Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #82 - Harapan Yang Tersisa


__ADS_3

Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, tak perduli seberapa keinginan seseorang untuk memutar waktu atau mempercepat waktu, takkan ada yang mampu mengendalikan waktu, layaknya arah angin.


Begitu pula dengan takdir, tak ada yang mampu menerka, tak ada yang mampu mengendalikan namun bisa di tawar lewat doa dan usaha.


Di sepertiga malamnya, Aira senantiasa berdo'a agar ia selalu berada dalam naungan rahmat-Nya, agar ia memiliki keluarga yang damai, tentram dan tentu agar ia di karunia anak-anak yang baik.


Begitu juga dengan do'a Arsyad di setiap sujudnya, tak henti-henti nya ia meminta kesempatan kedua, untuk sekali lagi memiliki Aira, menjadi kekasihnya, imamnya, dan menjadi ayah yang baik untuk anak-anaknya kelak. Arsyad juga meminta, agar di lapangkan hatinya untuk memaafkan Anggun karena tak bisa ia pungkiri, Arsyad masih menyimpan api benci dalam hatinya setiap kali mengingat kecelakaannya juga kematian sang Ummi di sebabkan oleh Anggun.


Arsyad selalu berusaha mengendalikan fikirannya, bahwa semua yang telah terjadi itu memang sudah garis takdir yang Tuhan tuliskan untuknya. Ia tak perlu dan tak seharusnya menyalahkan orang lain.


Jika do'a Arsyad meminta kesempatan kedua untuk memiliki Aira kembali, Javeed pun berdoa hal yang sama untuk dirinya. Javeed tak pernah merasa jatuh cinta sebelumnya, namun setelah mengenal Aira, ia merasakan indahnya jatuh cinta. Bukan hanya cinta dari pria pada wanita, tapi juga cinta menjadi teman, saudara, apalagi dengan adanya Via. Hidup Javeed begitu berwarna, dan sekarang ia sedang berusaha mempertahankan warna itu.


Do'a dan usaha terbaik Javeed lakukan demi merebut hati Aira, tentu saja lewat Via. Ia melakukan segala hal untuk dekat dengan Via dan membuat Via bahagia karena hanya itu caranya agar ia juga kembali memiliki jarak dekat dengan Aira.


Di saat Javeed dan Arsyad sedang berusaha dalam alunan do'a yang tiada henti untuk cinta mereka, Anggun pun dalam usaha yang sama, namun bukan untuk meminta cintanya seperti dulu tapi untuk ketenangan jiwanya. Yang ketenangannya telah terenggut dan entah kapan akan ia dapatkan kembali.


Yang pasti, Anggun sedang berusaha menjalani hidupnya dengan baik, lapang dada dan tentu ikhlas menerima keadaan dirinya yang harus merawat kandungannya tanpa di dampingi pria yang seharusnya mendampinginya. Anggun sedih menerima kenyataan itu, namun ia teringat dengan Aira yang kini mengalami hal yang sama dengannya.


Mungkin, jika Anggun tak lancang membalas pesan Aira waktu itu, semuanya takkan jadi seperti ini.


Mungkin, jika Anggun benar-benar menghormati Aira seperti yang ia janjikan pada Arsyad, semuanya takkan jadi seperti ini. Dan mungkin, jika Anggun mau bersabar, bukan hanya merebut perhatian Arsyad tapi juga perhatian Aira, semuanya takkan jadi seperti ini. Tapi semua hanya tinggal kata 'mungkin' dalam kemungkinan yang begitu semu.


🌱


"Perkembanganmu sangat baik, Arsyad. Jika seperti ini setiap hari, kamu bisa pergi ke Pakistan setidaknya dua bulan lagi," kata Dokter Patrick namun itu tak membuat Arsyad tampak senang.


Tanpa terasa wwkatu berjalan begitu cepat, Arsyad berhasil melewati hari demi hari yang tak mudah baginya. Ia harus melawan rasa sakit, baik fisik maupun psikis.

__ADS_1


Kini Arsyad berusaha melatih kakinya agar ia kembali bisa berjalan dengan normal namun sepertinya itu tak mudah.


Arsyad sudah keluar dari rumah sakit, ia di rawat jalan di rumahnya dan tentu ia masih melakukan check up dengan rutin. Tak hanya berusaha sembuh agar bisa segera menjemput Aira, Arsyad juga berusaha mencari Anggun dan kedua orang tuanya yang kabur entah kemana. Pergi tanpa jejak, seolah di telan bumi. Arsyad mencari mereka karena mereka membawa bagian dari diri Arsyad.


"Aku ingin pergi bulan depan," kata Arsyad lirih.


"Nggak bisa, berdiri aja kamu nggak bisa," kata Dokter Patrick yang membuat Arsyad melongos kesal. "Lagi pula, suruh saja istrimu itu pulang, apalagi kamu sakit, kamu butuh dia," ujarnya yang sampai detik ini masih tak mendengar berita perceraian Arsyad dan Aira karena memang tak ada yang memberi tahu.


Arsyad tak bisa menjawab ucapan Dokter Patrick, walaupun sebenarnya ia memang bisa meminta Aira pulang apalagi saat ini Aira masih dalam masa iddahnya, Arsyad bisa kembali rujuk dengan mudah namun tidak! Arsyad ingin datang pada Aira, ia akan membuktikan bahwa Arsyad sangat membutuhkan Aira lebih dari yang Aira tahu.


🌱


Di desa Firda, Abi Gabriel mendapatkan telfon dari Dokter Patrick yang meminta agar Abi Gabriel memulangkan Aira, ia mengatakan merasa kasihan pada Arsyad. Tak hanya itu, Dokter Patrick bahkan menghakimi Aira dengan berbagai kata-kata yang mungkin akan membuat Aira sedih jika Aira mendengarnya.


"Lagi pula, bagaiamana bisa seorang istri ada di luar negeri saat suaminya hampir mati di ranjang rumah sakit, Gab. Aku yakin, kamu nggak mendidik anak kamu seperti itu. Kasian Arsyad."


"Aira sudah dewasa, dia berhak menentukan jalan hidupnya yang membuat dia tenang dan bahagia. Dan asal kamu tahu saja, Aira nggak pergi gitu aja. Dia pergi setelah bercerai dengan Arsyad."


"Apa? Bercerai?" pekik Dokter Patrick


"Memangnya Arsyad nggak ngasih tahu kamu?" Tanya Abi Gabriel dingin. "Dan Aira punya alasan yang kuat kenapa dia nggak pulang, aku juga nggak mungkin memintanya pulang dari Pakistan hanya untuk menjenguk Arsyad sedangkan dia sendiri mungkin masih sakit."


🌱


Lahore, Pakistan.


"Assalamualaikum..."

__ADS_1


Aira yang saat ini sedang mengepang Via di kejutkan dengan suara teriakan Javeed dari luar. "Cepetan, Ummi. Cepetan..." desak Via tak sabar.


Hari ini Javeed mengajak Via ke Festival dan Aira tak bisa mencegahnya, karena sesuai permintaan Javeed, ia tak ingin di jauhkan dari Via. Selain itu, Aira juga tak ingin merenggut Javeed dari Via karena Via bisa kembali sedih seperti saat Via di jauhkan dari Arsyad. Apalagi sejak dekat dengan Javeed, Via mulai jarang menanyakan Arsyad.


"Sebentar, Via," kata Aira. Ia mengambil kerudung Via kemudian memakaikannya.


"Assalamualaikum, Via...." kembali terdengar suara Javeed bersamaan dengan pintu yang di gedor.


"Waalaikum salam..." teriak Aira dengan suara lantang sembari membawa Via keluar.


Javeed bersandar di pintu dan sekali lagi ia mengetuk pintu sambil memanggil Via.


"Via, sudah belom..."


"Sudah..."


"Astagfirullah..."


Javeed terlonjak kaget saat tiba-tiba pintu terbuka, membuat ia hampir saja terjatuh. "Aduh, maaf," kata Aira.


"Kamu beneran nggak mau ikut?" Tanya Javeed dan Aira menggeleng sambil tersenyum tipis. "Yakin? Nggak takut sendirian di rumah?" goda Javeed yang seketika membuat Aira terkekeh.


Sejak hari itu, dimana Javeed mengungkapkan perasaannya pada Aira, Aira benar-benar menjaga jarak dari Javeed. Jika dulu Aira akan pergi kemana Via pergi dan itu sudah pasti bersama Javeed, tapi sekarang tidak lagi. Aira akan mengizinkan Via pergi bersama Javeed dengan beberapa syarat tertentu, seperti pulang tepat waktu, tidak boleh melakukan ini dan boleh melakukan itu.


"Okay, ibu rumah tangga. Kami pergi dulu," kata Javeed sembari menggandeng Via.


"Jangan lupa waktu, dan jangan makan sembarangan," kata Aira.

__ADS_1


"Siap, ibu rumah tangga. Bapak rumah tangga faham," jawab jawab Javeed yabg membuat Aira terkekeh, tanpa Aira sadari, panggilan yang Javeed sematkan padanya adalah doa yang ia panjatkan di setiap sujudnya. Menjadikan Aira ibu rumah tangga dalam rumah tangga impian Javeed.


__ADS_2