Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #46 - Keputusan Akhir


__ADS_3

"Jika memang tamparan yang kamu mau, tampar aku sampai kau puas tapi itu sudah keputusanku." tangis Anggun semakin pecah mendengar ucapan Arsyad, ia meluruh lemas dan tak berdaya.


"Jika pernikahan ini kita pertahankan, maka hanya akan ada penyakit yang tumbuh dalam pernikahan ini, Anggun. Aku tidak mau terus-terusan menyakiti diriku sendiri dan juga dirimu, Anggun. Aku benar-benar tertekan sekarang, aku tidak lagi bisa bersikap dengan baik, jangankan padamu, pada Ummi saja tidak." Arsyad berkata penuh penekanan sembari melirik Ummi Ridha yang saat ini hanya bisa menatapnya dengan tajam.


Keputusan Arsyad sungguh mencengangakn, pukulan yang luar biasa besar untuknya, apalagi untuk keluarga Anggun.


Mereka tak bisa berkata-kata, tak bisa menuntut apapun karena keputusan Arsyad sudah begitu bulat dan tidak bisa di ganggu gugat.


Sementara Anggun, ia hanya bisa menangis setelah memberikan dua tamparan yang sangat keras di pipi Arsyad.


"Aku janji, aku akan tetap bertanggung jawab dan memberikan semua hak anak kita. Kamu juga boleh tinggal di rumah ini sampai kamu melahirkan, akan aku penuhi semua kebutuhanmu sampai kamu melahirkan."


"Kenapa... kenapa harus sekarang?" lirih Anggun di tengah isak tangisnya.


"Aku rasa lebih cepat lebih baik, semakin di tunda, maka rasa sakit hanya akan semakin dalam."


Tangis Anggun semakin menjadi mendengar jawaban Arsyad yang bahkan tak mau sedikitpun belajar membuka hati untuknya.


"Tapi setidaknya kamu bisa belajar, Mas."


"Mungkin kamu benar, Anggun. Sepertinya memang aku yang nggak mau membuka hati, karena jujur saja, aku masih sangat mencintai Aira." Arsyad menghela napas berat dan mengingat kembali kebersamaannya dengan Aira.


"Dulu, Aira masih bersamaku, semuanya masih terlihat baik-baik saja. Tapi setelah Aira pergi, aku sadar betapa lemahnya aku tanpa dia, aku sadar aku nggak bisa menggantikan dia dengan siapapun. Setelah pernikahan kami berakhir, aku sadar keputusanku sebelumnya sungguh salah dan aku merasa sangat bodoh, aku baru menyadarinya setelah semuanya hancur seperti ini."


...----------------...


"Arsyad belum mambalas pesanku, Ummi. Kira-kira dia kemana ya? Apa dia baik-baik aja? Ponselnya sudah aktif, tapi dia belum baca pesanku." Aira mengeluh sembari mengaduk susu yang baru saja di buatkan Umminya.


"Aira, sebenarnya Ummi kurang setuju kalau kamu mau rujuk sama dia, Sayang. Apalagi sekarang ada wanita lain disana," ucap Ummi Firda cemas, ia menatap putrinya itu dengan sendu.

__ADS_1


"Aku tahu, tapi sekarang ada anak yang sedang aku kandung, Ummi. Aku ingin mencobanya sekali lagi demi anak kami," jawab Aira yakin yang membuat sang ibu hanya bisa menghela napas panjang.


"Ummi...." teriak Via sembari berlari menghampiri Aira. "Ummi, lihat deh, Via bisa melukis huruf arab bersambung, di ajarin Om Jibril," celetuknya sembari menunjukan bukunya.


"Wah, Via semakin pintar sejak tinggal bersama Om Jibril," kata Aira sambi tersenyum.


"Ummi, Via kangen Abi, kapan Abi kesini? Apa masih sibuk?" rengek Via dengan mata sendunya yang membuat hati Aira terenyuh.


"Sayang, sabar sebentar ya. In Shaa Allah, nanti Abi kesini kok," lirihnya.


"Tapi kapan? Via sudah kangen, boleh telfon Abi?"


"Boleh," jawab Aira, ia pun mengambil ponselnya dan sekali lagi mencoba menghubungi nomor Arsyad yang sudah aktif namun masih tak ada jawaban. Aira mencobanya lagi dan lagi namun hasilnya masih sama.


"Sayang, Abi nggak jawab, mungkin masih sibuk," lirih Aira, ia menatap Via dengan sayu. Anak malang, fikirnya.


"Ya sudah, nanti Via berdo'a, semoga Abi nggak sibuk lagi dan bisa kesini."


...----------------...


"Iya, Ummi," Arsyad menjawab dengan tegas. "Dan aku mohon, jangan anggap ini sebagai pembekangan pada Ummi, bukan sama sekali! Aku melakukan ini demi kebaikan Anggun juga. Dia juga berhak mendapatkan kebahagiaannya sendiri, dan aku nggak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan yang pantas untuk dia. Aku terjebak, antara cinta dan rasa penyesalanku pada Aira dan itu membuat aku benar-benar tercekik di setiap harinya. Aku sudah memikirkan ini matang-matang, dan ini adalah keputusan akhirku, Ummi."


Kini Arsyad menatap Anggun yang tampak hancur dan sekali lagi, itu justru membuat Arsyad teringat dengan Aira. Aira juga sangat hancur saat tahu Arsyad memiliki wanita lain. Aira juga menangis tanpa henti bahkan sampai pingsan saat itu.


"Mungkin sekarang ini sangat menyakitkan bagimu, Anggun. Tapi itu lebih baik, karena masih ada harapan, mungkin besok rasa sakit itu akan reda. Sementara jika aku paksakan kita bersama, maka tiada hari yang akan kita lewati tanpa luka."


"Kamu ... bahkan nggak ... nunggu sampai aku melahirkan," desis Anggun tersendat-sendat sembari menyeka air mata yang terus mengalir deras di pipinya.


"Aku nggak bisa terus melukai diri kita sampai kamu melahirkan."

__ADS_1


"Jika ini keputusan kamu..." sela pak Arif. "Baik, kami akan bawa Anggun pulang dan kami nggak akan membiarkan kamu menemui anakmu nanti!" Gertaknya namun Arsyad justru tersenyum tipis.


"Apa kalian akan sekejam itu? Membuat seorang anak kehilangan kasih sayang orang tuanya hanya karena kalian membenci keputusanku? Kalian mengaku orang tua yang mencintai anak kalian..." Arsyad berkata melirik Ummi Ridha yang saat ini menatapnya. "Tapi keputusan kalian hanya berdasar perasaan kalian sendiri... "


Ummi Ridha merasa tersinggung dengan ucapan Arsyad, apalagi Arsyad berkata sembari melirik dirinya. "Kamu yang nggak faham perasaan kami, Arsyad. Ummi benar-benar kecewa sama kamu, keputusan kamu benar-benar di luar akal sehat. Menceraikan istri yang sedang hamil dan setelah syukuran kehamilan. Ummi merasa udah nggak kenal kamu lagi, kamu bukan Arsyad anakku yang aku didik selama ini. "


Air mata Arsyad meluncur begitu saja mendengar ucapan sang ibu yang bak duri itu, dan sekali lagi, ia memeluk ibunya itu yang hanya diam tak bergeming." Maafkan aku, Ummi. Tapi karena aku tahu aku nggak akan bisa menjadi suami yang baik, seperti kata Aira dulu, maka lebih baik aku melepaskan pernikahan ini. Aku nggak mau terus berlaku aniaya pada Anggun."


"Pergi dari rumah ini!" Arsyad tercengang mendengar perintah sang ibu, napasnya tercekat di tenggorokannya namun kemudian ia mengangguk.


"Aku yakin, suatu hari nanti Ummi akan sadar, aku bukannya bermaksud membangkang." Arsyad menarik tangan sang ibu dan menciumnya. "Aku akan pulang, saat Ummi kembali tenang."


Tanpa fikir panjang, Arsyad pun pergi dari rumah, mungkin untuk sementara ia akan membiarkan keadaan seperti ini sampai sang ibu akan tenang dengan sendirinya dan mengerti maksud dari keputusan Arsyad.


Arsyad tahu, keputusan ini sudah terlambat karena Aira sudah pergi. Ia juga tahu mungkin dirinya memang kejam dan membuat keputusan di luar akal sehat, tapi Arsyad melakukan ini demi dirinya juga Anggun.


Arsyad tahu, sangat salah mengkhianati Aira dan membohonginya, bahkan ia tahu yang di pertaruhkan juga mahligai cintanya. Tapi Arsyad tak pernah tahu, bahwa ia benar-benar tak sanggup kehilangan mahligai cinta itu.


Dulu, ia memang menerima Anggun sebagai istrinya karena ia masih bersama Aira, tapi setelah Aira pergi, Arsyad baru menyadari, tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi Aira di hati juga fikirannya.


Dan sekarang ia tak bisa menerima Anggun, karena setiap kali melihat Anggun, ia akan teringat, karena itulah ia kehilangan Aira-nya.


**TBC...


...---------------...


Hai, semuanya. Selamat malam 😘


Hadir lagi dong, bagaimana? Masih seru? Ya dong, jangan lupa kopi panasnya biar SkySal melek terus untuk mengukir kisah cinta Zeda Humaira Emerson ini ya.

__ADS_1


Oh ya, mampir ke Novel SkySal yang satunya neh, comedy romance, sebagai obat pereda tegangan karena Aira dan Arsyad. 😂**



__ADS_2