Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #100 - Menyelami Hati Masing-masing


__ADS_3

"Aku minta maaf," kata Arsyad dengan lirih. Aira tersenyum tipis, ia mengambil minumannya dan menyeruput jus jeruk yang masih segar itu.


"Aku pun minta maaf, karena saat itu aku di kuasi amarah, di bakar api cemburu, sangat sulit mengendalikan diri," ucap Aira setelah ia meneguk jus jeruknya. "Aku benar-benar shock saat itu, seolah langit runtuh di atas kepalaku, seolah bumi menggulung hidupku dan mengikatku, aku benar-benar di tenggelamkan dalam titik yang nggak pernah terbersit dalam benak ku selama ini."


"Aku tahu..." lirih Arsyad menanggapi, ia menatap Aira yang kini justru menatap Via sambil tersenyum. "Kenapa kamu nggak pakek cadar? Status kita sudah berbeda sekarang," kata Arsyad kemudian yang langsung membuat senyum di bibir Aira memudar. Kini Aira mengalihkan tatapannya pada Arsyad.


"Aku sudah terbiasa tanpa cadar di depan kamu." jawaban yang sangat di luar dugaan Arsyad keluar dari bibir Aira, namun tak bisa Arsyad pungkiri ia menyauki jawaban mantan istrinya itu.


"Humaira, ada yang ingin aku bicarakan," seru Arsyad kemudian, Aira hanya menganggukan kepalanya seolah mempersilahkan Arsyad berbicara apa saja. "Aku datang kesini bukan untuk menarik kamu ke dalam kehidupanku," ucap Arsyad yang membuat Aira langsung mengernyitkan keningnya. "Mungkin kamu merasa marah atas kedatanganku, merasa aku egois, memaksakan kehendak dan mungkin kamu berfikir aku nggak kasih kamu ruang untuk menata hati kembali." Aira masih setia mendengarkan ucapan Arsyad, dan kini hatinya mulai bergetar, menerka-nerka apa yang sebenarnya ingin di katakan oleh Arsyad.


"Kamu pasti tahu, dalam masa iddah, tanggung jawab sama kamu dan aku mampu memenuhi tanggung jawab itu tapi karena suatu keadaan, kita berjauhan dan aku nggak bisa memenuhi kewajibanku, aku sungguh minta maaf. Dan kamu juga tahu, aku bisa rujuk dengan kamu dengan sangat mudah, cukup mengungkapkan keinginan itu, dan entah kamu terima atau engga, kamu ikhlas dan ridho atau enggak, maka kamu tetap akan menjadi istriku." tanpa sadar Aira menahan napas saat mendengar ungkapan lirih Arsyad.

__ADS_1


"Aku datang untuk meminta kesempatan terakhir, untuk membuktikan betapa aku mencintai kamu dan anak-anak. Akan aku lakukan apapun untuk membuktikan bahwa aku masih pantas menerima cintamu dan anak-anak. Tapi jika sampai setelah melahirkan kamu masih merasa aku tak pantas untukmu dan anak-anak, jika kamu merasa tidak ada ampun untuk kesalahanku, aku akan mundur."


Hati Aira bedebar mendengar kata-kata terakhir Arsyad.


"Karena itulah, aku tidak mengungkapkan kehendak rujuk karena aku ingin kita memulai hubungan yang baru atas kehendak hati kita, karena hati kita sama-sama menginginkannya." hati Aira terenyuh mendengar ungkapan hati Arsyad, apalagi saat Aira menatap mata Arsyad, menyelemanya, Aira bisa melihat luka dan cinta yang sama besarnya, sama seperti dirinya, cinta dan lukanya sama-sama besar.


"Dan jika kamu mau menerimaku, terima aku karena hati kamu yang mau, bukan karena siapapun bahkan atas nama anak-anak kita. Jangan terima aku jika hanya karena demi kebahagiaan anak-anak kita, karena kebahagiaan mereka tergantung kebahagiaanmu. Jika kamu bahagia, kamu pasti akan selalu membuat mereka bahagia. Dengan atau tanpaku." hati Aira bergetar mendengar penuturan Arsyad dan itu mengingatkan Aira pada kata-kata Hulya.


Aira mencoba menyelami hatinya sendiri, maukah hati itu kembali pada Arsyad? Pria pertamanya, cinta pertemanya dan orang pertama yang menorehkan luka yang luar biasa dalam.


Aira juga teringat, bahwa bukan Arsyad yang meninggalkannya baik demi ibunya apalagi Anggun, tapi Aira yang meninggalkan Arsyad karena Aira tidak tahan dengan ha taman ombak dari ibu mertuanya. Aira yang pergi, Aira yang meninggalkan karena Aira merasa tak sanggup dalam pernikahan yang masih harus di setir oleh ibu mertuanya.

__ADS_1


Aira yang pergi, karena ia tak sanggup mengendalikan rasa kecewanya atas kebohongan Arsyad.


...🌱...


Anggun sunnguh tidak sabar untuk segera keluar dari rumah sakit, ia tak sabar ingin ziarah ke makan putrinya. Dan setelah menunggu beberapa hari, akhirnya Anggun di perbolehkan pulang oleh Dokter Tiya.


Setelah keluar dari rumah sakit, Anggun langsung ziarah ke makam sang buah hati yang bahkan tak ia tahu rupanya.


Nisan mungil bertuliskan Maita Ibrahim terukir menjadi tanda bahwa disana lah anaknya dan Arsyad di kuburkan. Anggun sengaja memberikan nama belakang keluarga Arsyad pada sang putri agar ia tak kehilangan identitasnya.


Sambil mengusap batu nisan itu Anggun tersenyum miring, mengejek hidupnya yang sungguh ironis. Dari ia jatuh cinta pada Arsyad, menjadi guru agar bisa dekat dengan Arsyad namun Arsyad justru menikahi wanita lain. Kemudian Anggun punya kesempatan untuk bersama Arsyad namun Arsyad melemparnya begitu saja padahal ia sedang mengandung, dan bayi dalam kandungannya pun kini tak bisa ia lahirkan ke dunia ini. Semua yang dia inginkan di renggut, di jauhkan, tak di beri kesempatan untuk memiliki, mencintai dan di cintai.

__ADS_1


"Takir sangat kejam, Sayang. Bahkan kamu yang tidak tahu apapun juga kena imbasnya. Syukurlah jika kamu tak lahir ke dunia yang kejam ini, temani kakek nenek disana."


TBC...


__ADS_2