganan pada Ummi Ridha, detak jantungnya berhenti namun mereka mencoba menyelamatkannya dengan alat pacu jantung namun setelah beberapa kali di coba, Ummi Ridha tak merespon.
Segala usaha mereka lakukan untuk memancing detak jantung Ummi Ridha namun hasilnya masih sama.
__ADS_1
Dokter hanya bisa menghela napas lesu, ia menggelap keringat yang membanjiri pelipisnya. "Catat waktu kematiannya," lirih Dokter itu kemudian.
***
Islamabad, Pakistan
"Sshh, au...." Aira mendesis saat tanpa sengaja ia mengiris jarinya dengan pisau buah.
Saat ini ia berada di ressoort yang berada di bukit Murree, mereka berencana menginap disana agar tak terlalu kelelahan karena perjalanan.
"Ada apa?" Tanya Javeed dan saat melihat jari Aira yang terluka, Javeed langsung menarik Aira ke sofa, Aira sempat mengolah di sentuh oleh Javeed. "Jari kamu luka tuh, biar aku obati," kata Javeed. "Lagian aku pegang lengan baju kamu kok." lanjutnya yang membuat Aira menahan senyum, kemudian Javeed meminta obat p3k pada salah satu pelayan disana.
"Ada apa, Dek?" Tanya Jibril yang melihat jari Aira berdarah.
"Nggak sengaja kena pisau pas kupas buah, Kak," jawab Aira.
"Aduh, sakit, Ummi?" Tanya Via bergidik ngeri.
"Nggak kok, Sayang. Cuma luka kecil," ucap Aira lirih.
Saat Javeed hendak mengobati luka Aira, Jibril menghalanginya dan ia mengobati luka adiknya itu.
"Lain kali hati-hati dong, Ai. Kamu melamun, ya?" Tanya Jibril, Aira hanya terdiam karena entah mengapa ia merasa kembali resah, ada perasaan tak enak di hatinya, seperti ada sesuatu.
"Kak, hari ini Ummi sama Abi ada telfon nggak?" Tanya Aira.
"Sudah, tadi pagi tuh," kata Jibril.
"Kak Micheal?" tanya Aira lagi.
"Baru beberapa menit yang lalu Tanvir video call sama Via. Ada apa sih, Dek?"
"Entahlah, perasaanku nggak enak. Aku takut mereka kenapa-kenapa."
"Mungkin kamu rindu mereka."
"Mungkin.."
__ADS_1