
"Udah nggak ada lagi lagi perlu di bicarakan!" Arsyad mendesis tajam. "Aku cuma tanya! Kenapa kamu lakukan ini, huh? kenapa?" Teriak Arsyad marah, dadanya bergemuruh dan darahnya terasa mendidih.
"Aku tahu apa yang aku lakuin!" Anggun pun ikut berteriak pada Arsyad dengan air mata yang bercucuran. "Tapi semua ini juga gara-gara kamu, Mas. Kamu yang salah!"
Anggun menarik tangan Arsyad dan membawanya pergi menjauh dari orang tuanya. "Nggak usah pergi kemana-mana, aku mau kita bicara disini!" Seru Arsyad lantang sembari menghempaskan tangan Anggun dengan kasar.
"Kamu tahu nggak apa yang kamu lakukan itu kesalahan yang sangat besar, Anggun! Kamu menghancurkan kami semua!"
"Please...." mohon Anggun, ia melipat kedua tangannya di dada dan menatap Arsyad dengan memelas. "Aku nggak mau membicarakan masalah ini di depan orang tuaku. Aku mohon, aku bisa jelaskan semuanya l," lirihnya memelas yang membuat Arsyad tertawa sinis.
Anggun melirik sekitarnya, keluarganya akan sangat malu jika sampai para tetangga mendengar apa yang sedang terjadi.
Bahkan, kini mereka sudah menarik perhatian para pengendara yang melewati jalan di depan rumah Anggun
Meskipun lingkungan rumah Anggun adalah perumahan, namun jalanannya selalu ramai bahkan meskipun sudah larut malam.
"Kamu takut orang tuamu tahu kelakuan asli kamu, huh?" sinis Arsyad.
"Arsyad, jangan berteriak pada anakku, ingat dia bukan istrimu lagi!" seru pak Arif sambil melangkah lebar mendekati Arsyad, kemudian ia mendorong Arsyad menjauh dari Anggun. Bahkan, pak Arif terus mendorong Arsyad hingga ke pinggir jalan sambil memarahi Arsyad. "Kamu mau mempertontonkan kebodohan di depan rumahku, huh? Ayo pertonton disini biar semua orang tahu seperti apa kamu yang sebenarnya! Datang ke rumah orang tengah malam, marah-marah seperti orang gila. Ingat, kamu sudah bukan siapa-siapa kami karena kamu sudah menceraikan Anggun!"
"YA! DIA BUKAN ISTRIKU LAGI DAN AKU SANGAT BERSYUKUR KARENA AKU SUDHA MENCERAIKAN DIA!" hati orang tua Anggun begitu hancur mendengar apa yang di katakan Arsyad tanpa perasaan bersalah, mereka begitu marah, murka, dan pak Arif bahkan hendak memukul Arsyad namun Arsyad menangkis tangannya.
"Om tahu nggak? Dia itu sudah..."
"Mas, please...." mohon Anggun berderai air mata, ia sangat takut orang tuanya tahu apa yang sudah ia lakukan, mereka akan sangat marah, malu dan kecewa.
"Kamu nggak punya hati, Anggun! Semua cinta yang kamu katakan untukku itu nggak ada! Semua cuma obsesi kamu! Cinta kamu itu racun dalam hidup aku!"
"Arsyad! Jaga bicara kamu!" Seru Bu Husna marah. "Anggun itu sangat mencintai kamu, dia sedang mengandung anak kamu, dan kamu terus menyakitnya seperti ini. Kamu itu manusia apa bukan, huh?"
"Dia yang manusia apa bukan?" Arsyad balas berteriak penuh emosi yang membuat Anggun pun ikutan emosi. "Dia sudah memisahkan... Aghhh..."
BRAAAKKKKK
__ADS_1
"ARSYAD...." Anggun berteriak histeris saat melihat sebuah mobil yang menabrak tubuh Arsyad yang tanpa sengaja ia dorong dengan keras, mobil itu melaju dengan sangat cepat hingga membuat tubuh Arsyad terlempar dan terjatuh di aspal, dalam sekejap, tubuh Arsyad sudah bermandikan darah dan tubuhnya kaku, Arsyad berusaha membuka mata namun ia tak kuasa, untuk bernapas pun rasanya begitu sulit.
"Aku mencintaimu, Zauji."
"Sebesar apa?"
"Aku tidak bisa mengukur ukurannya, tapi cinta indah, mahligai cinta kita begitu indah."
"Yeah, mahligai cinta kita terlalu besar untuk di ukur, hanya bisa di rasa dalam hati."
...----------------...
"Ummi..."
"Ummi, bangun...."
"Ummi...." Via berusaha membangunkan Aira yang mengigau tidak jelas dalam tidurnya, bahkan Aira mengeluarkan air mata di sudut matanya. Tak hanya itu, Aira memegang tanga Via, mencengkramnya dengan kuat hingga membuat Aira terbangun dari tidurnya.
"Sakit, Ummi. Hikss...."
"Ma-maaf, Sayang. Ummi nggak sengaja," ucap Aira dan ia mengernyit saat merasakan pipinya yang basah. Aira menyentuhnya dan menyadari air mata mengalir begitu saja di pipinya.
"Ummi kenapa? Ummi mimpi buruk?" Tanya Via sembari menghapus air mata sang ibu dengan tangan kecilnya.
Aira tak mampu menjawab, suaranya tercekat di tenggorokannya, dadanya terasa sesak bahkan ia seolah kesulitan bernapas. Mimpi buruk? Aira tidak merasa tadi ia bermimpi buruk, hanya saja...
"Ummi kenapa? Mungkin Ummi tadi lupa baca do'a," kata Via lagi.
"Entahlah, Sayang. Ummi..." Aira memegang dadanya dan berusaha mengatur napas.
"Kata bunda Kinan, kalau mimpi buruk itu jangan takut, Ummi. Kan mimpi cuma bunga tidur, terus kata bunda Kinan, kalau takut, kita ingat saja yang membuat kita senang, suka, bahagia. Kalau Via mimpi buruk, Via akan ingat-ingat ada bunda peri yang jaga Via," celotehnya panjang lebar yang berhasil membuat hati Aira sedikit tenang.
Ia menggengam liontinnya dengan erat dan mengingat kembali kebersamaannya dengan Arsyad dulu. Dimana itu adalah masa-masa paling indah dalam hidupnya.
__ADS_1
"Jika kau bahagia disana, aku akan berusaha ikhlas disini. Agar kita sama-sama bahagia dimanapun kita berada."
"Via bobo lagi ya, Sayang. Atau mau ikut Ummi sholat?"
" Via boleh tidur lagi, Ummi? Via masih mengantuk." Via berkata sembari menguap.
"Baiklah, Sayang. Tidur gih."
...----------------...
Anggun hanya bisa duduk melamun dengan tatapan kosong, ia tak bisa menangis, tak bisa berkata-kata. Apa yang terjadi pada Arsyad membuatnya begitu shock.
Ia tak sengaja mendorong Arsyad hingga Arsyad tertabrak pengendara mobil yang sedang mabuk.
Saat ini mereka semua sudah berada di rumah sakit, menunggu Arsyad yang sedang berada di ruang operasi karena Arsyad mengalami luka yang sangat parah.
Dan sampai detik ini, mereka masih takut untuk mengabari Ummi Ridha.
"Dengarin Papa, Anggun...." pak Arif mengguncang pundak Anggun yang sejak tadi seperti mayat hidup. "Yang terjadi hanya kecelakaan, okay? Dan yang salah si pengendara mobil, dia menyetir dalam keadaan mabuk, jadi ini salah dia."
Anggun mendengar apa yang di katakan sang ayah untuk yang kesekian kalinya namun ia tak tahu harus menanggapi seperti apa.
Kecelakaan ini sudah di tangani oleh polisi dan pengendara mobil itu juga sudah di tangkap.
"Kita harus memberi tahu Ridha, Mas. Sebelum dia tahu dari orang lain. Apalagi kecelakaan itu terjadi di depan rumah kita." desak Bu Husna.
Sementara pak Arif kini justru menatap Anggun dengan tajam, ia masih tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Anggun dan Arsyad, apalagi ia tak pernah melihat Arsyad begitu kalap seperti tadi, melabrak Anggun seperti orang gila di tengah malam.
"Sebenarnya apa yang terjadi Anggun? Apa yang sudah kamu lakukan? Kenapa Arsyad benar-benar marah sama kamu seperti tadi?"
Anggun masih tak menjawab, ia sudah membuat Arsyad celaka dan jika sampai orang tuanya tahu bahwa ia telah memanipulasi pesan Arsyad, maka orang tuanya pasti akan sangat marah, Ummi Ridha pun pasti akan sangat murka.
Sekarang, apa yang harus ia lakukan? Kenapa semuanya berakhir seperti ini?
__ADS_1
TBC...