
"Kamu gila?" Pekik Bu Husna saat Anggun mengutarakan keinginannya yang menurut bu Husna sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin bisa masuk akal kalau Anggun ingin bu Husna mengatakan pada Arsyad bahwa Anggun telah melahirkan lebih cepat dari waktunya, sehingga kelak Arsyad takkan curiga saat bertemu dengan anak angkat Anggun dan menganggap itu memang anaknya.
"Kamu bilang kamu mau jujur sama Arsyad, Anggun. Kenapa sekarang kamu merencanakan kebohongan ini?" Tanya Bu Husna sambil menggelengkan kepalanya, tak habis fikir dengan apa yang sebenarnya ada dalam benak Anggun.
"Ya sudahlah, Ma. Toh Arsyad sebenarnya tetap punya anak 'kan sama aku, apa salahnya aku bilang Maita yang ini anak kami? Sama aja kok," ucap Anggun dengan Santainya.
"Tapi bagaimana kalau Arsyad sampai tahu kamu bohong sama dia, Anggun? Bisa di laporin ke polisi kamu," seru bu Husna yang sudah geram dengan tingkah Anggun.
"Dia nggak akan tahu kalau mama dan papa nggak kasih tahu dia," balas Anggun yang membuat Bu Husna terperangah.
"Mau kamu itu sebenarnya apa sih?" desis Bu Husna. Anggun tak menjawab, ia justru teringat dengan apa yang di katakan Aira di telfon dan itu kembali memancing emosinya.
"Mas Arsyad memang sudah menceraikan kamu, tapi dia tetap akan tanggung jawab sama anak kamu."
"Aku juga akan bertanggung jawab sebagai ibu keduanya."
"Karena dia anak suamiku maka itu aja menjadi anakku juga."
Kata-kata Aira terus terngiang dalam benak Anggun dan sungguh membuat hatinya tertusuk.
"Mama cuma takut kalau Arsyad tahu maka dia akan melaporkan kamu kke polisi, dia pasti merasa di tipu, Anggun." lanjut bu Husna.
Anggun terdiam sejenak sembari menatap wajah tenang Maita yang tertidur di pangkuannya. "Aku akan memberi tahu nanti," kata Anggun yang seketika membuat Bu Husna langsung tertawa hambar.
__ADS_1
"Setiap kebohongan yang kamu buat kamu selalu mengatakan akan memberi tahu dia nanti ... akan memberi tahu dia nanti dan begitu seterusnya. Sampai kapan, Nak? hm?"
...***...
Lahore, Pakistan.
Arsyad menikkmati pagi yang begitu sejuk dengan cahaya matahari yang menghangatkan dengan kembali berlatih berjalan.
"Berapa lama lagi kamu akan bisa jalan dengan Normal?" tanya Abi Gabriel sembari duduk di sebuah kursi, ia memperhatikan Arsyad yang kini berjemur di halaman.
"Aku nggak tahu, Bi." Arsyad menjawab dengan tenang.
"Ck, kamu jadi laki-laki terlalu lemah, Arsyad," jawab celetuk Abi Gabriel yang seketika membuat Arsyad terkekeh. "Baru kecelakaan begitu sudah lumpuh berbulan-bulan, kamu tahu? Aku pernah hampir terlindas truck tapi aku masih sehat bahkan aku bisa berkelahi dengan puluhan orang," paparnya dengan sedikit nada sombong.
"Tapi aku sering kecelakaan lebih parah dari kamu ini, banting mobil ke beberapa mobil juga pernah. Jatuh ke dalam jurang, di tusuk, di tembak, bahkan sering di keroyok sampai luka-luka, tapi nggak sampai lumpuh" ujar Abi Gabriel yang masih tak mau di remehkan.
"Wah, akalau begitu Abi benar-benar super hero," puji Arsyad yang sebenarnya setengeh mengejek.
"Pernah juga aku kelahi di hotel, Abi di tusuk sampai berdarah, itu pertama kalinya Abi ketemu sama Ummi Firda," ucap Abi Gabriel dan kini raut wajahnya bak pujangga yang sedang jatuh cinta ketika ia mengingat pertemuan pertamanya dengan Ummi Firda, ingatan itu masih begitu segar dalam benaknya, seolah kejadiannya baru kemarin.
"Dan Abi masih hidup sampai sekarang, ya. Sungguh anugerah," kata Arsyad.
"Aku pernah dengar, orang pendosa itu terkadang matinya di undur-undur sama Allah, karena Allah ingin melihat apakah dia akan bertuabat atau nggak, Allah menambahkan usia itu sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri. Tapi sayangnya dulu aku nggak tahu itu, dulu aku fikir aku pasti selamat dari maut karena sudah terlatih melawan maut sejak kecil, maklum, anak mafia."n
__ADS_1
Arsyad tertawa kecil mendengar kalimat terakhir ayah mertuanya, apalagi dengan nada yang terdengar lucu di telinganya. Begitu juga dengan Abi Gabriel yang tertawa mengingat masa lalunya.
"Ternyata yang aku lawan bukan maut yang sesungguhnya, kalau di fikir-fikir dulu aku sombong, ya." Abi Gabriel tertawa mengingat masa lalunya yang menurutnya itu adalah masa jahiliyah dalam hidupnya.
Dulu ia memang sombong, menganggap selamatnya ia dari berbagai situasi karena ia sudah terlatih, apalagi hanya segelintir orang yang punya kemampuan seperti dirinya, padahal ternyata itu hanya sebagian kecil dari pertolongan Tuhan untuknya. Dan Tuhan selalu memberikan kesempatan agar ia bertuaubat tak perduli sudah ada puluhan atau bahkan ribuan nyawa yang melayang di tangannya.
"Iya, karena Abi berkuasa dalam segala hal, kekuasaan atau uang," jawab Arsyad. "Tapi sekarang Alhamdulillah, Abi adalah orang yang sangat rendah hati." AKU Abi Gabriel hanya mencebikan bibir mendengar pujian Arsyad itu.
Tak berselang lama Ummi Firda datang dengan membawa dua teh dan sepiring biskuit untuk menemani pagi mereka.
Arsyad pun kini kembali duduk ke kursinya namun tak lama kemudian Aira tiba-tiba datang dengan raut wajah yang nampak cemas.
"Ada apa, Sayang?" Tanya Arsyad.
"Anggun, Mas..." jawab Aira langsung membuat Arsyad mengernyitkan keningnya.
"Anggun? Kenapa dia?" Tanya Arsyad.
"Katanya dia harus di operasi karena mengalami kontraksi?"
"Apa?"
TBC...
__ADS_1