Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #117 - Juga Melahirkan


__ADS_3

Aira duduk termenung di dekat jendela sembari mengusap perutnya, ia memejamkan mata, meraskan kehadiran buah hatinya yang saat ini sedang bergerak dalam perutnya.


Sudut bibir Aira tertarik, membentuk sebuah senyum lembut.


Seminggu telah berlalu sejak Anggun mengabarkan bahwa ia telah melahirkan, dan selama satu minggu ini pula setiap hari Arsyad menghubungi Anggun untuk menanyakan keadaan bayi mereka.


Aira cemburu, sangat cemburu. Namun ia menekan rasa cemburu itu apalagi Arsyad hanya menghubungi Anggun saat ada ada Aira, bahkan setiap kali Arsyad telfon, yang ia tanyakan hanya bayi mereka yang kata Anggun di beri nama Maita Ibrahim.


Hal itu wajar bagi Aira, karena bagaimanapun anak Anggun adalah anak kandung Arsyad. Namun ia harus memastikan bahwa Anggun dan Arsyad tak punya hubungan apapun lagi kecuali hanya sebagai orang tua Maita.


Dan mungkin Ini konyol, namun Aira sudah memutuskan ia dan Arsyad hanya akan memakai satu ponsel. Awalnya Aira berfikir mungkin Arsyad tak setuju mengingat ponsel Arsyad sangat penting karena urusan pekerjaan, namun nyatanya Arsyad tak masalah sedikitpun.


Aira sangay mensyukuri kehamilannya ini, karena janin yang ada dalam rahimnya itu selalu mampu mengalihkan rasa sakit Aira.


Aira terperanjat saat tiba-tiba merasakan sepasang tangan yang melingkar di perutnya, ia langsung menoleh dan...


Cup


Satu kecupan hangat mendarat di sudut bibirnya yang langsung membuat wajah Aira merona. "Kenapa malemun?" Tanya Arsyad sembari mengusap sudut bibir istrinya itu.

__ADS_1


"Aku lagi ngebayangin keadaan Anggun, Mas," jawab Aira lirih.


"Jangan khawatir, 'kan ada orang tuanya yang jaga dia." Arsyad mengaitkan dagunya di pundak Aira, ia menghirup aroma leher Aira dalam-dalam.


"Mas, menurut kamu aku ke kanak-kanakan nggak sih?" Tanya Aira sambil cemberut.


"Ke kanak-kanakan bagaimana?" Tanya Arsyad yang kini juga mengelus perut Aira.


"Karena sekarang kita cuma punya satu ponsel," jawab Aira lirih. "Mau bagaimana lagi, Mas. Rasanya aku pengen ngawasin setiap gerak gerik kamu, aktivitas kamu setiap saat. Maaf ya, aku masih dalam mood curiga." Bukannya tersinggung, Arsyad justru terkekeh mendengar ucapan Aira.


"Kamu tahu? Sejak kita hanya memakai satu ponsel untuk bersama, dan setiap kali aku melihat kamu memeriksa pesan masuk, aku tuh rasanya senang banget," ujar Arsyad yang membuat kening Aira berkerut.


"Nggak, Sayang. Justru aku senang setiap kali merasakan sikap posesif kamu, aku merasa benar-benar menjadi seseorang yang berharga buat kamu meskipun mungkin kamu melakukan itu karena aku sudah membuat kepercayaan kamu retak." Aira tersenyum mendengar kata-kata sang suami dan ia menganggukan kepalanya yang membuat Arsyad terkekeh.


"Kepercayaan aku bukan cuma retak, Mas. Tapi hancur berkeping-keping," tukas Aira. "Dan aku tahu, kepercayaan itu seperti sebuah gelas. Sekali pecah, nggak akan bisa di susun lagi. Sekalipun bisa, nggak akan sempurna lagi bentuknya. Tapi kepercayaanku buat kamu..." Aira berbalik badan, menghadap sang suami kemudian Aira menangkup pipi Arsyad dan menekannya hingga bibir Arsyad monyong.


"Mas Arsyad yang sekarang bukan mas Arsyad yang dulu, jadi gelas yang dulu pecah, aku singkirkan, dan aku membuat gelas yang baru. Sama seperti pernikahan kita yang dulu karena perjodohan, tapi pernikahan kita yang sekarang atas dasar cinta. Pengkhianatanmu yang dulu, atas dasar desakan ibu kamu. Dan aku percaya, tanpa dorongan dan desakan mendiang Ummi, kamu akan menjadi mas Arsyad yang sekarang dan seterusnya, yang nggak akan pernah menduakan aku."


Arsyad begitu tersentuh mendengar ucapan sang istri dan ia menganggukkan kepalanya berkali-kali." Maafin aku, Sayang. Aku sudah menolak Ummi ratusan kali, tapi Ummi mendesakku ribuan kali. "

__ADS_1


"Itu sudah masa lalu, Mas. Lagi pula Ummi sudah pergi, kita nggak perlu lagi membicarakan apapun tentang dia kecuali kebaikannya." Arsyad kembali menganggukan kepalanya, ia menatap mata sang istri dengan intens, kemudian ia mendekatkan wajahnya ke wajah Aira, ia ingin mencium Aira namun tiba-tiba Aira mendorngnay.


"Bentar, aku mau ke toilet," kata Aira sambil meringis.


Ia segera bergegas ke toilet dan tak lama kemudian ia keluar namun Aira tampak menahan sesuatu.


"Ada apa, Sayang?" Tanya Arsyad.


"Perutku sakit, Mas." Aira memegang perutnya dan ia segera duduk ke tepi ranjang.


"Sa-sakit? Apa kamu mau melahirkan?" pekik Arsyad antara cemas dan antusias.


"Ummi, Mas. Panggilin Ummi, ya Allah sakit..." Aira semakin merintih, raut wajahnya perlahan berubah cepat.


Arsyad langsung berteriak memanggil Ummi dan Abinya, tak berselang lama mereka datang dan langsung menghampiri Aira yang masih merintih kesakitan di atas ranjangnya.


Abi Gabriel langsung menggendong Aira sementara Ummi Firda menyiapkan mobil. "Ummi kenapa, Abi?" tanya Via cemas yang melihat ibunya di gendong oleh kakeknya itu.


"Sepertinya Ummi mau melahirkan, Sayang."

__ADS_1


__ADS_2