
Jibril membawa Via dan Aira jalan-jalan, tentu juga bersama ketiga teman Jibril yang membuat perjalanan terasa begitu menyenangkan.
Bayu yang terus mengoceh tentang gadis Pakistan yang katanya bening-bening, cantik, imut dan manis. Ia ingin membungkus nya satu dan membawanya ke Indonesia, katanya.
Arkan yang tak pernah lepas dari kameranya, ia merekam perjalanan mereka, juga Rehan yang mengoceh dan sok tahu tentang tempat itu.
Tujuan mereka saat ini adalah taman Shalimar. Salah satu tempat bersejarah yang menghadirkan bukti kejayaan seni arsitektur dari masa lampau. Sejarah mencatat, taman ini dibangun pada 1641 oleh penguasa Dinasti Mughal kala itu, Sultan Shah Jahan dan menjadi salah satu tepat wisata yang wajib di kunjungi.
Keindahannya sungguh luar biasa dan Aira sangat menyukai berada di taman ini meskipun entah kenapa, sampai saat ini hatinya masih resah gelisah tanpa sebab. Aira bahkan sampai menelfon orang rumah, untuk memastikan mereka baik-baik saja, namun perasaan resah itu masih ada.
"Aduh, salah kita datang ke tempat ini dalam keadaan lajang," celetuk Rehan yang langsung membuat teman-temannya tertawa, begitu juga dengan Aira.
"Kalau begitu, kamu harus nabung lagi, Rehan. Biar bisa kesini lagi setelah punya pasangan," kata Aira.
"Iya sih, tapi aku harus mencari pasangan yang tepat. Di zaman sekarang, banyak cowok ganteng dan cewek cantik, tapi sedikit yang setia, aku cuma butuh yang setia," jawab Rehan.
"Hah, benar tuh. Makanya, nggak apa-apa kita jomblo, sampai menemukan pasangan yang tepat," Bayu menimpali.
"Dari pada jadi tapi cerai di tengah jalan, 'kan?" sambung Rehan yang seketika membuat hati Aira terkesiap dan teman-teman Jibril itu pun menyadari bahwa mereka telah salah bicara. Bahkan kini Jibril tampak jengkel pada teman-temannya itu.
"Ma-maaf, Ai. Tadi ... maksud kami..."
"Nggak apa-apa kok, kalian nggak salah," ucap Aira sambil tersenyum tipis di balik cadarnya. "Justru, aku harap kalian mengambil pelajaran dari hancur nya atau pun kekalnya hubungan orang lain. Jika lain melihat hubungan orang lain kekal, tiru apa yang mereka lakukan. Jika kalian melihat hubungan orang lain hancur, maka hindari apa yang mereka lakukan. Karena setia itu mahal, dan sebuah hubungan itu sesuatu yang sangat berharga "
"Benar, Ai." Bayu berkata dengan tegas.
"Setuju, Ai." Rehan pun tak mau kalah.
"The best lah kamu ini, pantas dulu Rehan sempat naksir kamu tapi nggak berani deketin," tukas Arkan yang membuat Jibril langsung menatap Rehan dengan tajam, Aira juga terkejut mendengar apa yang di katakan Arkan itu.
__ADS_1
Sementara sang tersangka hanya bisa meringis sambil garuk-garuk kepala. "Apa'an sih, nggak bener itu." Rehan berkata dengan wajah yang memerah, bahkan ia tampak tersipu seperti anak gadis yang sedang di rayu.
"Sudah, akui saja, lagian Aira pasti menolak pria seperti kamu," ujar Bayu.
"Karena itu aku nggak mau ngaku, wong sudah pasti di tolak," cicit Arkan yang membuat Jibril menahan senyum geli.
"Nah 'kan? Dulu dia itu naksir berat sama kamu, Ai. Tapi takut sama bapak kamu katanya," seru Bayu.
"Iya, datang ke rumah kamu alasan mau ketemu Jibril. Padahal cuma pengen liat kamu"
"Sudahlah, lagian itu sudah lama. Waktu itu aku masih remaja," kata Rehan malu, bahkan saking malunya, ia langsung pergi dari sana.
Hal ini membuat hati Aira sedikit terhibur, dan harus ia akui, ketiga sahabat kakaknya ini memang sering main ke rumah Aira dulu. Namun Aira sangat jarang menemui mereka, apalagi menyapanya. Karena saat ada tamu, Jibril akan menyuruhnya masuk ke kamar dan tidak keluar kecuali ada perlu
Aira sedikit heran, kenapa Jibril tidak berubah hangat dan kocak seperti teman-temannya. Tapi memang itulah yang membuat pertemanan mereka sempurna.
Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka, mengambil foto dan video sebanyak mungkin di taman bersejarah itu. Bahkan, Via pun tampak sangat menyukai tempat itu
"Itu memang hobi dia, cita-citanya ingin jadi fotografer," jawab Jibril.
"Aira, ayo! Foto juga sama Via!" seru Arkan namun Aira menggeleng.
"Ayo lah, biar ada kenang-kenangan sama Via," bujuk Arkan.
"Iya, Dek. Kita foto bertiga ya," sambung Jibril dan Aira pun setuju.
Jibril berpose dengan begitu kaku, ia berdiri di samping Aira dan itu membuat Arkan dan kedua temannya tertawa.
"Ayolah, bro. Ini bukan foto ijazah, jangan kaku begitu, senyum dong!" seru Bayu.
__ADS_1
"Tahu! Anak ini bisa melakukan banyak hal keculia tersenyum," sambung Arkan kesal. Lagi-lagi hal itu membuat Aira berhasil tertawa.
Ia juga menyuruh Jibril tersenyum, bahkan Via mencontohkan cara tersenyum. "Begini, Om. Hiii..." Via menarik kedua sudut bibirnya, tersenyum lebar menampilkan sederetan giginya yang di setengahnya sudah di makan ulat, kemudian ia meletakkan kedua jarinya di pipi. "Pasti Om keliatan ganteng nanti," kata Via.
Dengan konyolnya, Jibril mengikuti pose Via, tersenyum lebar dengan kedua jari di pipinya.
Tanpa Jibril sadari, ada orang lain yang memperhatikannya bahkan mengambil gambar Jibril diam-diam.
"Oh Gosh! Dia sangat tampan, macho, suaranya seksi, tapi dia berpose seperti barbie. Dan itu tak menghilangkan ketampanannya sedikitpun. Ufff, aku ingin menciumnya."
"Cium aja, Elizabeth." Eliza langsung menoleh, menatap temannya yang seolah menantangnya untuk mencium Jibril. "Dia juga orang Indonesia kok, buktinya dia bicara bahasa Indonesia."
"Janganlah, ada istri sama anaknya." tolak Eliza. "Ya udah, pergi yuk."
"Yakin neh nggak mau nyapa suami orang yang udah kamu lamar tadi malam?" Tanya temannya sambil terkekeh. Eliza menatap Jibril yang kini masih di ajarkan berpose lucu dan imut.
"Nanti deh, kalau misalnya ketemu lagi, aku akan cium dia, biar lamarannya sempurna."
'Haha, aku pegang omonganmu, Elizabeth "
...----------------...
Ummi Ridha tidak bisa tidur semalaman karena hatinya merasa tak tenang dan ia terus memikirkan Arsyad tanpa henti. Ia semakin cemas saat ia tak bisa menghubungi Arsyad.
Karena itulah, pagi-pagi sekali ia langsung ke restaurant untuk melihat keadaan Arsyad. Namun Ummi Ridha tak melihat ada mobil Arsyad disana dan masih tak ada orang di restaurant
"Ya Allah, Arsyad dimana ya." Ummi Ridha menggumam cemas, dadanya bergemuruh hebat, instingnya sebagai seorang ibu rasanya tak mungkin salah, saat ini Arsyad pasti dalam masalah.
Saat ia hendak masuk ke mobilnya, ia mendapatkan telfon dari bu Husna.
__ADS_1
Ummi Ridha tercengang bahkan ia hampir jatuh saat mendengar apa yang di katakan Bu Husna dari seberang telfon. Ummi Ridha berpegangan pada pintu mobil dan seketika napasnya terasa berat, dadanya terasa sakit seperti di hujampedang, seluruh tubuhnya lemas dan panas dingin.
"Ar-Arsyad kecelakaan, Ri. Dia ada di rumah sakit sekarang."