Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #139 - Awal Kisah Kasih Mereka


__ADS_3

Aira tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya atas kejutan tak terduga yang di berikan Arsyad padanya, Arsyad membuat semuanya begitu jelas dan tak ada lagi yang perlu di ragukan. Para guru TK dan wali murid memberikan ucapan selamat pada Aira. Micheal, Zenwa, juga Tanvir tentu ada disana. Begitu juga dengan Fahmi, Hulya dan Jihan.


Tanvir menghampiri Via yang saat ini masih berdiri di samping ibunya. "Livia..." teriak Tanvir girang.


"Kak Tanvir juga ada di sini," sahut Via yang juga senang melihat Tanvir dan Jihan.


"Iya," jawab Tanvir. "Ih, Livia kok cantik sekarang," puji Tanvir yang membuat Via tersenyum malu-malu.


"Jihan juga cantik." tak lupa Tanvir juga memuji Jihan agar mereka semua senang.


"Kak Tanvir juga tampan sekali." Jihan balas memuji namun tidak dengan Via.


"Menurut Livia, kaka tampan, nggak?" Tanya Tanvir sambil menaik-turunkan alisnya.


"Tampan sih, tapi lebih tampan Abi," jawab Via jujur yang membuat Tanvir mendengus.


"Om sudah tua, LIvia. Ih, gimana sih," Sungutnya namun sayangnya Via seolah tak perduli.


"Laki-laki yang paling tampan dan paling baik itu seperti Abi," ujar Via penuh keyakinan.


"Terserah deh, namanya juga anak, pasti banggain ayahnya," ucap Tanvir pasrah.


Orang-orang yang mendengar obrolan mereka hanya bisa cikikikan geli.


Zenwa dan Hulya juga memberikan ucapan selamat untuk Aira, mereka turut bahagia melihat kebahagiaan yang di suguhkan oleh Arsyad untuknya.


"Selamat, Ai. Sekarang kamu mendapatkan cinta kamu kembali," ucap Hulya. "Ternyata orang benar, yang namanya jodoh nggak akan kemana. Dan juga, jika Tuhan yang menyatukan, maka takkan ada satu pun manusia yang mampu memisahkan."


"Iya, Hul. Aku juga nggak nyangka," kata Aira dan sekali lagi mengucek matanya.


"Sebenarnya masih ada yang belum datang," ujar Arsyad sembari melirik arlojinya.


"Siapa lagi, Mas?" Tanya Aira penasaran.


"Kejutan ini untuk Via," kata Arsyad.


Tak berselang lama, sebuah bus datang. Bu Kinan dan anak-anak panti lainnya turun dari bus yang seketika membuat Via memekik senang. Bahkan ia langsung berlari menghampiri Bu Kinan.


"Bunda Kinan...." Via langsung berhambur ke pelukan wanita yang sudah merawatnya itu.

__ADS_1


"Via semakin besar ya, Nak. Semakin cantik," puji bu Kinan yang membalas pelukan Via dengan begitu erat.


"Mas, kamu udang mereka juga?" Tanya Aira yang semakin terharu dengan apa yang sudah di siapkan Arsyad.


"Iya, Sayang. Nggak mungkin kita melupakan mereka karena mereka adalah keluarga pertama Via," jawab Arsyad.


"Maaf ya, kami terlambat. Undangan ini terlalu mendadak," kata bu Kinan setelah selesai berpelukan melepas rindu dengan Via.


"Nggak apa-apa, Bu," jawab Aira.


Fahmi mempersilahkan semua tamu untuk menikmati hidangan lezat yang sudah di sediakan. Begitu juga dengan anak-anak panti yang sangat girang apalagi ketika Fahmi memberi tahu mereka bahwa mereka boleh makan sepuasnya.


Salah satu pengunjung kembali bertanya pada Chef apakah mereka benar-benar boleh makan sepuasnya dan gratis. "Boleh, silakan. Habisin juga boleh, ambil sendiri karena kami udah tepar, udah nggak sanggup kalau harus melayani lagi. Dan satu hal lagi, kalau makanan habis berarti habis. Bahan-bahan di dapur udah kosong semua."


Jawaban chef itu sontak mengundang tawa semua orang, terutama Aira. "Kalian juga makan, ya," seru Aira pada para karyawan restaurant itu.


"Pasti, Bu. Lapar."


"Iya, mana encok lagi."


"Untung aja nggak pingsan."


Aira terkekeh mendengar ucapan mereka namun ia juga merasa sangat kasihan pada mereka. "Minta bonus aja yang banyak, jadi kalian bisa pergi massage," Seru Aira.


"Sudah, Bu. 3x lipat," jawab mereka serempak.


"Masyaallah, semoga berkah, ya." kini Aira menoleh sang suami yang hanya mengulum senyum. "Dan kamu, Sayang. Semoga makin sukses, makin jaya dan makin sayang pada kami."


"Insyaallah."


"Jadi ini alasan restaurant tadi di tutup?" Tanya Micheal yang juga menikmati hidangannya.


"Iya, aku harus melakukan ini secepatnya," jawab Arsyad.


Arsyad dan yang lainnya juga makan malam disana, begitu juga dengan para karyawan restaurant. Saat ini tak ada bos atau bawahan, mereka menikmati acara ini bersama sambil mengobrol satu sama lain.


Makan sepuasnya dan tentu gratis.


Setelah ini, Arsyad dan Aira berharap akan ada kisah kasih yang baru, yang tanpa melibatkan masa lalu. Cukuplah masa lalu itu menjadi sebuah pelajaran untuk masa depan, cukuplah masa lalu itu untuk menjadi cermin agar selalu mampu memperbaiki diri di masa depan.

__ADS_1


Karena takkan ada gunanya jika terus menoleh, yang ada akan tersandung saat melangkah ke depan.


"Bu, kasih tips dong," celetuk salah satu karyawan Aira.


"Tips apa?" Tanya Aira.


"Cara biar di cintai pasangan seperti Pak Arsyad mencintai Bu Aira," jawabnya yang seketika membuat Aira tersenyum simpul.


"Aku nggak punya tips, tapi aku yakin, jika kita berperan sebagai orang yang pantas untuk di cintai, maka kita akan sangat di cintai oleh siapapun. Yang penting, perbaiki diri, jangan merusak diri apalagi merusak orang lain."


"Benar," sambung Arsyad. "Dan satu hal lagi, cintai karena Allah, agar saat kita punya masalah dalam kisah cinta itu, Allah sendiri yang akan menyatukan cinta itu."


"Setuju," sambung Micheal.


"Dan satu yang pasti..." Fahmi menyela. "Jangan pernah menyakiti pasangan dengan sengaja, saling jujur dan saling menghargai, itu sangat penting."


Di sela obrolan ringan namun penuh makna itu, tiba-tiba baby Ali merengek kemudian ia menangis. Arsyad mengajak Aira ke ruangannya agar bisa menyusui putra mereka.


Saat Aira dan Arsyad pergi, orang-orang kembali bisik membisik dan kali ini mereka tak membicarakan hal buruk tentang Aira. Mereka justru memuji Aira yang kembali pada Arsyad setelah pernah di duakan, dan mereka juga memuji Arsyad yang mau berjuang demi Aira.


"Ibu bapaknya saja orang-orang hebat, bagaimana anaknya nanti, ya."


"Iya, pasti luar biasa, sabar, lemah lembut, tegas, baik hati lagi. Buktinya, sampai membuat acara besar-besaran seperti ini. Benar-benar dermawan."


Di saat semua orang tampak gembira, Tanvir justru tampak kesal karena sejak tadi Via sibuk dengan anak-anak panti. Tanvir merasa di abaikan dan tidak di perdulikan.


"Kenapa? Kok nggak di makan?" Tanya Zenwa yang melihat makanan anaknya itu hanya di aduk-aduk.


"Tanvir kesal, Mama," kata Tanvir dengan tatapan yang begitu tajam.


"Kesal kenapa? Semua orang sedang bahagia sekarang," ujar Zenwa.


"Lihat itu...." Tanvir menunjuk Via. "Tega sekali Livia mengabaikan Tanvir, awas saja nanti." geramnya.


"Tidak boleh seperti itu, Tanvir. Livia kan sudah lama tidak bertemu dengan teman-temannya," tukas Zenwa.


"Tapi masalahnya, ada teman laki-laki, Mama. Kata Ustaz, laki-laki tidak boleh dekat dengan perempuan."


"Loh, kan Tanvir juga laki-laki dan Via perempuan. Berarti tidak boleh dekat juga, 'kan?"

__ADS_1


"Livia tidak boleh dekat dengan laki-laki kecuali Tanvir, Mama." Tanvir berkata dengan tegas bahkan seolah tak ingin di bantah, apalagi ia mengatakan itu sambil menatap mata Zenwa dengan tajam. Entah kenapa Zenwa merasa seolah ia berbicara dengan ayah mertuanya. Tegas, tak mau di bantah.


__ADS_2