Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #51 - Hidupmu Milikmu Hidupku Milikku


__ADS_3

"Dek, sekalian nanti cariin pendamping untuk Jibril, ya. Keburu karatan itu anak nanti kelamaan menjomblo." Aira langsung tertawa mendengar ucapan Micheal itu, sementara Jibril tampak tak perduli dengan ejekan Micheal yang tiada henti hanya karena dirinya yang belum juga menikah.


Setelah acara selesai dan semua tamu sudah pulang, kini mereka semua duduk bersama di ruang keluarga, menghabiskan waktu bersama dan membicarakan banyak hal, bercanda dan tertawa bersama.


Dan kini, sampai pada topik Jibril yang tak kunjung menikah di usianya yang sudah di atas 30 tahun.


Bukan karena Jibril tidak laku, banyak wanita yang ingin menjadi makmum nya, banyak orang tua yang ingin menjadi mertuanya, namun pria itu selalu merasa belum saatnya.


"Jangan cari wanita disana, Ummi sukanya orang Indonesia, kalau perlu, orang desa aja," sambung Ummi Firda namun Jibril masih enggan menanggapi.


"Katanya..." Aira berkata sembari melirik sang Kakak. "Dia hanya akan menikah kalau ada perempuan yang mau melamar dia, Ummi."


"Astagfirullah..."


"Innalilah.."


"La hawla wa laa quwata illa billah..."


Abi, Ummi dan Micheal memekik bersamaan dan itu membuat Aira juga Zenwa tertawa geli, sementara Jibril hanya menahan senyum.


"Sadar diri dong, Jibril. Para perempuan di luar sana itu bahkan nggak mau melirik kamu yang kaku seperti robot, apalagi sampai melamar kamu," ejek Micheal.


"Heh, sembarangan kalau ngomong," tegur Ummi Firda. "Jibril itu menantu idaman loh, sudah banyak ibu-ibu yang order dia mau di jadikan menantu."


"Astagfirullah, di order?" pekik Jibril dengan kedua mata yang melotot sempurna.


Semua yang mendengar kata order itu pun langsung terkikik geli, dan memang itulah ibu mereka, ceplas ceplos dalam berkata.

__ADS_1


"Kamu fikir putra kita kue yang bisa di order?" Sambung Abi Gabriel yang juga terkikik geli.


"Bukan begitu, Bang. Tapi gini loh, banyak ibu-ibu yang nanya, Jibril sudah punya calon apa belum. Kalau belum, mau di jodohkan sama anak mereka, katanya."


"Ya Allah, Ummi. Kenapa harus di order. Ada-ada aja," gumam Jibril sambil geleng-geleng kepala.


"Terus, sebenarnya kamu cari wanita yang seperti apa, Jibril?" Tanya Zenwa.


"Entahlah, aku gk punya kriteria khusus, Mbak. Aku juga belum bisa berfikir kesana." Jibril menjawab dengan tenang yang membuat kedua orang tuanya itu menghela napas berat.


"Kalau sampai tahun depan kamu belum menemukan pendamping, kami yang carikan," tukas Abi Gabriel. "Menikah itu sunnah Nabi, Nabi bersabda, emm apa katanya, Sayang?" ia bertanya pada sang istri.


"Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tidak mengamalkan sunnahku, bukan bagian dariku. Maka menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku (di hari kiamat)." (HR. Ibnu Majah no. 1846, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah no. 2383).


Jibril mengerutkan keningnya mendengar hadist yang di bacakan oleh ibunya itu, ia sudah tahu hadist ini sejak remaja, namun entah mengapa ia seolah baru menyadari makna dari hadist ini.


"Aku mau tidur..." seru Aira kemudian sambil menguap, hari ini hari yang cukup melelahkan untuknya, namun hari ini, rasa sakitnya bisa sedikit terlupakan dengan kesibukan yang ada juga dengan adanya seluruh keluarganya.


Sementara di bawah, keluarga Aira kini kembali membicarakan Arsyad dan Aira. Sama seperti Jibril, Ummi Firda juga Zenwa sulit percaya Arsyad setega itu pada Aira, apalagi setelah tahu Aira hamil. Namun Abi Gabriel dan Micheal benar-benar sudah menutup hatinya dari prasangka baik pada Arsyad.


"Kita tidak perlu menghubungi mereka, apalagi memohon agar mereka menemui Aira. Aira dan bayinya tidak membutuhkan orang-orang seperti itu."


"Iya, Bi. Aku setuju, pria itu benar-benar bajingan! Sudah menikah diam-diam, sampai hamil lagi istrinya. Mengadakan pesta di hari perceraian, kemudian meminta Aira fokus pada hidupnya karena dia ingin fokus pada hidupnya sendiri. Apalagi yang bisa di harapkan dari pria seperti itu?


"Sudahlah, berhenti membicarakan ini," seru Ummi Firda. "Sebaiknya kita berhenti membahas masalah ini karena semuanya sudah berakhir. Jika Arsyad bisa fokus pada hidupnya sendiri tanpa memikirkan Aira, kenapa kita nggak?"


***

__ADS_1


Kessokan harinya...


Anggun kembali memikirkan tawaran Ummi Ridha untuk kembali mengajar di TK. Dan sebenarnya ia pun menginginkan hal yang sama sejak dulu, namun ia masih belum siap bertemu orang-orang disana apalagi mereka semua sudah pasti tahu tentang perceraian Arsyad dengan Aira, dan mereka semua pasti tahu bahwa ada Anggun di antara Arsyad dan Aira.


Namun mungkin mereka masih belum tahu, bahwa Anggun pun sudah menjadi jandanya Arsyad sekarang.


Sementara itu, Arsyad pergi ke sekolah seperti biasa. Namun kini tatapan orang-orang padanya sudah tak biasa, ia masih di hormati di depannya, tapi juga di cemooh di belakangnya atas tuduhan perselingkuhan yang ia lakukan bersama Anggun. Apalagi selama ini mereka bersandiwara dengan sangat baik di depan umum.


Arsyad tahu itu, namun ia tak bisa apa-apa. Mau di jelaskan-pun, ia tak tahu bagaimana cara menjelaskannya.


Saat Arsyad hendak pulang dari sekolah, Arsyad melihat ada anak yang menangis, ia pun menghampiri anak itu dan menghiburnya seperti cara Aira menghibur anak-anak, dan cara itu selalu berhasil.


"Anak cantik dan pintar nggak boleh nangis, Sayang."


"Tapi mainanku di ambil, hiks hiks...." Anak itu menunjuk anak lelaki yang mengambil mainannya.


Arsyad pun memanggil anak itu. "Kenapa mainannya kamu ambil?" Tanya Arsyad.


"Neh, aku gk suka, mainannye jelek!" ujar anak lelaki itu, Arsyad tersenyum sembari memegang kepala anak itu.


"Sayang, nggak ada mainan yang jelek. Semua mainan itu bagus, mungkin kamu cuma nggak suka aja. Lagian kamu 'kan laki-laki, pasti boneka jelek di mata kamu. Tapi boneka itu mainan yang bagus untuk perempuan, lain kali jangan begini ya. Kasihan dia, jadi nangis,' kan? Dan sebagai laki-laki, kamu nggak boleh bikin perempuan nangis, bagaimana kalau dia adikmu? Atau kakakmu? Atau Mamamu? Pasti kamu nggak mau kan mereka nangis?"


Anak itu diam sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan.


Arsyad tersenyum dan kembali ia mengenang Aira, Aira selalu tahu cara menghibur dan menenangkan anak-anak.


"Anak kita sangat beruntung punya ibu seperti kamu, Aira. Via benar-benar beruntung."

__ADS_1


Setelah dari sekolah, Arsyad mendatangi rumah Micheal karena ia ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa ia tak di inginkan berbicara dengan Via.


Namun sesampainya di rumah Micheal, Arsyad harus menelan kekecewaan karena tak ada siapapun disana. Bahkan lampu-lampu di rumah itu masih menyala, pertanda bahwa mereka memang tak ada di rumah.


__ADS_2