Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #140 - Demi Kamu


__ADS_3

"Dia kayaknya haus banget, Sayang." Arsyad berkata sambil mengusap ubun-ubun putranya yang saat ini sedang menyusu pada Aira. "Padahal dia merem lho, tidur kok sambil minum," imbuhnya yang membuat Aira terkekeh geli.


"Namanya juga bayi, Mas." Aira kini menatap Arsyad dengan begitu intens juga dalam, membuat hati Arsyad berdebar dan salah tingkah. Tatapan Aira seperti penggoda yang menggoda mangsanya dan Arsyad takkan pernah bisa lolos dari goda'an istri tercintanya itu.


"Kamu kenapa liatin aku kayak gitu?" Tanya Arsyad tersipu dan kini membuat Aira terbahak, apalagi saat melihat raut wajah suaminya itu.


"Kamu dapat dari mana foto dan video-video pas aku di Pakistan?" Tanya Aira dengan begitu lembut.


"Dari Arkan, Bayu, Rehan dan Jibril." Aira sedikit terkejut mendengar apa yang di katakan suaminya itu. "Aku paksa mereka kasih foto dan video kamu, dan yang paling banyak punya foto dan video kamu itu ternyata si Arkan." Arsyad kini tak bisa menyembunyikan kecemburuannya saat mengetahui bahwa Arkan menyimpan foto dan video sang istri.


Aira yang melihat raut wajah sang suami kini justru merasa gemas, ia menjulurkan tangannya untuk mencubit ujung hidung Arsyad dengan gemas. "Arkan itu fotografer, Mas. Bagus-bagus kan video dan fotonya?" Tanya Aira yang semakin membuat Arsyad terbakar api cemburu.


"Lumayan, tadi aku minta semuanya tapi dia bilang itu hak milik dia dan Kalau aku mau, aku harus bayar. Kurang ajar 'kan bocah itu," keluh Arsyad.


"Terus kamu bayar?" Tanya Aira dan Arsyad mengangguk yang membuat Aira melongo. "Serius?" Pekik Aira.


"Iya, aku langsung transfer 10 juta soalnya aku butuh banget buat acara malam ini." Aira tercengang namun kemudian terkekeh geli.

__ADS_1


"Kamu di kerjain sama Arkan, Mas," kekeh Aira.


"Nggak apa-apa, yang penting acara malam ini lancar." Aira langsung terharu mendengar jawaban Arsyad, acara malam ini benar-benar butuh perjuangan dan pengorbanan, bukan hanya waktu dan tenaga tapi juga dari materi, dan Arsyad melakukan itu semua hanya untuk Aira.


Aira menarik tangan Arsyad dan mengecupnya penuh kasih sayang. "Terima kasih ya, Mas. Kamu benar-benar menjaga kami," lirih Aira. Arsyad membalas menggengam tangan Aira dan mengecupnya dengan lembut.


"Aku yang makasih, Sayang. Karena kamu masih mempercayakan aku untuk menjaga kalian. Aku nggak tahu akan seperti apa hidupku tanpa kalian," ucap Arsyad dengan suara rendah.


Kini, kedua insan yang saling mencintai itu saling menatap dengan dalam. Penuh cinta dan kerinduan meski selalu bersama. Arsyad mendekatkan wajahnya ke wajah Aira, ingin mengecup kening sang istri namun tiba-tiba.


"Om...." Arsyad terperanjat saat mendengar suara Tanvir yang menggelegar di ruangannya. Begitu juga dengan Aira, bahkan baby Ali juga sedikit terkejut.


"Ops, maaf, Om. Tanvir tidak tahu..." Tanvir berkata sambil melangkah cepat menghampiri mereka. Arsyad hanya bisa menghela napas, bukan hanya putrinya tapi kini keponakannya pun bisa juga mengganggunya dengan Aira.


"Kenapa Tanvir kesini? Emangnya sudah selesai makan?" Tanya Aira.


"Om... Tante. Ada yang mau Tanvir bicarakan dengan kalian," ujar Tanvir sambil merangkak naik ke atas sofa. Raut wajahnya tampak sangat serius, dan itu membuat Arsyad dan Aira hanya bisa saling pandang.

__ADS_1


"Mau bicara apa emangnya?" Tanya Aira.


"Om dan Tante kan orang tua Livia, harusnya Livia di kasih tahu, jangan dekat-dekat sama laki-laki, itu tidak boleh," tukas Tanvir yang seketika membuat Aira dan Arsyad tercengang dan kembali mereka saling melempar tatapan bingung.


"Kan mereka temannya Livia, Tanvir," ujar Aira kemudian.


"Memangnya Tante sama Mama punya teman laki-laki? Tidak 'kan?"


Lagi-lagi Arsyad dan Aira hanya bisa saling memandang dengan bingung. "Kan perempuan memang tidak boleh dekat dengan laki-laki, Tante. Livia kasih tahu, ya. Bolehnya cuma dekat sama Tanvir."


"Loh, kan Tanvir juga laki-laki," seru Arsyad.


"Loh, kan Tanvir kakaknya," sanggah Tanvir. "Kan Om dan Tante dulu bilang, Livia adik Tanvir, harus di jaga dan di sayang."


Apakah ini yanga namanya senjata makan tuan? Fikir Arsyad dan Aira, neraka tak habis fikir kenapa Tanvir menjadi posesif begini. "Ya sudah, Tanvir mau makan lagi." kini Tanvir merangkak turun dari sofa kemudian melenggang pergi dari ruangan, meninggalkan Aira dan Arsyad yang masih melongo.


"Keponakanmu, Sayang," gumam Arsyad kemudian.

__ADS_1


"Nurunin gen ayahnya neh."


__ADS_2