Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #90 - Kedatangannya


__ADS_3

"Lima enam tujuh delapan...." Via menghitung kalender di rumahnya, bahkan kini ia melingkari tanggal di kalender dengan pensil warnanya. "sembilan sebelas dua belas..." ia menghitung tanggal yang sudah ia lingkari itu.


"Hitung apa, Vi?" Tanya Aira sembari mengelap meja.


"Hitung hari, Ummi. Kok Abi belum datang, ya? Kan sudah berhari-hari sejak Abi bilang mau kesini," ucap Via cemberut, Aira merasa kasihan melihat Via yang setiap hari mengharapkan ayahnya datang. "Apa Abi nggak punya ongkos ya, Ummi?"


"Sabar, Sayang. Abi pasti punya ongkos, tapi kan abi sedang sakit, Via doakan abi supaya abi sembuh dan bisa menyusul Via kesini," hibur Aira.


"Kenapa kita nggak pulang aja, Ummi? Via udah nggak suka disini karena Abi nggak datang, Via nggak jadi yang mau tinggal disini, Via mau pulang saja," tukas Via kesal. Aira hanya bisa mendengarkan keluh kesah anaknya itu dalam diam.


"Ummi, adik bayinya nanti kalau kangen sama abi gimana?" tanya Via lagi.


"Nanti...." ucapan Aira terpotong saat mendengar suara ketukan pintu. "Itu pasti Om Javeed, buka gih," seru Aira dan Via pun langsung berlari semangat membuka pintu. Aira hanya bisa menatap Via dengan nanar, merasa kasihan pada anak itu yang terus mengharapkan kehadiran Arsyad.


Aira mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Arsyad agar ia bisa menghibur Via, namun sayangnya ponsel Arsyad tidak aktif.


Sementara di luar, Via mengernyit bingung karena ternyata yang datang bukan Javeed. Yang datang adalah seorang wanita paruh baya yang memakai baju khas Pakistan, bahkan ia tampak seperti orang Pakistan.


"Cari siapa, Nek?" Tanya Via namun wanita itu menjawab dalam bahasa Urdu. "Via nggak ngerti, Nek. Nenek bicara apa" Tanya Via lagi.


Wanita itu pun berlutut di depan Via, ia hendak menggendong Via namun tiba-tiba Javeed datang dan menghentikan aksi nenek itu.


Javeed berbicara dalam bahasa Urdu pada wanita itu, bahkan Javeed tampak marah dengannya. Namun kemudian dua orang pria datang dan menjemput wanita itu dengan paksa.


"Siapa nenek itu, Om?" tanya Via. Alih-alih menjawab, Javeed justru berteriak memanggil Aira.


"Aira..."


"Ai..."


"Aira! Kamu di dalam, 'kan?"


Aira yang mendengar teriakan Javeed tentu langsung terlonjak kaget, ia pun segera keluar menyusul Via. "Ada apa?" Tanya Aira yang bingung melihat Javeed dengan raut wajah tegang.


"Kamu gila, ya? Kamu biarin Via membuka pintu sendiri?" Seru Javeed, kerutan di kening Aira semakin dalam, bahkan alisnya hingga menyatu.

__ADS_1


"Biasanya juga dia yang bukain pintu kamu, 'kan?" Kata Aira.


"Dari mana kamu tahu tadi itu aku, Ai? Yang tadi datang itu bukan aku, tapi orang lain," ucap Javeed penuh penekanan yang membuat Aira terkejut.


"Siapa?" tanyanya.


"Pasien rumah sakit jiwa, dia tetangga kita tapi udah nggak waras. Lain kali kamu hati-hati dong, Ai. Ini tempat asing, apalagi Via nggak ngerti bahasa sini. Lagian kalau aku yang datang, aku pasti mengucap salam. Memangnya tadi kamu dengan suaraku?" Aira terhenyak mendengar ucapan Javeed, kini ia menatap Via dengan cemas.


"Via nggak apa-apa, 'kan? Nggak di apa-apain, kan?" Tanya Aira cemas, Via menggelengkan kepalanya.


"Nggak apa-apa, Ummi. Cuma dia bicara dan Via nggak ngerti," jawab Via.


"Lain kali hati-hati lho, Ai. Banyak anak-anak yang jadi korban penculikan karena kelalaian orang tua," tegas Javeed sekali lagi.


"Iya, Jav. Tadi aku benar-benar mengira itu kamu, karena biasanya yang datang cuma kamu," kata Aira. "Makasih ya," ucapnya kemudian dan Javeed hanya mengangguk. Ia bersyukur ia datang tepat waktu atau Via bisa di bawa orang itu.


🌱


Bandung, Indonesia.


Anggun memegang perutnya, merabanya dengan lembut. Raut wajahnya tampak tegang, perasaannya bergejolak saat ia tak lagi merasakan tanda-tanda kehidupan dalam perutnya. Janinnya tak bergerak sedikitpun padahal sebelumnya ia masih merasakan pergerakan walaupun pelan.


"Ma, kok bayi aku udah nggak gerak lagi ya sejak semalam," kata Anggun cemas.


"Serius?" tanya Bu Husna terkejut, Anggun hanya bisa mengangguk, ia tak bisa menyembunyikan ketakutannya sekarang.


"Kita ke rumah sakit sekarang," seru Bu Husna, dengan cepat ia menyambar kunci mobil.


Selama dalam perjalanan, Bu Husna terus menenangkan Anggun yang semakin lama terlihat semakin cemas, tegang, bahkan kini Anggun sudah menangis tersedu-sedu.


Di tengah isak tangisnya, Anggun mencoba menghubungi Arsyad namun ponsel Arsyad tidak aktif. Di saat seperti ini, Anggun sangat mengharapkan dukungan dari Arsyad namun ia tak mendapatkan itu.


Tiba-tiba Anggun merintih lirih saat merasakan akit di perutnya, bu Husna pun mempercepat laju mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


🌱

__ADS_1


Lahore, Pakistan.


"Ummi makin hari makin cantik deh, Via suka liat Ummi gendut, cantik, lucu, gemas, ih, pengen cubit," ucap Via dengan gemas yang membuat Aira tertawa geli mendengarnya, apalagi saat melihat raut wajah Via yang tampak sangat menggemaskan karena gemas dengan umminya sendiri.


Semakin hari, bukan hanya perut Aira yang semakin besar, tapi juga seluruh tubuhnya. Berat badan Aira kini sudah naik 10 kilo, dia benar-benar gemuk sekarang.


"Iya dong, Ummi selalu cantik, kan Ummi perempuan, kalau laki-laki, selalu tampan," kata Aira.


Hari sudah sore, dan sore ini Aira ingin pergi berbelanja pakaian karena pakaianya sudah banyak yang kekecilan karena berat badannya yang terus naik.


"Dulu, waktu di panti..." Via mencoba menarik ujung jilbab Aira yang sedikit terlipat, ia merapikan ya dengan baik membuat Aira tersenyum bangga pada anaknya itu. "Kata teman-teman, kalau gendut itu jelek, Ummi. Tapi Ummi cantik meskipun gendut, Via jadi pengan kasih tahu sama mereka kalau gendut itu juga cantik, bikin gemas." lagi-lagi Aira di buat tertawa dengan tingkah anaknya ini.


Benar, Aira selalu menanamkan rasa percaya pada Via, bahwa wanita itu selalu cantik, entah gendut, kurus, hitam atau putih. Kodratnya wanita adalah cantik dan pria adalah tampan.


"Sudah siap?" tanya Aira dan Via mengangguk. "Via sudah catat apa yang mau kita beli, tuh..." Via memperlihatkan buku memonya yang kini sudah di penuhi dengan berbagi catatan dari Via.


"Okay, kita belanja, Sayang. Sepuasnya," kata Aira untuk menghibur Via.


Saat Aira keluar dari rumah, ia di kejutkan dengan Javeed yang tampaknya memang sudah menunggunya, bahkan Javeed juga berpakaian rapi.


"Kamu mau kemana?" Tanya Aira sembari mengunci pintunya.


"Mau ngawal kalian lah," jawab Javeed, ia mengulurkan tangannya pada Via yang langsung di sambut oleh Via. "Bahaya kalau wanita pergi tanpa di kawal pria yang tepat," ujar Javeed yang membuat Aira terkekeh sambil geleng-geleng kepala.


"Nida, Jav," ucap Aira kemudian sambil berjalan di belakang Javeed yang berjalan berpegangan tangan dengan Via.


"Kenapa dengan Nida?" tanya Javeed.


"Kenapa kamu nggaj kejar dia aja? Dia gadis yang baik, manis, pintar." jawab Aira


"Sayangnya, jatuh cinta itu itu tidak melihat paras, karakter, apalagi menghitung IQ. Cinta itu ya cinta, Ai."


"Aku cuma ingin memasti..." ucapan Aira terhenti begitu juga dengan langkahnya saat tatapannya menangkap sosok seseorang yang telah membuat dunianya jungkir balik ada di depan sana. Bahkan, Aira menahan napas, denyut jantungnya berdebar kencang tak bisa ia kendalikan.


Begitu juga dengan Via yang melihat sosok yang sangat ia tunggu. Bahkan, tanpa fikir panjang Via melepaskan tangannya dari Javeed dan berlari menghampiri sosok yang sangat ia rindukan.

__ADS_1


"Abi...."


TBC...


__ADS_2