
Arsyad meluruskan kakinya di atas ranjang, memudian ia mengambil laptopnya dan mengecek laporan restaurant selama ia tidak mengurusnya.
Arsyad mengernyit kan keningnya saat ia menyedari sesuatu, ini hari minggu dan itu kembali mengingatkan Arsyad pada Aira.
Hari minggu adalah hari khusus bagi Arsyad, bahkan kata Ummi Ridha, love day, karena Arsyad selalu menghabiskan akhir minggunya hanya untuk Aira seorang.
Arsyad menutup laptopnya, kemudian ia menghubungi Micheal dan mengajak Micheal bertemu.
Sementara di kota yang berbeda, Anggun pun sedang menikmati akhir minggunya dengan menghabiskan waktunya di pantai bersama kedua orang tuanya. Hitung-hitung untuk menghibur diri, mengalihkan fikirannya sejenak dari berbagai masalah yang ada.
"Arsyad mencari kamu, Anggun. Mungkin dia mau memulai hubungan yang baru sama kamu, demi anak kalian," kata bu Husna sembari melangkah pelan di tepi pantai menemani Anggun. Mereka tahu Arsyad mencari mereka, dan jujur saja, Bu Husna masih berharap Arsyad bertanggung jawab bukan hanya pada anak Anggun tapi juga pada Anggun.
Sementara Anggun, ia sudah lelah berharap pada Arsyad, ia sudah menghapus semua harapan yang tersisa di dadanya. Kini ia hanya ingin fokus pada dirinya, mencari kebahagiaan yang pasti takkan mudah.
" Kalua dia mencari aku, dia pasti mencari Aira juga, Ma. Dan nggak mungkin mas Arsyad mau memulai hubungan yang baru sama aku, " sanggah Anggun dengan senyum kecut di bibirnya.
Bu Husna hanya menggela napas panjang mendengar ungkapan hati sang putri.
Ia melirik Anggun yang semakin hari semakin gemuk seiring semakin besarnya kandungannya.
"Kamu yang sabar ya, nak..." ucapnya sembari merangkul Anggun dengan lembut.
"Iya, Ma. Aku pasti sabar kok, demi anak aku. Setelah aku melahirkan nanti, aku pasti akan menemui Arsyad karena bagaimana pun dia tetap ayahnya. Tapi aku nggak mau minta apa-apa lagi, Ma. Aku capek berharap."
Bu Husna tersenyum mendengar ungkapan hati putrinya itu yang tampaknya semakin hari semakin tabah dan ikhlas.
__ADS_1
🌱
"Senang melihatmu kembali, Pak Arsyad." Arsyad tersenyum mendengar ucapan bu Kinan yang menyambutnya dengan hangat setelah beberapa bulan Arsyad tak berkunjung ke panti asuhan.
Kini Arsyad kembali berkunjung ke panti asuhan itu dengan di temani Micheal, dan tentu Micheal tak langsung manut begitu saja ketika Arsyad mengajaknya. Awalnya Micheal menolak dengan berbagai alasan, namun ketika Arsyad berkunjung ke panti asuhan tempat Via tumbuh besar selama ini, akhirnya Micheal mau ikut. Padahal Arsyad sengaja mendekatkan diri dengarkan Micheal karena ia ingin kembali memenangkan hati Micheal seperti dulu.
"Aku juga senang bisa kembali berkunjung kesini, Bu. Rasanya aku benar-benar merindukan anak-anak," kata Arsyad sambil menatap anak-anak panti asuhan yang bermain dengan riang gembira di halaman panti asuhan. Arsyad tersenyum saat melihat mereka tersenyum bahagia, dan mereka mengingatkan Arsyad pada Via.
Sedang apa putrinya itu sekarang? Apakah Via masih mengingatnya? Apakah Via merindukannya?
"Bagaiamana keadaan Via? Udah lama aku nggak dengar kabar dia, aku kangen sekali sama anak itu, kangen dia yang comel, aktif dan pintar," kata bu Kinan yang membuat Arsyad langsung tersenyum kaku, ia melirik Micheal yang duduk santai di sampingnya, bahkan Micheal seolah tak ingin membantu Arsyad menjawab pertanyaan itu.
Arsyad juga sudah lama tidak mendengar kabar Via, dan ia juga sangat merindukannya. Arsyad masih terus menatap Micheal hingga pada akhirnya Micheal tersenyum kemudian berkata. "Dia sehat, Bu. Alhamdulillah," kata Micheal.
Kabar perceraiannya Arsyad dan Aira serta kabar hadirnya orang ketiga sudah lama sampai ke telinga bu Kinan, dan saat itulah ia mengerti kenapa Alira pergi tanpa Arsyad, kenapa Via dan Aira seolah menghilang. Namun sayangnya, masalah itu terlalu pribadi dan baik Aira maupun Arsyad adalah orang-orang yang tertutup dengan kehidupan pribadi mereka.
"Alhamdulillah, dia sangat sangat sehat, Bu," kata Micheal lagi dan bu Kinan pun hanya mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum.
Hampir setengah hari Arsyad dan Micheal berada di panti asuhan dan kini mereka pun berpamitan pulang.
Selama dalam perjalanan, tak ada yang membuka suara, tak ada yang berbicara sehingga suasana terasa begitu sepi dan sunyi, hanya terdengar suara mobil yang lalu lalalang di jalan raya.
Dan saat berada di lampu merah, Micheal mulai membuka suara. "Jangan menyuruh Aira pulang," kata Micheal tiba-tiba yang membuat kening Arsyad langsung berkerut. "Aku nggak mau adikku kembali sedih, meskipun sekarang kamu sudah menceraikan wanita kedua itu, atau meskipun kamu masih cinta mati sama adikku, tapi itu tidak akan serta merta menghapus air matanya begitu saja."
Arsyad tersenyum tipis mendengar ucapan Micheal, ia pun menyenderkan punggungnya, mengamankan posisinya kemudian berkata," Aku nggak akan merayu Aira supaya pulang apalagi kasihan sama aku. Aira berhak mendapatkan lebih dari sekedar rayuanku, aku akan mengejarnya dan membuktikan bahwa aku hanya ingin menjadi miliknya. Jangankan hanya ke Pakistan, ke ujung dunia pun pasti akan aku kejar. " Arsyad berkata penuh percaya diri yang membuat Micheal tersenyum miring, meremehkan ucapan Arsyad.
__ADS_1
"Bagaiamana kalau dia masih ingin sendiri? Bagaimana kalau kamu udah nggak punya tempat di hatinya?"
"Akan aku lakukan apapun untuk merebut hatinya, akan aku korbankan apapun untuk mendapatkan tempat di hatinya, bahkan nyawaku."
🌱
Lahore, Pakistan.
"Via kangen abi, nggak?" Tanya Aira sembari membantu Via melukis buku gambarnya.
Via yang mendengar umminya mengucapkan hal itu tentu langsung mendongak, ia menatap Aira dengan mata bulatnya. "Kangen abi nggak, Sayang?" ulang Aira you dan Via langsung mengangguk pelan. "Mau telfon abi?" Tanya Aira lagi dan Via pun mengangguk sambil tersenyum tertahan.
"Ya sudah, sekarang Via ambil ponsel Ummi," titah Aira yang langsung membuat Via kegirangan. Dengan semangat ia pun mengambil ponsel Aira kemudian ia memberikannya pada Aira.
Aira menarik napas panjang sebelum akhirnya ia menghubungi nomor telfon Arsyad. Dada Aira berdebar saat mendengar suara telfon masuk.
Dan saat Arsyad menjawab telfonnya, menyapanya dengan suara beratnya, dada Aira langsung bergemuruh hebat. Jantungnya berdetak cepat dan ia tidak tahu harus berkata apa.
Akhirnya, Aira memberikan telfonnya pada Via yang langsung di sambar oleh Via dengan semangat.
"Assalamualaikum, Abi ...."
"Ini Via," kata Via dengan riang gembira. Tak terdengar suara Arsyad dari seberang telfon yang membuat Via langsung cemberut.
"Abi...." panggil Via namun masih tak ada suara Arsyad. "Ummi, nggak ada suaranya, mungkin pulsanya habis," jawab rengek Via.
__ADS_1
"Ada, Sayang. Ini abi...." ucap Arsyad dari seberang telfon dengan suara tercekat.