
"Ummi juga bilang apa, kamu pasti sakit 'kan." Ummi Firda menggerutu sembari membawa Aira ke kamarnya.
"Cuma demam, Ummi. Nanti juga sehat lagi setelah minum obat," kata Aira.
Senyum sumringah mengembang di bibirnya saat melihat baby Ali yang terlelap dalam box bayi. "Ya Allah, Nak. Ummi rasanya kangen sekali sama kamu," kata Aira sembari mengusap pipi baby Ali dengan gemas. "Dia rewel nggak, Ummi?" Tanyanya kemudian sembari menggendong sang putra.
"Alhamdulillah dia nggak rewel, nangis cuma kalau lapar aja." Aira mengecup kening anaknya itu dengan sayang, hanya satu malam berpisah, rasanya sudah seperti tahun bagi Aira. "Lebih baik kamu istirahat, Ai. Mumpung baby Ali juga tidur," kata Ummi Firda.
"Ummi, kalau lihat baby Ali, sakit dan lelahku seperti hilang," ujar Aira.
Ia menidurkan baby Ali di tengah ranjang kemudian ia menyusulnya. "Kamu sudah makan belum?" Tanya Ummi Firda.
"Sudah, tadi sarapan di pesawat," jawab Aira yang masih sibuk memandangi wajah putranya yang tidur pulas, raut wajahnya begitu tenang dan menenangkan siapa saja yang menatapnya.
"Ya sudah, kamu istirahat." Aira terkekeh karena sejak ia sampai, ibunya itu terus ngedumel hanya karena suhu tubuh Aira yang sedikit panas dan wajahnya sedikit pucat.
Padahal Aira sudah mengatakan berkali-kali bahwa ia baik-baik saja, namun sang ibu masih terus mengomelinya seperti saat ia masih kecil dulu. "Iya, Ummi. Makasih, ya." Ummi Firda hanya menggumam sebelum akhirnya ia pergi keluar.
Sementara di luar, Tanvir justru sibuk beradu argumen dengan Via perihal sebuah hadiah yang katanya spesial dari Tanvir untuk adik kesayangannya, Livia.
"Aku beli ini mahal tahu! Kamu harus pakai!" serunya penuh penekanan, bahkan ia terkesan memerintah dan tak ingin di bantah.
"Nggak mau! Itu kebesaran, nggak bisa di pakai..." Via menolak juga penuh penekanan. "Lagi pula Via tidak suka pakai cincin, sukanya pakai gelang aja." lanjutnya yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Tanvir.
"Kakak ini siapa?" Tanya Tanvir kemudian sambil bersandekap tangan di dadanya, ia mengangkat wajahnya dengan angkuh.
"Kakaknya Via," jawab Via santai.
__ADS_1
"Terus Livia itu siapa?" tanya Tanvir lagi.
"Adiknya Kak Tanvir." Via kembali menjawab dengan santai.
"Berarti adik harus nurut sama kakaknya, 'kan?" Via tentu saja menjawab pertanyaan itu dengan anggukan apalagi ketika ia mengingat Umminya pernah memintanya menurut pada Tanvir karena Tanvir kakaknya dan apa yang di lakukan Tanvir untuk kebaikan Via.
"Ya sudah, mana jari kamu...." Tanvir mengulurkan tangannya pada Via dan Via pun dengan polosnya memberikan jari telunjuknya pada Tanvir. "Bukan ini..." Tanvir memukul tangan Via yang membuat Via langsung cemberut. Tanvir pun memakaikan cincin di yang ia beli itu di jari manis Via.
Dan tak jauh dari sana, Zenwa merekam aksi kedua anak itu diam-diam. Bahkan seluruh keluarga Aira menyaksikan saat Tanvir menyematkan cincin di jari manis Via.
Mereka hanya tertawa geli, merasa lucu dengan adegan bak lamaran itu. Apalagi melihat sikap Tanvir begitu mendominasi Via. Arsyad pun tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya melihat anak-anak itu, Arsyad kembali merasakan kesempurnaan dalam hidupnya meskipun ia juga kehilangan banyak hal dalam hidupnya.
"Biar tidak lepas, kakak tambal ya..." Tanvir merobek ujung kaosnya menggunakan giginya, kemudian ia mengambil sedikit robekan kaosnya itu, Tanvir melilitkan robekan kaos itu di cincin Via hingga kini cincin Via pas di jarinya. Seketika senyum sumringah terbit di bibir mungil Via.
"Bagaiamana? Sudah pas 'kan?" Tanvir pun juga tersenyum senang, Via mengangguk dan memeluk Tanvir.
"Livia janji akan nurut sama Kak Tanvir karena Kak Tanvir kakaknya Via," janji Via dengan serius.
"Bagus, itu namanya adik yang baik." Tanvir mengusap pucuk kepala Via dengan gemas. Kedua anak itu kini cekikikan bersama.
"Sudah pelukannya..." seru Micheal menginterupsi yang langsung membuat Tanvir cemberut.
"Saat usianya sudah 10 tahun, ingatkan dia agar tidak berinteraksi seperti itu dengan Via, agar terbiasa menjaga jarak," tukas Abi Gabriel mengingatkan yang hanya di jawab gumaman oleh Micheal.
"Aku mau ke kamar dulu," kata Arsyad kemudian karena sebenarnya ia pun sangat merindukan putranya.
Saat Arsyad masuk ke kamarnya, Ummi Firda langsung bertanya apa saja yang terjadi tadi malam pada Abi Gabriel. Abi Gabriel pun menceritakan semuanya. Ummi Firda merasa bersimpati pada Anggun, namun ia juga kesal dan tak habis fikir dengan tindakan Anggun, yang membuat ia lebih tak habis fikir lagi adalah orang tuanya yang selalu mendukung Anggun dalam setiap tindakan gila nya.
__ADS_1
"Tapi Alhamdulillah sekarang semuanya sudah selesai, Sayang. Aku harap pernikahan Aira dan Arsyad harmonis dan nggak ada lagi yang ganggu," kata Abi Gabriel.
"Semoga saja, Bang. Masa lalu Arsyad sudah selesai, semoga setelah ini mereka bisa menjalani rumah tangga seperti yang mereka mau."
"Aamiin..."
"Apa itu pernikahan, Nek?" tanya Livia yang tanpa sengaja mendengar obrolan mereka.
"Pernikahan itu Papa dan Mama menikah, Kakek dan Nenek menikah, Om dan tante menikah." Tanvir menjawab dengan percaya diri sementara Via hanya mengangguk-anggukan kepalanya.
Zenwa dan yang lainnya tertawa geli mendengar jawaban Tanvir yang absurd namun benar itu.
"Kalau Papa menikahi Mama, kakek menikahi Nenek, Om menikahi tante, terus Kak Tanvir sama Via akan menikah sama siapa ... aduh...." Via memegang kepalanya yang di ketuk dengan jari oleh Tanvir.
"Pernikahan itu urusan orang dewasa, Livia masih kecil. Lebih baik fokus belajar biar menjadi anak yang cerdas!" Seru Tanvir bak orang dewasa.
"Kayaknya anakmu tipe orang yang mendominasi, Mikail," ujar Ummi Firda sambil terkekeh.
"Iya, perintahnya benar-benar nggak mau di bantah," sambung Abi Gabriel.
"Jiwa pemimpinnya nurunin kamu ya, Bang," tukas Ummi Firda lagi.
"Iya, tapi jiwa absurdnya nurunin keluarga Zenwa," sambung Micheal yang langsung membuat Zenwa menganga. "Aduh..." pekik Micheal saat merasakan pukulan di kepalanya. Sang ayah memukul kepalanya itu sambil menatapnya dengan kesal.
"Nurunin gen kamu itu malah nyalahin gen ibunya," ujar Abi Gabriel penuh penekanan yang seketika membuat Micheal cengengesan.
TBC...
__ADS_1