Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #38 - Siapa Yang Salah?


__ADS_3

"Aku harap kalian bisa bahagia...."


"Bukan aku yang membawanya dan nggak mungkin aku membawa dia ke rumah."


Aira tersenyum mendengar apa yang di ucapkan suaminya itu dengan suara yang bergetar dan mata yang berkaca-kaca.


Saat ini keduanya berada di ayunan, hanya berdua. Untuk terkahir kalinya, keduanya ingin berbicara dari hati ke hati.


"Aku tahu, katanya dia mencintaimu, Fahmi bercerita padaku," ujar Aira dengan suara tercekat. Dan memang benar, Fahmi sudah bercerita bagaimana pernikahan Arsyad terjadi. Paksaan dari ibunya dan Anggun ikut andil dalam paksaan itu. "Seandainya kamu cerita sama aku, Mas. Kalau aku tidak bisa punya anak. Dan seandainya juga kamu cerita, kalau ada wanita yang mencintaimu dengan begitu besar seperti Anggun, mungkin ceritanya tidak akan seperti ini. Mungkin aku akan ikhlas..."


"Aira...." Arsyad menggengam tangan mungil Aira, menatap matanya dengan lekat-lekat. "Maafin aku, Sayang."


"Kamu nggak salah, sebenarnya keputusan kamu nggak salah dengan mengikuti kemauan ibumu, Mas. Yang aku sayangkan cuma satu, kenapa harus di rahasiakan? Rasanya berjuta-juta kali lebih menyakitkan jika di rahasiakan seperti ini."


"Maafkan kebodohanku dan ketidak berdayaanku, Aira. Maaf karena aku nggak bisa menepati janji pernikahan kita." Arsyad berkata begitu lirih, penuh luka, juga kecewa pada dirinya sendiri.


Aira mendekati Arsyad dan ia memeluk Arsyad untuk terkahir kalinya sambil berbisik lirih, "Aku akan belajar ikhlas melepasmu, Mas. Semoga pernikahanmu yang kedua ini tidak gagal seperti pernikahan kita."


Arsyad menitikan air matanya mendengar bisikan bak duri itu, ia pun memeluk Aira dengan sangat erat, membiarkan air mata tumpah hingga membasahi pundak Aira.


Aira pun tak bisa membendung air matanya dan ia membiarkan tangis kembali menjadi pelepasan rasa sakit dalam dadanya.


Tak ada kata-kata yang mampu di ucapkan Arsyad dan Aira, keduanya hanya bisa terisak bersama.


Bukankah takdir itu sungguh tak tertebak?


Ia di pinang bak ratu, dan di campakkan bak debu.


Pernikahannya di penuhi tawa bahagia, perpisahannya di penuhi tangis sengsara.


Siapa yang salah dalam takdir ini ironis ini?


***

__ADS_1


"Aira sudah pulang," kata Hulya sembari membaca pesan yang di kirim Aira. Ia menghela napas berat, seolah ia ikut merasakan sesak atas apa yang terjadi pada pernikahan sahabatnya itu. Apalagi mengingat masa kebersamaan Aira dan Arsyad selama ini, rasanya tidak ada yang tidak iri pada pasangan serasi itu. Namun, apapun yang terjadi di akhir kisah mereka, itulah takdir yang tertulis saat kisah mereka di mulai.


Saat ini Hulya dan Fahmi sedang berada di rumah orang tua Hulya, karena itulah mereka tak bisa menemui Aira sebelum Aira kembali ke desanya.


"Rasanya aku kok kasihan ya sama Aira dan Arsyad, mereka pasti sedih banget," lirihnya.


"Aku juga kasihan, Hul. Tapi mau bagaimana lagi? Takdir mereka begini," balas Fahmi.


"Siapa yang kasihan?" Hulya dan Fahmi menoleh saat mendengar suara mamanya Hulya, bu Dara.


"Arsyad sama Aira cerai, Ma," kata Hulya lirih.


"Hah? Kok bisa?" pekik bu Dara tak percaya. "Selama ini mereka baik-baik saja, rasanya nggak mungkin ada alasan mereka cerai. Mereka pasangan yang sangat baik, sholeh dan sholehah. Cantik tampan, sama-sama kaya."


"Biasa lah, Ma. Ada ular masuk," ujar Hulya kesal.


"Hulya, kenapa bicara begitu?" tegur Fahmi.


"Memang itu kenyataannya, Mas. Wanita yang merusak rumah tangga orang lain, apa namanya kalau bukan wanita ular?"


"Tapi kenyataannya nggak seperti itu, Sayang," ujar Fahmi. "Kita sama-sama tahu Arsyad benar-benar di paksa sama ibunya."


"Kalau Anggun nggak ikutan maksa, ya ibunya nggak akan semakin menjadi maksanya, Mas. Tetap Anggun lah yang paling besar salahnya!" seru Hulya tanpa bisa di bantah.


"Sebenarnya masalahnya apa?" Tanya Ibu Dara yang sudah ketinggalan berita.


"Biasa lah, Ma. Keturunan masalahnya, Aira mandul kata Dokter."


"Hallah, itu baru kata Dokter. Belum kata Allah, kata pak Ustadz, istri Nabi Zakariya juga di vonis mandul oleh Dokter, Nabi Zakariya sudah sepuh. Tapi masih bisa hamil, apalagi Aira yang masih muda, sehat, gaya hidupnya juga sehat."


"Andai fikiran Tante Ridha kayak Mama, selamat pernikahan Aira dan Arsyad."


***

__ADS_1


Rasanya Aira sudah lelah menangisi keadaan yang ada, bahkan seandainya ia terus menangis sampai air matanya habis pun tak akan mengembalikan keadaan seperti semula.


Setelah melalui perjalanan yang tidak sebentar, akhirnya Aira sampai ke rumah yang ada di desa.


Jika sebelumnya ia selalu bahagia saat pulang kampung, maka sekarang ia justru merasa sedih. Karena kepulangannya ini berarti akhir dari sebuah hubungan yang ia jaga selama ini.


Beda halnya dengan Aira yang tak terlihat bahagia, Via justru sangat girang apalagi ada banyak anak-anak disana.


Dan Aira di sambut dengan pelukan hangat oleh kaka keduanya, Jibril. "Sudah, jangan di tekuk terus wajahnya," kata Jibril sembari menepuk pundak Aira pelan-pelan. "Kamu hanya kehilangan satu pria, tiga pria lainnya masih bersamamu yang akan selalu menjaga kebahagiaanmu." Aira tersenyum samar mendengar ucapan sang kakak.


Benar, dia masih memiliki tiga pria yang pasti akan selalu memastikan kebahagiaannya, Abi, Micheal dan Jibril. Namun sayangnya, ketiga pria itu takkan bisa menggantikan tempat Arsyad di hatinya.


"Terima kasih, Kak, " lirih Aira, ia melingkarkan lengannya di pinggang sang kakak. "Aku memang sangat membutuhkan kalian."


"Sekarang sebaiknya kamu istirahat, Kakak sudah membersihkan kamarmu, Dek."


"Iya, Aira. Kamu istirahat, Nak," sambung Ummi Firda. "Biar Via sama Ummi, biarkan dia bermain dengan teman barunya."


Aira menatap Via yang berada di halaman rumah bersama anak-anak tetangga yang lain.


"Ayo, Dek." Jibril merangkul Aira, membawanya ke kamar Aira yang berada di samping kamarnya.


Aira tersenyum karena melihat cat kamarnya sudah di ganti, kamar yang dulu bernuansa abu-abu kini berubah menjadi putih semua.


"Kenapa putih semua?" Tanya Aira.


"Entahlah, minggu lalu kakak bingung mau ngapain, jadi kaka cat kamarmu, ganti hordennya juga untuk mengalihkan fikiran kakak."


"Di alihkan dari apa?"


"Dari terus memikirkanmu, Aira." Aira langsung terdiam mendengar apa yang di katakan Jibril. "Kaka mau kesana, Kaka juga mau menemanimu tapi Ummi melarang. Jadi Kaka cuma bisa mendo'akanmu dari sini, Dek."


Aira terenyuh mendengar kakaknya, ia pun kembali memeluk sang kakak. "Aku baik-baik saja, Kak. Selama ada kalian yang bersamaku, mendukungku, dan mendo'akanku, aku pasti akan baik-baik saja."

__ADS_1


"Itu harus, Humaira. Karena kalau kamu nggak baik-baik saja setelah ini, Kaka akan membuat perhitungan yang sebanding padanya."


__ADS_2