
"Benaran hamil?" Pekik Jibril tak percaya meskipun foto USG Aira kini berada di tangannya.
"Ya Allah, Kak. Iya ... iya ... iya. Aku hamil, Kaka akan punya keponakan lagi," jawab Aira girang sembari mengucek matanya yang kembali berkaca-kaca saking bahagianya.
"Tapi kenapa nomor telfon Arsyad nggak aktif ya?" gumamnya karena sejak tadi ia berusaha menghubungi Arsyad untuk memberikan kabar bahagia ini, namun ponsel Arsyad tidak aktif. Aira juga berusaha menghubungi Ummi Ridha namun panggilannya tak di jawab.
"Aira...." Aira menoleh saat mendengar panggilan ibunya. "Sayang, tadi Abi telfon, katanya ... katanya pengadilan sudah memutuskan perceraian kalian," ucapnya terbata-bata namun Aira tidak terlihat sedih. Ia justru tersenyum sembari mendekati sang ibu.
"Ummi, aku ingin rujuk dengan Arsyad. Aku masih dalam masa iddah. Aku rasa itu tidak masalah, kami bisa memperbaikinya," ucapnya penuh keyakinan.
"Kamu yakin, Sayang?" Tanya Ummi Firda.
"Iya, Ummi. Ada anak di antara kita, anak kandung kami. Aku ingin rumah tanggaku kembali."
"Tapi tidak akan sempurna seperti semula, Aira. Karena ibu dari anak Arsyad bukan hanya kamu, tapi ada wanita lain juga." sekilas, raut wajah Aira berubah, kembali tegang dan murung. Saking bahagianya, ia melupakan fakta itu, fakta bahwa ia bukanlah satu-satunya ratu Arsyad.
"Aira..." Jibril memegang pundak sang adik. "Dek, semua keputusan ada di tanganmu, Sayang. Tapi kami hanya akan mengembalikanmu pada Arsyad jika Arsyad bisa menjamin kebahagiaan dan kenyamananmu."
Aira masih diam tak bergeming, di satu sisi ia ingin rumah tangganya utuh kembali, ia ingin memberi tahu Arsyad bahwa Tuhan telah luluh akan rayuan mereka. Tapi, kenapa masih terasa sulit menerima keberadaan wanita lain?
...****************...
Saat adzan maghrib berkumandang, Arsyad langsung melaksanakan sholat di kamarnya, sendirian. Setelah selesai sholat, Arsyad turun untuk menemui keluarga Anggun dan mengikuti acara syukuran.
Anggun dan keluarganya sangat senang melihat Arsyad yang bergabung dengan mereka, bahkan Arsyad tampak menyunggingkan senyum dan menyambut para tamu yang hadir.
"Mungkin Arsyad mulai membuka hati buat kamu, Anggun," kata Bu Husna sembari memperhatikan Arsyad yang berjalan keluar.
"Aamiin, semoga saja, Ummi. Aku selalu berdo'a agar Arsyad mau membuka hatinya untukku, aku yakin, Arsyad akan luluh padaku, apalagi saat anak kami lahir nanti."
"Aamiin."
Sementara Arsyad, ia berdiri di depan pintu seolah menunggu seseorang. Dan tak lama kemudian, Fahmi dan Hulya datang untuk memberikan ponsel yang Arsyad minta.
"Makasih, Fahmi. Ponselku benar-benar rusak," kata Arsyad.
__ADS_1
"Kalau mau nyebur, jangan ke sungai, ke laut sekalian," kata Fahmi yang membuat Arsyad terkekeh.
"Kalian nggak mau masuk? Sebentar lagi acaranya di mulai?"
"Memangnya para tetanggamu nggak heran gitu, Syad? Istrimu Aira, tapi yang hamil dan mengadakan syukuran justru Anggun," celetuk Hulya yang langsung mendapatkan cubitan gemas dari Fahmi. Sekali lagi Arsyad terkekeh.
"Sejak Anggun tinggal di sini, tetangga sudah tahu kalau dia juga istriku."
"Dan sekarang Aira nggak ada, Memangnya tetanggamu nggak gosipin kamu?" tanya Hulya lagi dan sekali lagi ia mendapatkan cubitan teguran dari Fahmi namun Hulya tak memperdulikannya.
Jiwa julid nya kambuh jika berusuan dengan "Wanita perebut"
"Mereka bergosip, itu sudah pasti. Tapi ya gosipnya di belakang, di depan mereka masih tersenyum ramah." Arsyad berkata dengan lirih, dan ia berkata jujur, karena Arsyad pernah tanpa sengaja mendengar ibu-ibu kompleks yang menggosipkan dirinya dan Anggun. Bahkan mereka membandingkan Anggun dengan Aira.
Dan tanpa di buat pengumuman pun, kini semua orang sudah tahu bahwa Arsyad telah kehilangan Aira karena memiliki Anggun di rumahnya.
"Itu namanya hukuman sosial, pasti mereka membandingkan Aira dan Anggun," cetus Hulya lagi dan Arsyad mengangguk membenarkan. "Tebal juga mukanya si Anggun, ya. Masih ngadain syukuran dan ngundang tetangga yang menghujat dia lagi."
"Ya sudah, kami pulang dulu," sela Fahmi dengan cepat atau istrinya itu akan terus mengucapkan kata-kata beracunnya. Mulut wanita!
"Nggak apa-apa, santai aja."
Arsyad kembali ke kamarnya dan memindahkan sim cardnya. Di saat yang bersamaan, Anggun datang untuk memanggil Arsyad karena acara akan di mulai.
"Iya, kamu duluan. Sebentar lagi aku turun," jawab Arsyad yang masih fokus mengotak ngatik ponselnya.
"Itu 'kan bisa nanti, Mas. Sudah pada nungguin itu di bawah," desak Anggun yang membuat Arsyad sedikit kesal.
"Okay," ujarnya kemudian, ia pun turun bersama Anggun dan itu membuat Anggun semakin senang dan harapan untuk memiliki hati Arsyad pun semakin besar.
Ummi Ridha dan keluarga Anggun yang melihat Anggun dan Arsyad berjalan bersama merasa sangat bahagia, ini adalah kemajuan yang luar biasa dalam hubungan mereka.
Arsyad meletakkan ponselnya di meja sebelum akhirnya ia duduk bersama yang lain di lantai dan memulai acara syukuran.
Benar, sudah seharusnya ia mengikuti acara syukuran ini karena bagaimana pun juga anak itu adalah anugerah terlepas dari siapapun ibunya dan apakah Arsyad menginginkannya atau tidak. Anak itu tidak salah dan berhak mendapatkan cinta dan do'a yang terbaik dari ayahnya.
__ADS_1
"Ya Allah, aku berjanji, aku akan berusaha menjadi ayah yang baik untuknya. Ya Allah, aku berdo'a untuk anakku, Berkatilah hidupnya, jadikanlah dia anak yang sholeh dan taat pada-Mu. Penuhilah dia dengan rahmat-Mu. Dimana pun dia berpijak Semoga Engkau selalu merahamatinya, dan dimana pun dia berpijak.... "
...****************...
"Semoga engkau selalu memberinya kebahagiaan. Dimana pun dia berpijak, semoga dia selalu di kelilingi oleh orang yang sholeh dan penuh cinta. Dimana pun dia berpijak, semoga dia hanya akan membawa kebaikan dan memberikan kebaikan."
Aira berdo'a dengan lirih, berharap sepenuh hati untuk sang buah hati yang masih ada dalam rahimnya.
Aira tersenyum saat do'a itu terlantun dari bibirnya, dan entah mengapa, hatinya merasakan sesuatu yang tak biasa, bahkan ia seolah merasakan Arsyad juga berdo'a bersamanya seperti yang biasa mereka lakukan selama pernikahan mereka.
"Aku berharap pada-Mu ya Allah, karena sesungguhnya..."
...****************...
"Kami milik-Mu, kami tak berdaya tanpa-Mu. Jangan Kau timpakan semuanya pada kami, karena kami sangat lalai, bahkan terkadang dzolim pada diri kami sendiri. Sementara Engkau maha pengasih, maka kasihanlah kami."
Arsyad memanjakan do'a dengan begitu khusyuk, sepenuh jiwa dan ia merasa seolah Aira ikut berdo'a bersamanya, seperti dulu, dimana keduanya selalu sholat bersama dan melantunkan do'a yang sama, karena impian dan cita-cita keduanya adalah sama, sama seperti hati mereka yang memilki cinta yang sama.
Anggun memperhatikan Arsyad yang masih memejamkan mata dengan tangan yang terangkat ke langit. Anggun bisa merasakan do'a Arsyad adalah apa yang sangat ia inginkan, itu terlihat dari raut wajah Arsyad, meskipun Anggun tak mendengar apa do'a Arsyad dari bibirnya.
Setelah selesai acara do'a, makananpun di sajikan untuk para tamu. Arsyad ikut makan dengan mereka, bahkan ia duduk di samping Anggun.
Anggun merasa, malam ini adalah malam terindah dalam hidupnya.
Setelah semua acara selesai, Arsyad mengajak keluarganya duduk di ruang keluarga karena Arsyad ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa, Mas?" tanya Anggun masih dengan senyum sumringah di bibirnya, dalam hati, ia berharap Arsyad membicarakan tentang hubungan mereka kedepannya.
"Anggun..." Arsyad memegang tangan Anggun, ia menatap mata wanita itu dengan dalam yang membuat hati Anggun bergetar.
Seluruh keluarganya pun ikut senang melihat itu dan tak sabar menunggu apa yang akan Arsyad katakan.
"Iya, Mas?"
"Aku tahu kamu wanita yang sangat baik, dan kamu sangat berhak mendapatkan yang terbaik dalam segala hal, termasuk pria terbaik untuk menjadi pasangan hidupmu. Dan maafkan aku, karena..." Arsyad menarik napas dalam-dalam. "Karena aku bukan pria itu, Anggun. Maafkan aku atas semua yang telah aku lakukan dan itu pasti sangat menyakitimu. Dan mulai detik ini, kau berhak mencari kebahagiaanmu sendiri karena mulai detik ini, kau bukan lagi istriku dan aku bukan bukan suamimu, aku jatuhkan talak padamu."
__ADS_1