Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #43 - Keajaiban Bagi Dia Yang Sabar


__ADS_3

Aira dan Ummi Firda tercengang bahkan menahan napas saat pemeriksan berlangsung, sementara Dokter Tiya - yang juga merupakan teman Ummi Firda, ia tersenyum geli melihat raut wajah ibu dan anak itu.


"Lihat! Ini bahkan sudah ada detak jantungnya, usia kehamilanmu sudah 4 bulan, Aira. Kenapa kamu nggak tahu?" tanyanya sambil terkekeh.


Aira masih diam begitu juga dengan Ummi Firda, apalagi setelah mendengar usia kandungan Firda. 4 bulan? Yang benar saja, fikirnya.


"Ada apa dengan kalian? Sebagian wanita yang aku nyatakan hamil langsung menangis haru, atau bahkan berteriak kegirangan. Tapi kenapa kalian tercengang begini?" Tanya Dokter Tiya kemudian.


"Lihat titik kecil ini, ini anakmu, Zeda Humaira! Dan detak jantungnya sudah terdengar jelas!" seketika bibir Aira bergetar dan air mata langsung bercucuran deras mambasahi cadarnya.


Ia hamil, bahkan usia kandungannya sudah 4 bulan. Sudah sangat lama dan ia tidak mendapatkan tanda-tanda kehamilan sedikitpun.


Aira ingin bahagia, namun ia masih takut, bagaimana jika ternyata semua ini hanya mimpi?


"Tapi Aira masih datang bulan, Ti. Dan dia tidak merasakan gejala seperti wanita hamil pada umumnya," ujar Ummi Firda kemudian.


"Itu bukan sebuah fenomena yang sulit di percaya, ada banyak orang yang tidak merasakan gejala hamil, bahkan mereka baru sadar setelah perutnya buncit. Ada juga orang yang tetap datang bulan selama masa kehamilan, datang bulannya masih normal seperti tidak hamil." Ummi Firda menatap Aira yang saat ini menatapnya dengan mata yang begitu sendu."Oh ya, apa selama 4 bulan terkahir, kamu masih sangat normal datang bulannya, Aira?"


"Sedikit tidak normal ... bahkan selama beberapa hari hanya ... flek kecoklatan," jawab Aira tersendat, ia masih shock dengan hasil pemeriksaannya. "Tapi di hari yang yang lain, bisa darah seperti biasa," imbuhnya.


"Apa aku benar-benar hamil? Apa alatnya tidak rusak?" Tanya Aira kemudian yang membuat Dokter Tiya sedikit terperangah.


"Astagfirullah, kamu sedang hamil, Aira. Alatnya tidak rusak, ada apa?" Tanya Dokter Tiya yang melihat reaksi yang sangat tidak biasa dari Aira dan Ummi Firda.


"Aira di nyatakan mandul, Tiya, " ujar Firda dengan suara tercekat dan Aira mengangguk membenarkan.


"Bahkan, Dokter di Singapura juga menyatakan aku mandul. Hasil pemeriksaannya masih ada," tukas Aira sembari mengatur napasnya yang mulai terasa berat.


"Mungkin sebelumnya kamu memang mandul, Aira. Tapi sekarang, Allah merubah takdirnya, mungkin karena do'amu dan keluargamu."

__ADS_1


"Benar," gumam Ummu Firda. Ia langsung memeluk Aira dan mengucapkan selamat untuk buah hatinya yang akan segera memiliki buah hati itu.


"Alhamdulillah, ya Allah. Kami panjatkan puji syukur kami pada-Mu." Aira menangis haru di pelukan sang ibu, ini sungguh seperti mimpi baginya, ia tak bisa percaya begitu. Tapi jika ini memang mimpi, Aira berharap ia tak pernah terbangun.


Dokter Tiya yang melihat moments haru itu tanpa sadar ikut meneteskan air mata, ia ikut bahagia melihat kebahagian Aira dan Ummi Firda.


"Ini keajaiban yang luar biasa, Aira," ujar Dokter Tiya dan Aira mengangguk sambil terisak.


Kali ini, ia akan menangis sepuasnya karena ini adalah tangisan kebahagiaan.


"Tapi 4 bulan, ini cukup lama, Ti. Bagaimana bisa kami nggak tahu?" Ummi Firda bertanya sambil menghapus air matanya sementara bibirnya tersenyum senang.


"Banyak sih yang mengalami hal seperti itu, Mbak. Ada beberapa pasienku yang memang tidak merasakana gejala apapun. Aku pernah punya pasien, dia lumayan gemuk, tapi orangnya aktif, sehat. Saat hamil, dia juga nggak merasakan gejala apapun. Dia memang telat datang bulan katanya, tapi itu biasa terjadi sejak dia remaja jadi dia nggak pernah berfikir sedang hamil. Tapi karena selera makannya semakannya semakin tinggi, juga berubah sensitif, aku rindu dia periksa. puasa di periksa, tahu-tahu usia kandungannya sudah 5 jalan 6 bulan. Dan itu nggak keliatan meskipun dia buncit karena memang dia buncit meskipun nggak hamil."


" Ya Allah, sungguh kejutan yang luar biasa," gumam Aira takjub. Ia tak menyangka, bisa ada keajaiban seperti ini terjadi padanya.


"Alhamdulillah, Ummi. Ini benar-benar kejutan, keajaiban. Sulit di percaya. Aku akan memberi tahu Arsyad."


***


Arsyad yang merasa begitu tertekan dengan keadaan memilih melompat ke dalam sungai, ia berusaha menahan napas sebisanya di dalam air dan berusaha mendinginkan fikirannya yang sangat kacau akhir-akhir ini.


Setelah merasa cukup berendam dalam sungai yang dingin itu, Arsyad pulang dengan seluruh tubuh yang basah kuyup.


Sementara di rumahnya, keluarga Anggun sudah berkumpul untuk melaksanakan acara syukuran yang akan di laksanakan setelah sholat maghrib.


Dan saat mereka melihat Arsyad yang pulang dengan wajah basah kuyup, mereka hanya bisa terdiam bingung apalagi hari ini tidak hujan sama sekali.


"Kamu habis dari mana, Mas?" Tanya Anggun antara cemas dan bingung.

__ADS_1


"Mandi," jawab Arsyad singkat.


"Arsyad..." tegur Ummi Ridha, ia menarik Arsyad ke kamar Arsyad. "Kamu apa-apaan pulang basah kuyup begini, malu sama keluarga Anggun."


"Maaf," ucap Arsyad sembari mengeluarkan ponselnya dari saku jasnya, Arsyad mencoba menyalakan ponselnya namun tak bisa. Sudah pasti rusak karena ikut berendam dalam air.


"Sebaiknya kamu mandi dan setelah ini turun ke bawah, temui keluarga Anggun baik-baik."


"Hem..."


Arsyad menjawab dengan malas, ia mengambil handuk dan melenggang pergi ke kamar mandi.


Arsyad berdiri di bawah guyuran air shower yang dingin, ia memejamkan mata dan kembali hanya Aira yang terlihat dalam bayangannya.


"Aku harus melakukan ini, ini yang terbaik untuk semuanya." Arsyad menggumam lirih dan ia menguatkan tekadnya, apa yang menjadi keinginannya, apalagi ini akan menjadi yang terbaik untuk semua orang.


***


Aira pulang dengan wajah yang berseri, senyum sumringah tak lepas dari bibirnya, bahkan pancaran matanya begitu indah, seolah seluruh rasa sakit yang ia rasakan selama ini sirna seketika dengan kabar kehamilannya.


Sesampainya di rumah, Aira langsung bergegas ke kamar Jibril until memberi tahu sang Kaka bahwa ia benar-benar hamil.


Sementara Ummi Firda justru mendapatkan telfon dari sang suami, yang memberi kabar yang sangat berbeda dari kabar yang Aira miliki.


"Pengadilan sudah memutuskan, Arsyad dan Aira sudah resmi bercerai secara agama dan negara." Ummi Firda menahan napas mendengar kabar itu.


"Apa putri kita baik-baik saja disana, Sayang?" Tanya Abi Gabriel cemas.


"Iya, dia ... dia jauh lebih baik sekarang." lirih Ummi Firda. "Hanya saja, kami punya kabar..."

__ADS_1


__ADS_2