
"Kayak ada suara om Javeed," kata Via sembari membuka pintu kamarnya.
"Tajam banget pendengaran anak itu kalau dengar suara Javeed," kekeh Aira sembari membereskan ranjangnya.
Via berlari keluar dan ia langsung menyapa Javeed dengan senyum lebarnya. "Om, Om kesini? Bawain apa untuk Via, Om?" Javeed yang tadinya tegang dan kesal pada Arsyad kini justru langsung tersenyum saat melihat Via, apalagi setelah mendengar pertanyaan Via yang selalu sama setiap kali Javeed berkunjung.
"Bawain nasi kuning kesukaan Via," jawab Javeed sambil melirik Arsyad yang saat ini masih menatapnya dengan tajam, seolah ingin menerka nya.
"Nasi kuningnya di dapur, Via. Masuk gih," seru Arsyad dengan suara tegasnya namun kemudian keningnya berkerut saat menyadari sesuatu. "Dimana yang jual nasi kuning disini?" Tanya Arsyad yang seketika membuat Javeed tertawa.
"Itu nasi Biryani, tapi kata Via nasi kuning," jawab Javeed dan Arsyad hanya manggut-manggut.
"Yeay, ada nasi kuning, Via mau makan ah," seru Via girang sambil melompat girang ke dapur.
"Apa lagi?" Tanya Arsyad karena Javeed masih disana. "Mau lagi?" Ancamnya sembari menyalakan kembali korek apinya.
"Psycho!" Desis Javeed kemudian ia kembali pulang, Arsyad hanya geleng-geleng kepala, ia pun menutup pintu dan menyusul Via ke dapur.
Tak berselang lama Aira juga datang ke dapur dan Arsyad membantu menarikan kursi untuknya, Aira pun duduk dengan hati-hati.
"Mas, kamu udah lihat foto USG anak kita, nggak?" Tanya Aira tiba-tiba yang langsung membuat hati Arsyad terkesiap, ia menatap sang pujaan hati dengan pupil mata yang membesar.
Sejak Arsyad mengungkapkan isi hatinya, Aira semakin jarang berbicara dengannya namun Aira tak lagi bersikap dingin padanya, dan apa yang di ucapkan bibir Aira sekarang sungguh kejutan untuk Arsyad apalagi nada bicaranya tampak sangat berbeda.
"Su-sudah, di kasih lihat sama Via," jawab Arsyad yang entah kenapa ia merasa gugup, seolah baru pertama kali berbicara akrab dengan Aira.
"Foto USG yang pertama, sudah lihat?" Tanya Aira lagi sembari membuka nasi Biryaninya kemudian mengambilkan untuk Via.
"Be-belum..." jawab Arsyad yang kemudian ia berdeham untuk menenangkan perasaannya.
__ADS_1
"Nanti aku tunjukin ke kamu, tapi aku berbeda sih, Mas. Karena USG nya dari usia kandungan 4 bulan, sementara orang lain biasanya dua bulan atau kurang," kata Aira yang kini mengambilkan nasi untuk Arsyad.
"Waktu bidan bilang aku hamil, aku sama ummi nggak percaya, terus aku periksa deh ke tante Tiya, mas Arsyad ingat 'kan sama Dokter kandungan di desa, temannya Ummi itu?" tanya Aira sambil tersenyum.
"Ingat dong," kata Arsyad. "Dia' kan hadir di pernikahan kita." lanjutnya yang kini perlahan mulai rileks.
"Aku periksa ke dia, dan beneran aku hamil bahkan usia kandunganku 4 bulan. Aku sama Ummi benar-benar nggak percaya, Mas. Apalagi aku masih datang bulan, tapi kata Tante Tiya, terkadang itu bisa terjadi." Arsyad tertenyuh mendengar cerita Aira, bahkan kini kedua matanya sudah berembun, menahan air mata haru membayangkan betapa bahagianya Aira saat itu, namun sayangnya Arsyad tak ada disana.
"Te-terus?" suara Arsyad mulai tercekat di tenggorokannya, dadanya berdebar.
"Ya kami benar-benar bahagia, aku langsung menghubungi kamu saat itu, aku bahkan ingin rujuk denganmu meskipun abi sudah bilang keputusan pengadilan sudah keluar." air mata Aira menumpuk di pelupuk matanya saat mengingat masa-masa itu, masa dimana seolah anugerah dan kutukan datang bersamaan dalam hidupnya, menghantamnya darinya segala sisi.
Arsyad yang menyadari itu langsung mengambil tissue namun tanpa di sangka Aira juga mengambil tissue sehingga tangan keduanya bersentuhan. Aira melepaskan tissue itu, sementara Arsyad mengambilnya kemudian ia memberikan tissue itu pada Aira.
Aira mengambil tissue itu kemudian ia memisahkan tissue itu dan memberikan satu untuk Arsyad, Aira tahu Arsyad juga menahan air matanya saat ini.
"Ummi sama abi kenapa? Kelilipan, ya?" tanya Via dengan polosnya dan dengan kompaknya Arsyad Aira mengangguk sembari mengucek matanya dengan tissue.
"Nggak usah, Sayang," jawab Aira. "Kamu makan gih."
"Jadi, sebenarnya kamu nggak mau ninggalin aku, 'kan meskipun ada wanita lain saat itu?" Tanya Arsyad dan Aira mengangguk lemah. Karena memang bener, saat itu Aira ingin kembali meskipun ia tahu ada yang kedua setelah dirinya. "Kamu pergi karena pesan palsu itu' kan?" tanya Arsyad lagi dan lagi-lagi Aira hanya mengangguk. "Dan sekarang kamu tahu, pesan itu palsu, wanita itu juga sudah bukan pendampingku lagi. Apakah kamu mau..."
🌱
Jibril menghampiri umminya yang saat ini sedang menyusun pakaiannya dan pakaian abi Gabriel ke dalam koper karena VISA mereka sudah siap dan sudah waktunya mereka ke Pakistan untuk menyusul Aira seperti janji mereka.
"Memang VISA-nya sudah siap, Ummi?" tanya Jibril.
"Iya, besok malam kita berangkat," jawab Ummi Firda.
__ADS_1
"Kok tiba-tiba?" Pekik Jibril.
"Astagfirullah, dari minggu lalu Ummi sudah bicarakan lho ke kamu," kata Ummi Firda.
"Ya aku fikir masih seminggu lagi," kata Jibril yang bahkan seolah merengek manja.
"Kenapa? Kamu mau ikut lagi?" Tanya sang ibu.
"Pengennya ikut, tapi aku banyak jadwal, banyak pekerjaan," ujar Jibril.
"Ya udah, kamu jaga rumah ya."
"Hem," jawab Jibril sembari merebahkan dirinya di atas ranjang, tatapannya tertuju pada foto sang ibu dan ayahnya di masa muda saat mereka menggendong Jibril yang masih bayi.
Di foto itu, wajah abi dan umminya babak belur, foto itu di ambil di depan rumah sakit dan Ummi Firda duduk di atas kursi roda. Setiap kali Jibril melihat foto itu, ia merasa begitu bangga karena di lahirkan dari rahim wanita tangguh seperti Ummi Firda dan menjadi putra dari seorang Gabriel Emerson, pria yang kata orang pendosa dengan tangan berlumuran darah kini telah merangkul banyak orang dalam kebaikan. Dan sang ibu, yang katanya dulu kekanak-kanakan, justru menjadi wanita yang tangguh dan meninggalkan bukti ketangguhannya yaitu dengan melahirkan Jibril dan memutus rantai dendam antara seorang putra dan ayahnya.
"Ummi, aku yakin Aira pasti kuat menghadapi berbagai hantaman ombak dalam hidupnya, karena dia putrimu," ujar Jibril bangga.
"Hem, dia putri don mafia," kekeh Ummi Firda. "Dia kuat, tapi bisa juga keras kepala, sifat yang pasti ia turuni dari ayahnya."
"Dan dia juga punya sisi lembut, mudah memaafkan, sifat yang Ummi wariskna untuknya."
"Semoga dia hanya menuruni sifat positif kami."
TBC...
UNTUK MENGINGATKAN ASAL MUASAL ZEDA HUMAIRA EMERSON.
LANJUTAN DARI CERITA SANG AYAH, YA. BUKAN DARI KAKAKNYA.
__ADS_1