Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #49 - Kabar Untuk Arsyad


__ADS_3

"Kasian Aira, ya. Di campakan cuma demi wanita seperti ini. Padahal kayaknya lebh cantik Aira."


"Bukan cuma cantik, Aira juga ramah dan baik. Dia tidak pernah tidak menyapa kita, ya. Nggak kayak situ tuh, main nyelonong aja."


"Aku benar-benar nggak nyangka, Arsyad ternyata pria tukang selingkuh. Istri seperti Aira di selingkuhi, dia fikir istri yang sekarang apa?"


"Buang berlian demi batu kerikil, kena batunya baru tahu rasa."


"Aku dengar yang menggugat cerai itu Aira, pantas sih menurut aku. Aira itu bukan wanita biasa, keluarganya kaya raya meskipun dari desa. Mereka nggak akan rugi kalau cuma kehilangan menantu seperti Arsyad."


"Benar, pasti masih banyak pria yang mengidamkan Aira menjadi istri."


Gosip dan gosip seperti itulah yang terjadi hampir setiap hari di lingkungan rumah Arsyad, apalagi ketika mereka melihat Anggun. Gosip itu tersulut begitu saja, selalu ada yang memulai dan takkan ada yang mengakihiri gosip itu padahal masih dengan tema dan alur yang sama setiap hari.


Anggun bukannya tak tahu bahwa ia menjadi bahan gunjingan yang empuk dan selalu hangat, namun mau bagaimana lagi? Ia tak mungkin mendatangi mereka satu persatu untuk membela diri.


Seperti saat ini, saat Anggun keluar rumah hanya untuk membuang sampah ke depan. Ibu-ibu kompleks langsung menyulut gosip ini dan itu.


Anggun segera kembali masuk ke dalam rumah dan berusaha mengabaikan apa yang orang katakan tentangnya.


***


Arsyad memainkan ponsel di tangannya sembari terus memikirkan Aira.


"Hubungi nggak ya?" Arsyad menggumam ragu. "Hubungi aja lah, Bismillah...." Arsyad pun mencari kontak Aira di ponselnya namun ia tak menemukannya. Arsyad langsug mengetik nomor Aira yang sudah ia hafal, namun tidak tersambung dan itu membuat Arsyad merasa bingung.


Ia pun mencoba menghubungi mantan ibu mertuanya, namun juga tak bisa, Arsyad mencoba menghubungi Abi Gabriel, Jibril, Micheal bahkan Zenwa, namun tak bisa.


Hati Arsyad bergemuruh, perasannya resah, cemas, takut. Ia bertanya-tanya kenapa tak ada yang bisa ia hubungi?


"Apa mungkin mereka semua ngeblokir kontak aku? Tapi kenapa?" gumamnya. "Astagfirullah, kalau Micheal bisa jadi memblokir kontak aku, tapi Ummi dan Abi? Nggak mungkin mereka melakukan ini?"


Arsyad beranjak dari kursinya kemudian ia segera bergegas ke ruangan Fahmi.

__ADS_1


Arsyad memberi tahu Fahmi bahwa semua keluarga Aira tidak bisa ia hubungi. Fahmi juga terkejut mendengar hal itu, rasanya sulit di percaya jika seluruh keluarga Aira memusuhi Arsyad.


"Sebelum pulang, aku masih berbicara baik-baik dengan Aira. Aku fikir hubungan kami masih bisa baik setidaknya sebagai orang tua Via. Tapi kenapa sekarang mereka seolah memusuhiku?" Arsyad menggumam bingung.


"Aku rasa kita minta Hulya menghubungi Tante Firda aja, bagaimana?"


"Ide bagus. Kita ke rumahmu sekarang sudah, ya."


**


Hulya menatap Arsyad masih dengan tatapan tajam, seolah Arsyad sebuah penyakit yang perlu di waspadai. Arsyad tahu Hulya masih kecewa padanya dan Arsyad seperti terima itu.


"Aku tahu aku salah, Hulya. Tapi semua sudah terjadi, tolong hubungi Ummi Firda. Aku ingin tahu keadaan Aira dan Via." bujuk Arsyad memelas.


"Sebenarnya tadi aku sudah telfon Tante Firda," ujar Hulya kemudian.


Setelah memcoba berkali-kali untuk menghubungi Aira namun tak bisa, akhirnya Hulya menghubungi Ummi Firda dan ia bernapas lega karena Aira baik-baik saja. "Mereka baik-baik aja kok." lanjutnya.


"Terus? Kamu ada bicara sama Aira? Kenapa mereka semua memblokir kontakku? Apa Aira menceritakan sesuatu?" Arsyad bertanya dengan penasaran sementara Hulya yang mendengar pertanyaan beruntun Arsyad itu hanya bisa mengernyitkan keningnya kemudian menggeleng.


"Kami hanya bertukar kabar, Aira dan Via baik-baik aja katanya," kata Hulya. "Aku juga nggak sempat kasih tahu dia kalau kamu dan Anggun sudah cerai, karena saat aku menyebut nama kamu, Aira langsung bilang ia tak mau membicarakan itu dan setelah itu dia memutuskan telfonnya." Arsyad menghela napas berat mendengar ucapan Hulya.


"Bisa kamu hubungi dia lagi? Aku ingin bicara," pinta Arsyad.


"Okay," jawab Hulya. Ia pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Ummi Firda. Namun tak ada jawaban. "Nggak di jawab," kata Hulya.


"Coba sekali lagi..." mohon Arsyad dengan memasang wajah memelas yang membuat Hulya tak tega. Ia pun mencoba menghubungi Ummi Firda lagi namun hasilnya masih sama, tak ada jawaban.


"Masih nggak di jawab."


"Telfon Abi atau Jibril?"


"Aku nggak punya nomor mereka."

__ADS_1


"Ini, aku punya."


****


"Ummi, kenapa disini banyak orang?" Tanya Via karena memang rumahnya kini kedatangan banyak orang bahkan Ummi Firda begitu sibuk di dapur untuk menyiapkan makanan dalam porsi besar.


"Karena malam ini Ummi mengadakan acara do'a bersama untuk adik bayi dalam kandungan Ummi, Sayang," jawab Aira sembari menata makanan ringan di atas meja.


Karena Aira tidak tahu berapa lama ia akan ada di Pakistan, ia pun memutuskan untuk mengadakan acara syukuran atas kehamilannya sebelum ia pergi.


"Oh, begitu." Via berkata sambil mengangguk-anggukan kepalanya. "Setelah di Do'akan, apa adik bayinya akan keluar, Ummi?" Aira langsung tertawa mendengar pertanyaan polos Via.


"Ya nggak, Sayang. Setelah di do'a kan, In Shaa Allah adik bayinya tumbuh sehat dalam perut Ummi, terus kalau nanti lahir, In Shaa Allah lahir dengan sehat dan selamat, terus nanti tumbuh menjadi anak yang baik, cerdas dan sholeh." Aira menjawab sambil tersenyum lebar.


Sementara itu, Jibril mengerutkan keningnya saat melihat ada panggilan masuk dari nomor tak di kenal, Jibril menjawab panggilan itu dan terdengar suara seorang wanita dari seberang telfon yang mengucapkan salam.


"Waalaikum salam, siapa?" Tanya Jibril dengan dingin.


"Aku Hulya." kerutan di dahi Jibril semakin dalam.


"Hulya? Ada apa?" Kembali ia bertanya dengan nada dingin.


"Arsyad ingin bicara dengan Aira."


Mendengar nama Arsyad, seketika wajah Jibril yang selalu terlihat dingin kini semakin dingin. Ia melirik Aira yang saat ini sedang mengobrol bersama Via sambil tertawa bahagia. "Berikan ponselnya pada pria itu!" geram Jibril sembari berjalan keluar dari rumah, tak ingin ada yang mendengar perbincangannya..


***


"Jibril, aku ingin berbicara dengan Aira. Aku ingin tahu keadaannya," ucap Arsyad dengan serius namun jawaban yang Jibril berikan sungguh menohok hatinya.


"Setelah kau mencampakkan adikku seperti sampah?" Hati Arsyad langsung terkesiap mendengar tudingan tajam itu namun ia tak punya kata-kata untuk membela diri.


"Bukankah kau sendiri yang ingin kalian fokus pada hidup kalian masing-masing, huh? Kau dengan hidupmu dan Aira dengan hidupnya, itu 'kan yang kamu katakan?" kening Arsyad berkerut mendengar ucapan Jibril itu apalagi ia merasa tak pernah mengucapkan hal seperti itu.

__ADS_1


"Jibril, aku tahu aku salah dan aku hanya ingin tahu kabar Aira dan Via."


"Mulai sekarang, mereka berdua milik kami dan kamu nggak berhak lagi bahkan atas Via sekalipun!"


__ADS_2