
Arsyad menunggu Aira di kamarnya dengan tidak sabar, ia sudah menyiapkan diri dan hati untuk mengungkapkan semua kebenaran yang telah ia sembunyikan selama ini.
Arsyad juga telah menyiapkan hati untuk menerima akan seperti reaksi Aira nanti.
Sementara itu, Aira kembali ke kamarnya setelah ia dari kamar ibu mertuanya dan mengungkapkan isi hatinya. Aira tahu, mungkin ibu mertua kesal, atau tidak terima atas apa yang Aira katakan. Tapi Aira tahu dengan pasti, hal itu sudah seharusnya ia lakukan, demi kesehatan hatinya, juga demi ibu mertuanya sendiri, karena mempermalukan Aira di depan orang lain sama saja seperti memperlakukan Arsyad.
"Mas, kamu nggak mau kerja?" Tanya Aira karena ia melihat suaminya itu masih duduk santai di tepi ranjang, bahkan Arsyad belum mengganti bajunya.
"Ada yang mau ... aku bicarakan," ucap Arsyad gugup. Ia membawa sang istri duduk bersamanya di tepi ranjang, Aira menatap suaminya itu dengan satu alis terangkat.
"Oh ya? Tentang apa? Apa sesuatu yang kamu sembunyikan itu? Hm?" Tanya Aira sambil terkekeh yang membuat Aira semakin kehilangan kata-kata.
"I-iya," jawab Arsyad, tangannya gemetar dan tubuhnya terasa panas dingin, dadanya bergemuruh.
"Sebenarnya, kamu...."
Arsyad"...." ucapan Arsyad harus terpotong saat tiba-tiba Ummi Ridha masuk ke kamarnya, ia tampak sangat cemas membuat Arsyad dan Aira merasa bingung.
"Ada apa, Ummi? Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Aira yang ikutan cemas.
"Nggak apa-apa, Aira. Ummi cuma..." Ummi Arsyad menatap Arsyad kemudian mendekati putranya itu. "Emh, Arsyad. Ada yang mau Ummi bicarakan sama kamu," tukasnya kemudian ia menyeret Arsyad keluar dari kamar.
Sementara Aira menatap penasaran dengan apa yang di katakan ibu mertuanya, kenapa tidak ia katakan di depannya saja?
"Ada apa?" Tanya Arsyad setelah mereka menjauh dari kamar.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang, Anggun masuk rumah sakit, Syad," seru Ummi Ridha panik yang tentu saja membuat Arsyad juga panik.
"Masuk rumah sakit bagaimana? Kenapa?" Tanyanya.
"Ummi juga tidak tahu, tapi kata Husna dia pingsan dan sekarang sudah ada di rumah sakit. Kita harus kesana sekarang!" Arsyad tak bisa langsung menjawab, ia masih berfikir sejenak.
Di satu sisi, ia ingin segera mengatakan kebenaran yang ia sembunyikan. Namun di sisi lain, ia juga cemas dengan keadaan Anggun yang kini sedang hamil.
"Ayo, Arsyad. Kita pergi sekarang, tunggu apalagi?" desak Ummi Ridha.
"I-iya, Ummi...." jawab Arsyad gelagapan.
__ADS_1
Ia pun kembali ke kamarnya untuk pamitan pada Aira. "Ada apa?" Tanya Aira saat Arsyad kembali ke kamar.
"Em, Sayang. Aku pergi sebentar, ya. Nanti aku kembali secepatnya," ujar Arsyad, ia mengecup pelipis Aira kemudian pergi dengan buru-buru bahkan ia tak membiarkan Aira bertanya atau mengatakan sesuatu.
Aira hanya menatap suaminya itu dengan nanar dan ia memegang dadanya yang tiba-tiba saja berdebar kencang.
"Ya Allah, mungkin mas Arsyad hanya sedang ada pekerjaan penting," gumam Aira, mengusir perasangka yang mulai menggelitik dalam hatinya atas perubahan sikap Arsyad akhir-akhir ini.
Untuk mengalihkan fikirannya, Aira pun pergi ke kamar Via untuk membangunkan putrinya yang pasti masih tertidur itu.
Saat masuk ke dalam kamar Via dan menatap wajah tenang sang putri, seketika hati Aira pun sedikit tenang.
"Sayang...." Aira mengusap pipi Via dengan lembut. "Ayo bangun, ini sudah siang," bujuknya. Via menggeliat malas sambil menguap dan mengucek matanya.
"Ayo, Sayang. Subuhmu sampai hilang lho," ucap Aira lagi.
Via pun bangun meskipun dengan mata yang masih terasa begitu berat. "Ngantuk, Ummi," rengeknya.
"Iya, nanti siang bobok lagi. Sekarang Aira bangun, mandi, Ummi mau buat sarapan yang enak, Via mau apa?"
"Hem, baiklah, Tuan puteri. Akan Ummi Siapakan," kata Aira.
Via pun segera turun dari ranjangnya dan bergegas menuju kamar mandi, sedangkan Aira turun ke dapur untuk membuatkan roti yang Via mau.
Saat Aira sibuk mempersiapkan sarapan, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan Via dari kamarnya yang membuat Aira sangat terkejut dan tanpa fikir panjang ia langsung berlari ke kamar Via.
"VIA...." teriak Aira saat ia melihat anak angkatnya itu sudah tergeletak di lantai kamar mandi.
Aira sangat panik apalagi saat ia melihat kepala Via berdarah, Aira langsung menggendong putrinya itu dan membawanya ke ranjang kemudian Aira langsung menelepon Arsyad, namun suaminya itu tidak menjawab.
Aira menghubungi ambulance karena ia sangat panik, ketakutan dan ia tidak bisa berfikir apa yang harus ia lakukan sekarang selain memanggil ambulance dan membawa Via ke rumah sakit.
...***...
Kini Via sudah berada di rumah sakit dan di tangani oleh Dokter, Aira masih tak bisa menyembunyikan ketakutannya apalagi saat ia melihat noda darah Via di bajunya.
Aira juga merasa bersalah, sangat merasa bersalah. Seharusnya ia tidak membiarkanku Via ke kamar mandi sendirian, itu berbahaya.
__ADS_1
"Ini salahku, ya Allah. Maafkan aku, aku nggak bisa jadi ibu yang baik untuk Via. Maafkan aku." Aira terus menggumamkan hal yang sama sejak tadi.
Tak lama kemudian seorang Dokter mendatangi Aira yang masih tampak sangat cemas.
"Bu Aira...." Aira langsung menoleh.
"Dok, bagaimana keadaan putriku? Dia baik-baik saja, 'kan?" Tanya Aira dengan suara gemetar.
"Tenanglah, Bu. Pasien hanya mengalami cidera ringan," ucap Dokter yang menangani Via yang membuat Aira langsung bernapas lega dan mengucapkan puji syukur dari lubuk hatinya yang paling dalam.
"Alhamdulillah, ya Allah. Lalu, apa Via sudah sadar, Dok?" Tanya Aira.
"Belum, saya yakin sebentar lagi akan sadar, Bu. Pasien pingsan hanya karena shock, lukanya tidak parah," ujarnya.
"Apa boleh saya menjenguknya sekarang?"
"Iya, tentu. Silakan, Bu Aira. Saya permisi, panggil saya jika terjadi sesuatu."
"Terima kasih banyak, Dokter."
Aira masuk ke ruangan Via, ia menatap anak angkatnya itu dengan sendu. "Maafin Ummi, Sayang. Ummi nggak bisa jadi ibu yang baik sampai kamu celaka seperti ini," gumam Aira, ia mengecup tangan mungil Via dengan lembut. "Ummi janji, In Shaa Allah, setelah ini Ummi akan jauh lebih hati-hati menjagamu."
Aira membelai kepala Via dengan sayang kemudian mengecupnya. "Cepat sembuh ya, Nak."
Tak berselang lama seorang suster menemui Aira dan meminta Aira menyelesaikan registrasi rumah sakit.
Aira pun mengikuti Suster itu namun ketika keluar dari kamar Via, kening Aira berkerut saat ia melihat Arsyad bersama masuk ke salah satu ruangan disana.
"Tunggu, Sus...." seru Aira. "Em, aku ingin menemui seseorang yang sepertinya aku kenal, apa bisa suster menjaga anakku sebentar saja?" Tanya Aira namun pandangannya lurus menatap ruangan yang di masuki Arsya.
"Tentu, Bu. Tidak masalah." setelah mendengar jawaban suster, Aira langsung menghampiri itu.
Dengan pelan ia membuka pintu itu dan seketika hatinya seperti di hujam ribuan anak panah saat ia melihat pemandangan di depannya.
Sang suami, sedang duduk di sisi seorang yang terbaring di ranjang rumah sakit dan keduanya saling berpegangan tangan.
"Arsyad...."
__ADS_1