Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #91 - Kerinduan Dalam Cinta


__ADS_3

"Ini bener alamatnya, Tuan?" tanya Bi Sri yang mendorong kursi roda Arsyad memasuki sebuah komplek perumahan.


Mau tak mau, Arsyad membawa Bi Sri ke Pakistan karena tak mungkin Arsyad mengajak Fahmi. Dan tentu saja, asisten rumah tangganya ini sangat kegirangan karena untuk pertama kalinya di bawa ke luar negeri.


Arsyad sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Aira dan Via, ia juga sengaja tak memberi tahu Aira atau siapapun tentang keberangkatannya, ia ingin memberi kejutan. Dan Arsyad sangat bersyukur karena ia mendapatkan alamat Aira dari Arkan, teman Jibril yang juga di kenal oleh Arsyad, tentu setelah Arsyad memohon dan memberikan berbagai macam alasan.


Arsyad memperhatikan lingkungan sekitarnya, Arsyad senang karena Aira dan Via tampaknya tinggal di lingkungan yang nyaman.


Bi Sri dan Arsyad sama-sama tak membawa banyak barang karena mereka tak mau kerepotan, Arsyad juga berjanji akan membelanjakan Sri nantinya.


"Berhenti..." seru Arsyad saat ia melihat Via di depan sana, senyum lebar dan penuh haru tak bisa Arsyad sembunyikan apalagi saat tatapannya bertemu dengan tatapan Via.


Dentak jantung Arsyad berdebar kencang, hatinya bergemuruh, dengan susah payah ia berusaha berdiri dari kursi rodanya apalagi saat ia mendengar suara Via yang memanggilnya dengan penuh rindu.


"Abi..."


Via berlari ke arahnya dengan sangat cepat, air mata Arsyad mengalir begitu saja dari sudut matanya tanpa bisa ia bendung. Arsyad yang tak sanggup berdiri lama akhirnya terjatuh ke tanah dan bersamaan dengan itu Via berhambur ke pelukannya, ia memeluk Abinya itu dengan begitu erat.


"Abi, Via kangen Abi," rengek Via di sertai isak tangisnya. Arsyad mendekap Via dengan sangat erat, ia meghujani pucuk kepala Via dengan kecupan-kecupan penuh cinta juga kerinduan. Air mata Arsyad mengalir deras dan ia tak sanggup berkata-kata.


"Abi kemana aja? Apa Abi sibuk terus? Apa Abi nggak punya ongkos yang mau kesini? Apa Abi nabung dulu biar bisa beli tiket? Mahal tiketnya ya, Bi? Via nungguin Abi setiap hari, Via sama Ummi kangen Abi karena Abi lama yang mau kesini?" Arsyad hanya bisa menjawab celeotehan Via itu dengan pelukan dan ciuman, Arsyad sungguh tak sanggup untuk bersuara.


Kini Arsyad mendongak, seketika tatapannya bertemu dengan tatapan wanita yang telah menyihirnya. Tatapan itu masih sama, membuat jantung Arsyad berdebar hebat, membuat ia tak mampu berfikir jernih, membuat suatu rasa dalam hatinya membuncah.


Aira terpaku di tempatnya, menyaksikan Arsyad dan Via melepas rindu yang selama ini tertahan. Aira tak mampu membendung air matanya, bibirnya bergetar, menahan isak tangis agar tak lolos. ia tak tahu kenapa ia menangis, apakah terharu melihat kebahagiaan Via? Ataukah karena rasa rindu pada kekasih hatinya yang menghantam hatinya. Cadar yang Aira kenakan sekali lagi menjadi saksi air mata Aira untuk Arsyad.


Sementara Javeed, pria itu hanya bisa menatap nanar Via yang kini ada di pelukan sang ayah, hati Javeed terasa hampa saat Via melepaskan tangannya begitu saja dan berlari pada ayahnya. Javeed merasa kehilangan, hatinya seperti tercubit.


Aira dan Arsyad masih saling pandang, menatap penuh cinta dalam kerinduan. Seandainya bisa, Arsyad ingin berlari ke pelukan Aira, namun ia bahkan tak sanggup berdiri.

__ADS_1


Aira pun demikian, ia ingin berlari dan berhambur ke pelukan pria yang masih bertahta di hatinya, namun langkah kaki Aira terasa berat, ia terlalu terkejut dengan kedatangannya.


"Abi..." Via mencolek pipi Arsyad, menarik perhatian Arsyad. "Abi kenapa? Kok wajahnya ada bekas luka?" tanya Via cemas, kedua mata Via pun masih berembun, menyimpan sisa air mata. "Abi juga duduk di kursi roda, kenapa? Abi sakit apa? Kita berobat ya, biar Abi sehat dan bisa jalan-jalan sama Via. Oh ya, Abi. Adik bayinya bisa gerak dalam perut Ummi, Via suka pegang, adik bayinya juga bisa kelihatan di layar yang kayak tv itu." Via masih bereceloteh ria tanpa henti, membuat Arsyad terkekeh.


Arsyad menyeka air mata Via di pipinya dengan lembut kembudian Arsyad mengecup pipi dan kening Via berkali-kali.


Javeed yang melihat itu begitu terharu, ia bisa melihat kerinduan dan cinta yang begitu besar di mata Arsyad untuk Via. "Via sudah semakin besar, ya," ucap Arsyad akhirnya dengan suara yang bergetar, bahkan bibirnya masih bergetar pula. "Putri Abi sepertinya tumbuh dengan sangat baik." lanjutnya.


"Iya, Abi. Via suka di sini, tapi karena abi lama nggak datang, sukanya udah hilang, nggak jadi. Tapi sekarang Abi sudah datang, Via suka lagi, kita tinggal di sini ya, Bi. Sama Ummi, sama adik bayi, oh ya, sama Om Javeed juga."


Arsyad kembali mendongak dan kini tatapannya bertemu dengan tatapan pria di depannya. Namun kini Arsyad mengalihkan tatapannya pada Aira yang perlahan melangkah mendekati Arsyad.


Detak jantung Arsyad semakin cepat, seolah ia anak remaja yang akan di datangi oleh gadis pujaannya.


Tatapan Arsyad dan Aira terkunci, begitu dalam.


Sayang, hati Javeed teriris mendengar kata panggilan itu apalagi saat ia menyadari tatapan Aira pada Arsyad masih penuh cinta.


Arsyad berusaha berdiri dan tanpa di sangka, perlahan Aira memegang pundak Arsyad, membantu Arsyad kembali duduk ke kursi rodanya. "Terima kasih," ucap Arsyad tersenyum samar.


"Seharusnya kamu istirahat sampai pulih, bukannya..." Aira tak mampu harus berkata apalagi.


"Aku bisa menahan semua rasa sakit ini, Humaira. Tapi aku udah nggak bisa menahan rasa rinduku pada kalian," ujar Arsyad.


Kini tatapan Arsyad tertuju pada perut buncit Aira, Arsyad tersenyum, membayangkan anaknya sedang tumbuh disana. "Assalamualaikum, anak Abi," ucap Arsyad di depan perut Aira. "Sayang, ini pertama kalinya kamu dengar suara Abi, kamu senang?" Sekali lagi Arsyad menitikan air mata harunya. Aira hanya bisa memandangi Arsyad yang kini fokus memandangi perutnya.


Dengan tangan yang gemetar, Arsyad menyentuh perut Aira dan di saat yang bersamaan Aira merasakan janinnya bergerak, Arsyad pun dapat merasakan pergerakan itu. "Sepertinya dia menyambutku, ayahnya," tukas Arsyad. Aira ikut terharu melihat kebahagiaan di mata Arsyad.


"Dia siapa?" Tanya Aira saat menyadari keberadaan bi Sri.

__ADS_1


"Bi Sri, dia yang merawatku selama ini karena aku udah nggak punya siapa-siapa lagi," jawab Arsyad kemudian lirih.


Bi Sri tersenyum ramah pada Aira dan sedikit menganggukan kepalanya, kedua mata Bi Sri juga berkaca-kaca, karena ia pun begitu terharu menyaksiakn pertemuan keluarga yang saling mencintai dan merindukan itu.


"Terima kasih," ucap Aira pada Bi Sri, ucapan terima kasih itu keluar begitu saja dari mulutnya, seolah hatinya memang sangat berterima kasih pada orang yang telah menjaga Arsyad-nya.


Sementara Via, ia berlari menjemput Javeed, membawanya ke Arsyad dan memperkenalkannya. "Bi, kenalin ini Om Javeed, sahabatnya Via. Dan ini Abi Via Om, dulu dia ganteng tapi sekarang gantengnya hilang sedikit karena wajah abi ada bekas lukanya," celetuk Aira yang membuat Arsyad terkekeh namun Javeed hanya diam saja dengan raut wajah yang sedikit kaku.


Arsyad mengulurkan tangannya pada Javeed namun Javeed tak langsung menyambutnya, ia hanya menatap tangan Arsyad dengan perasaan yang bergemuruh. Hingga tiba-tiba Via menarik tangan Javeed hingga menerima uluran tangan dari Arsyad. Aira melirik Javeed sekilas, tampak jelas luka di mata pria itu membuat Aira merasa tak enak hati.


"Arsyad Ibrahim," ucap Arsyad memperkenalkan diri. "Ayah dari anak-anaknya Aira."


**TBC...


...🌱**...


...Cuma mau mengingatkan, bahwa kisah ini di mulai dari nol. Jadi, nggak ada pemeran yang saling kenal sebelumnya, okay?...


...Jadi jangan bilang kisahnya nggak nyambung....


...Loh, tapi kok namanya sama?...


...Iya, aku suka nama mereka. Hehe....


...Terus, kenapa nggak lanjutin aja yang dari dulu?...


...Ribet, nggak mau lagi ada kisah balas dendam. Biar alurnya beda-beda....


Tapi tenang aja, aku pastikan kalian BAPER sama cerita ini kok, 😘

__ADS_1


__ADS_2