
^^^Lahore, Pakistan.^^^
Javeed mengetukan kakinya ke lantai sementara tatapannya memperhatikan setiap sudut rumah sakit itu.
Saat ini ia duduk bersama Via di ruang tunggu, menunggu Aira yang sedang memeriksakan kandungannya bersama Jibril.
Sesekali Javeed menghela napas lesu setiap kali ia mengingat wanita yang ia kira janda ternyata sedang mengandung.
"Om, kenapa Om begini terus sejak tadi...." Via menirukan Javeed saat menghela napas lesu.
"Ayah Via kemana?" Tanya Javeed kemudian tanpa berfikir dua kali.
"Abi di Indonesia, Om. Nggak ikut," jawab Via dan seketika raut wajahnya berubah sendu.
"Kenapa nggak ikut?" Javeed bertanya dengan serius, ia menelisik wajah mungil Via yang terlihat semakin mungil saat cemberut seperti sekarang.
"Kata Ummi, karena Abi sibuk," lirih Via dengan suara rendah.
"Oh, mungkin Abi memang sibuk, Via. Jangan sedih begitu," hibur Javeed padahal sebenarnya ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Aira dan suaminya.
"Nggak mungkin Abi sibuk terus, Om. Biasanya kalau hari minggu Abi nggak sibuk, Om. Abi nemenin Via sama Ummi. Tapi setelah Abi dan Ummi bertengkar, Abi tiba-tiba jadi sibuk terus," celetoh Via dengan begitu jujur dan itu membuat Javeed semakin penasaran.
"Bertengkar kenapa?" Tanya Javeed yang semakin gencar mengorek informasi dari informan yang tak mungkin berkata bohong.
"Via tidak tahu, Om. Itu urusan orang dewasa." Via menjawab dengan mata yang berkaca-kaca dan itu membuat hati Javeed terenyuh. "Mereka bertengkar dan menangis di rumah sakit," cicit Via dan kini kedua matanya sudah rabun karena air mata yang ia bendung, sementara Javeed masih diam dan menjadi pendengar yang baik untuk bocah ini. "Via kasihan sama Ummi, Om. Ummi pasti kangen Abi, Via juga kangen. Tapi Via nggak nangis kalau kangen Abi, sedangkan Ummi menangis hampir setiap malam."
Hati Javeed tercubit mendengar apa yang di katakan Via, dan hatinya terkesiap saat melihat Via yang mengucek kedua matanya dengan lengan bajunya, tak membiarkan air mata lolos dari pelupuk matanya.
"Sudah, jangan sedih," hibur Javeed sembari mengusap kepala Via dengan lembut. "Orang dewasa itu memang kadang memiliki sedikit masalah, dulu orang tua Om juga begitu. Tapi masalahnya cuma sebentar kok."
"Tapi Abi dan Ummi sudah berpisah lamaaaaa sekali, Om," seru Via dengan sangat serius.
Javeed tak tahu lagi harus berkata apa, dan sekarang ia tahu jenis luka yang tersembunyi di balik keindahan mata Nyonya Emerson itu.
"Jadi aku benar, Nyonya Emerson. Kau melarikan diri kesini."
__ADS_1
Sementara itu, Aira tak bisa menahan senyum penuh harunya saat ia melihat janinnya di layar monitor. Dokter mengatakan janin Aira tumbuh dengan sangat baik. Dokter juga menjelaskan bahwa Aira harus menjaga perasaannya tetap bahagia dan cara fikirnya juga harus tetap positif dan tenang, karena itu akan berdampak sangat baik untuk janinnya.
"Tuh, dengar apa kata Dokter. Kamu harus selalu bahagia dan tenang, buang semua fikiran buruk dan perasaan tak menentumu itu, hm." Aira hanya terkekeh mendengar ocehan sang kakak yang kini berusaha menghubungi Micheal dan Abinya untuk memberi tahu hasil pemeriksaan kandungan Aira.
Mereka melakukan video call, Aira langsung memperlihatkan foto USG-nya pada Abi, Ummi dan Kakaknya. Mereka terlihat senang melihat hal itu.
"Bagaiamana keadaan keponakan Kakak, Dek?" Tanya Micheal dengan antusias.
"Sehat, Kak. Alhamdulillah," jawab Aira dengan ceria.
"Terus keadaan kamu sendiri bagaimana, Sayang? Abi harap kamu bersenang-senang disana, menikmati waktu liburan bersama Via juga."
"Iya, Bi. Aku menikmati liburannya kok, Via juga kelihatannya suka ada disini meskipun dia nggak punya teman bermain. Soalnya ketiga teman Kak Jibril bisa jadi teman Via."
"Mereka dimana sekarang, Aira?" Tanya Ummi Firda.
"Sudah pergi jalan-jalan, Ummi. Mereka setiap hari jalan-jalan, tapi khusus hari ini, aku mau istirahat," jawab Aira.
"Iya, itu lebih baik, Nak. Lagian kamu masih punya banyak waktu disana," ujar Ummi Firda dan Aira hanya menganggukan kepalanya. "Oh ya, apa ada Hulya menghubungimu?"
"Iya, biasalah, ingin tanya kabar kamu."
"Nanti biar aku hubungi dia, Ummi."
"Nggak usah, Aira. Kamu nggak usah memikirkan yang disini, fokus saja sama Via dan diri kamu sendiri. Ummi sudah bilang ke Hulya kalau kamu sehat dan kamu baik-baik aja."
"Hm, begitu...."
...... ...
^^^Jakarta, Indonesia ^^^
Ummi Ridha menatap foto pernikahan Arsyad dan Aira dengan mata yang berkaca-kaca, di foto itu Arsyad terlihat sangat bahagia, senyum dan pancaran sinar matanya memperlihatkan betapa bahagianya ia saat itu.
Dan sinar kebahagiaan itu seolah sirna saat Aira pergi, bahkan kehadiran Anggun yang mengandung anaknya pun tak bisa mengembalikan sedikit saja pancaran kebahagiaan itu.
__ADS_1
"Apa yang harus Ummi lakukan supaya kamu sadar, Arsyad. Ini sudah beberapa hari, Nak. Tapi kamu masih tidur," gumamnya cemas.
"Ummi...." Ummi Ridha langsung menyeka air matanya saat mendengar suara Anggun dan pintu kamarnya pun terbuka.
"Ummi, aku sudah masak, Ummi makan ya," bujuk Anggun namun Ummi Ridha menggeleng.
"Ummi, nanti Ummi juga sakit, mas Arsyad pasti sedih kalau Ummi sakit." Anggun membujuk dengan lembut karena sudah beberapa hari ini Ummi Ridha sangat sulit untuk makan, bahkan minim pun hanya ketika ia merasa benar-benar haus, membuat Anggun merasa sedih juga merasa bersalah karena semua ini terjadi karena dirinya.
"Aku ikhlas jika aku harus sakit asal Arsyad sehat kembali, Anggun." Ummi Ridha berkata dengan putus asa.
"Jangan begitu, mas Arsyad pasti akan sehat kembali nanti, Ummi. Aku yakin itu."
"Entahlah, Anggun. Aku nggak bisa tenang, rasanya aku ingin membunuh pria yang menabrak Arsyad." Ummi Ridha menggeram marah dan itu membuat hati Anggun terkesiap.
Untuk yang kesekian kalinya Ummi Ridha mengucapkan hal serupa, dia ingin membunuh pria yang menabrak Arsyad dan itu membuat Anggun semakin ketakutan, bagaimana jika Ummi Ridha sampai tahu penyebab utama kecelakaan Arsyad adalah dirinya?
"Anggun, Ummi mau ke rumah sakit lagi," ujar Ummi Ridha kemudian yang membuat Anggun menghela napas berat.
Baru sejam yang lalu Ummi Ridha pulang dan sekarang ia ingin kembali ke rumah sakit?
"Nanti sore, Ummi. Sebaiknya sekarang Ummi istirahat ya," kata Anggun namun Ummi Ridha menggeleng tegas. Ia segera mengambil tasnya dan mau tak mau Anggun harus membiarkan Ummi Ridha pergi.
"Ya sudah, perginya sama aku ya, aku ambil tas dulu sama kunci mobil," kata Anggun dan Ummi Ridha mengangguk.
Mereka pun pergi ke rumah sakit namun sesampainya disana, Ummi Ridha di kejutkan dengan Dokter dan beberapa perawat yang berlari ke ruang rawat Arsyad.
Anggun dan Ummi Ridha begitu panik, mereka pun juga berlari dan mengintip dari kaca yang ada di pintu.
Sementara di dalam, Dokter berusaha mengembalikan detak jantung Arsyad yang sempat berhenti dengan alat kejut jantung.
Ruang rawat yang awalnya tenang dan hanya terdengar suara beep monitor kini berubah menjadi begitu tegang dan mencekam. Dokter dan para suster pun berusaha sebaik mereka untuk menyelamatkan Arsyad.
Di luar, Ummi Ridha tak kuasa melihat keadaan putranya dan itu membuat ia langsung jatuh pingsan. Anggun berteriak histeris sambil memanggil Dokter dan Suster untuk menolong Ummi Ridha.
TBC...
__ADS_1