Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson - Bonchap


__ADS_3

kebahagiaan takkan ada artinya jika tak merasakan penderitaan terlebih dahulu, seperti kesehatan yang takkan terasa artinya jika tidak pernah sakit.


Dalam hidup, selalu di butuhkan dua sisi untuk menyadari dan menghargai sesuatu. Seperti gelap, mungkin beberapa orang takut padanya tapi mereka justru menyukai cahaya bulan maupun gemerlap bintang. Tahukah mereka? Bintang dan bulan takkan bercahaya tanpa kegelapan?


Membenci, terkadang seseorang mudah sekali membenci, apakah mereka membenci orang lain ataukah takdirnya sendiri. Namun apa gunanya membenci? Selain menyakiti hati kita sendiri, merusak hari kita dan itu sangat merugikan.


Kita manusia hayalah aktor di dunia yang hanya panggung sandiwara ini, bahkan tanpa sadar terkadang kita harus memainkan peran ganda. Sanggupkah kita? Pasti sanggup, jika kita mau mengerti bahwa semuanya hanya sandiwara dan akan ada akhirnya suatu hari nanti.


Seperti Aira yang berhasil menyadari perannya dan memerankannya dengan sangat baik dari ia di lahirkan, tumbuh sebagai seorang putri yang sangat baik untuk keluarganya. Ia juga berhasil memerankan perannya sebagai istri dengan sangat baik meskipun segala rintangan menghantamnya bahkan pernah membuatnya terpukul mundur. Dan sekarang, ia harus melanjutkan ke peran selanjutnya, menjadi seorang ibu yang baik dan teladan..


"Livia..." seperti biasa, ia selalu memanggil putrinya itu dengan lembut. Tak berselang lama, Via turun dari kamarnya dan ia sudah sangat rapi dengan seragam sekolahnya.


"Ummi, padahal Via mau libur hari ini," rengek Via memasang wajah cemberutnya.


"Acaranya nanti malam, Sayang. Jadi pagi ini Via masih bisa sekolah, sepulang sekolah nanti Via dan Kak Tanvir akan di bawa berbelanja sama Om Jibril." Aira memasukan bekal makanan Aira ke tas pink bocah itu.


Malam ini adalah ulang tahun pertama baby Ali, Via dan Tanvir merengek ingin bolos sekolah namun mereka ada ujian yang tak boleh di lewatkan meskipun sebenarnya tentu saja bisa di lewatkan. Namun, Aira harus mengajari anak-anaknya agar disiplin dan tidak hidup manja dengan kekuasaan yang di miliki orang tuanya.


Suara nyaring Tanvir terdengar menggelegar di rumah itu, ia memanggil Via seperti biasa. "Livia, sudah siap belum?" Tanyanya.

__ADS_1


"Sudah, Kak," jawab Via.


"Ya sudah, ayo..." Tanvir mengulurkan tangannya pada Via yang segera di sambut oleh Via. "Sudah belajar untuk ujian hari ini?" Tanya Tanvir penuh perhatian.


"Sudah, di bantu Abi tadi malam," jawab Via sambil tersenyum lembut.


Mereka bergandengan tangan menuju mobil mereka yang selalu senantiasa mengantar mereka ke sekolah setiap hari. Aira mengantar sampai depan, tak lupa ia mengingatkan para bocah itu agar menjadi anak yang rajin dan baik di sekolah.


Setelah anak-anak itu pergi, Aira segera bergegas ke kamarnya dan ia melihat suaminya masih tertidur. Aira duduk di samping sang suami, ia mengelus kepalanya dengan lembut. Aira tahu, suaminya itu pasti sangat kelelahan karena sejak beberapa hari yang lalu sibuk mengurus restaurant yang baru di buka juga sibuk mengurus acara ulang tahun baby Ali.


"Sayang, bangun..." Aira berbisik lembut di telinga Arsyad. Arsyad mengulum senyum meski matanya masih terpejam, ia menarik Aira hingga Aira terjatuh di pelukannya.


"Semoga pertanda baik, seperti mimpi Nabi Yusuf, bintang mimiliki arti saudaranya." seketika kedua mata Arsyad terbuka lebar, ia beranjak duduk tentu dengan Aira yang masih ada dalam pelukannya.


"Apakah artinya Via dan baby Ali akan punya adik?" Tanya Arsyad dengan mata berbinar.


"Inysaallah, nanti. Baru kemarin aku suci dari haid," kekeh Aira. Ia memang berharap akan segera hamil lagi, ia ingin memberikan adik baru untuk anak-anaknya. Namun sepertinya takkan datang secepat itu.


Sementara Arsyad yang mendengar kata 'baru suci dari haid' justru tampak semakin girang, bahkan ia langsung mendorong Aira hingga terjatuh ke ranjang kemudian Arsyad mengungkung tubuh istrinya itu. "Benar, Sayang. Baru suci dari hadi, artinya ... jika sekarang kita..." Arsyad membuka kancing daster Aira pelan-pelan, sementara Aira hanya menahan senyum saat mengerti apa mau sang suami setelah seminggu lebih berpuasa. "Lagi subur, Sayang. Kenapa kita nggak coba buat adik untuk Via dan baby Ali."

__ADS_1


"Mas, ini masih pagi..." Aira mengingatkan saat Arsyad yang mulai mencumbu wajahnya dan bibirnya dengan lembut.


"Terus kenapa? Justru itu bagus, hm? Akhir-akhir ini aku sangat lelah dan aku butuh pelepasan agar lelahku hilang, Sayang. Lagi pula, mumpung baby Ali lagi sama kakek neneknya. " wajah Aira bersemu merah mendengar penuturan sang suami.


Aira menangkup pipi suaminya itu kemudian menyapukan bibirnya di permukaan bibir Arsyad, ia memberikan kecupan-kecupan lembut yang membuat jiwa Arsyad bergetar hebat. "Pintu belum di kunci..." bisik Aira mesra di bibir Arsyad.


Arsyad mengecup bibir Aira singkat sebelum akhirnya ia melompat dari ranjang dan berlari mengunci pintu, Aira tertawa geli melihat tingkah suaminya yang masih sama setiap kali minta jatah cinta itu.


Arsyad kembali ke ranjang, ia menatap mata istrinya penuh cinta. Ia membelai pipi sang istri, kemudian jempolnya mengusap bibir Aira yang begitu ranum bahkan tanpa polesan lipstik sedikitpun. Bibir Aira selalu terlihat seksi di mata Arsyad, begitu indah apalagi yang keluar dari bibir itu hanya kata-kata yang baik dan kata-kata cinta.


"Sekarang apa?" Aira bertanya dengan suara serak, detak jantungnya sudah tak terkontrol, wajahnya bersemu merah.


"Membawa cinta kita bertasbih," jawab Arsyad dengan suara parau sebelum akhirnya ia melanjutkan aksinya. Ia menyentuh Aira dengan cinta dan hasrat yang begitu imbang, ia memuja sang istri dengan tatapan dan sentuhannya yang selalu mampu membuai Aira, membawanya terbang ke angkasa.


"Belahan jiwaku."


...🦋...


Apakah bonchap ini cukup atau mau satu lagi?

__ADS_1


Masih adakah yang menunggu?


__ADS_2