
Pulang, satu kata itu membuat Via begitu girang, bahkan setiap hari ia sampai menghitung tanggal di kalender seperti yang ia lakukan saat menunggu Arsyad datang ke Pakistan.
Namun beda halnya dengan Via yang kegirangan, Arsyad justru merasa sedikit resah, takut dengan hasil tes DNA-nya nanti. Bagaimana jika yang di katakan Abi Gabriel benar?
Seharusnya Arsyad tak marah, ia tak mencintai Anggun. Namun, Arsyad pasti akan akan sangat marah karena ia di tipu. Dan bagaimana jika dugaan mereka salah?
Arsyad berjanji pada dirinya sendiri, ia akan sangat menyayangi anak itu dan akan merawatnya sebaik mungkin. Karena kini ia sadar, ia tak pernah memberikan kasih sayang pada anak itu sejak ada dalam kandungan Anggun. Yang ia lakukan hanya sejumlah uang, hanya sebuah angka, dimana anak itu berhak mendapatkan lebih dari itu.
"Mas..." Arsyad terlonjak saat tiba-tiba mendengar suara Aira.
"Ada apa? Kok melamun?" tanya Aira dengan begitu lembut.
Ia mendekati Arsyad yang saat ini sedang duduk di tepi ranjang. "Enggak apa-apa, Sayang," jawab Arsyad sambil tersenyum.
"Dari pada kamu melamun, mending kamu jagain Baby Ali," kata Aira sembari meletakkan baby Ali di pangkuan Arsyad.
__ADS_1
Dengan senang hati Arsyad memangku putranya itu, sementara Aira segera pergi keluar dan tak lama kemudian ia kembali dengan satu box salad buah." Mau? "Tanya Aira dan Arsyad mengangguk sambil mengulum senyum, Aira pun menyuapi suaminya itu.
"Mas, kamu janji 'kan nggak akan bohongi aku lagi?" Tanya Aira tiba-tiba yang membuat Arsyad terkekeh.
"Katanya kamu mau melupakan masa lalu dan mempercayai aku lagi, Sayang? Kok masih tanya-tanya terus," ujar Arsyad sembari menimang putranya yang kini merengek.
"Iya juga, ya. Kemarin aku yakin begitu, Mas. Tapi kok hari ini beda lagi." Aira ikutan terkekeh yang membuat Arsyad merasa gemas sendiri.
Hampir setiap hari percakapan itu terjadi, dan kini keduanya mulai terbiasa membicarakan masa lalu namun di iringi canda tawa. Bukankah ada pepatah mengatakan, jika seseorang mampu membicarakan masa lalunya yang menyakitkan sambil tertawa, maka sesungguhnya dia sudah sembuh.
"Ya Allah, Sayang. Aku sudah buka mulut lebar-lebar..." gerutu Arsyad yang membuat Aira terkekeh.
Ia tetap menikmati salad itu sendirian hingga tiba-tiba Arsyad menarik tengkuknya dengan satu tabganya dan langsung menjilati sisa salad yang belepotan di sudut bibir Aira.
Aira terkesiap dengan sentuhan tiba-tiba itu, darahnya berdesir hangat dan dadanya berdebar kencang.
__ADS_1
Sejak rujuk, ini adalah kali pertama Arsyad kembali menyentuh bibirnya dan itu seperti pertama kali Arsyad mencium Aira dulu.
"Hem, manis," kata Arsyad sambil mengedipkan matanya yang membuat Aira langsung merona.
Namun tanpa mereka sadari, Via dan Ummi Firda ternyata sedang menyaksikan mereka. Ummi Firda langsung menutup mata Via dengan tangannya namun Via justru menarik jari Ummi Firda hingga ia bisa mengintip kemesraaan kedua orang tuanya.
"Ehem ehem..." Ummi Firda berdeham yang langsung menarik perhatian Arsyad dan Aira.
"Eh, Ummi. Ada apa?" Tanya Aira yang berusaha bersikap biasa saja.
"Abi tanya, kalau pulang besok sore bisa nggak? Soalnya dia bilang ada masalah di perusahaan, dia harus pulang."
Aira melempar tatapannya pada Arsyad. "Bisa kok, toh kita jet pribadi Abi 'kan." ujar Arsyad.
"Okay, kalau gitu kalian siap-siap," seru Ummi Firda.
__ADS_1
Arsyad tentu sangat setuju dengan rencana kepulangannya besok sore, karena ia sudah tidak tahan dengan keresahan hatinya setiap kali memikirkan anak Anggun bukan anaknya.