Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #70 - Benarkah Itu Isi Hatimu?


__ADS_3

"Bagaiamana kalau apa yang Anggun bilang itu benar, Mas?" Tanya Zenwa sembari membenarkan selimut Tanvir yang sudah tertidur pulas di tengah ranjang mereka. "Apalagi selama ini kita sudah kenal Arsyad, Mas. Rasanya memang nggak mungkin Arsyad tega melakukan hal seperti itu sama Aira."


"Iya, kita kenal Arsyad dan ternyata dia nggak seperti yang kita kenal," ujar Micheal. "Arsyad yang kita kenal, dia mencintai Aira, menghormati Aira. Tapi nyatanya apa? Dia diam-diam menikahi guru sekolah TK-nya, Zenwa. Dan selama tiga bulan, mereka bersandiwara di depan Aira, bersikap seolah tidak apa-apa padahal hubungan mereka sudah suami istri dan Anggun hamil. Itu fakta nyata! Mereka bukan hanya membodohi Aira tapi kita semua!" Tegas Micheal, ia pun merangkak naik ke atas ranjang setelah berganti pakaian dengan piyamanya.


"Kita sudah salah menilai Arsyad selama ini, dia pengecut, pembohong, kita sudah di kasih kejutan besar dengan hadirnya Anggun yang sedang hamil, jadi aku rasa kita nggak perlu kaget kalau dia bisa memberikan kejutan lain yaitu meninggalkan Aira."


Zenwa hanya bisa menghela napas panjang mendengar celetohan Micheal yang tampaknya benar-benar menutup hati dari Arsyad.


Sementara di sisi lain, Hulya yang saat ini masih berada di rumah mertuanya istirahat sejenak sembari mengobrol bersama ibu mertuanya.


"Fahmi kapan kesini, Hul? Acaranya dua hari lagi loh," ujar sang ibu mertua.


"Besok, Ma. Soalnya mas Fahmi masih sibuk banget," kata Hulya.


"Kalau dia bukan bekerja sama Arsyad, sudah Mama paksa pulang dia tuh, adiknya mau nikah kok dia sibuk bekerja," gerutunya yang membuat Hulya hanya tersenyum tipis. "Tapi selama ini Arsyad sudah banyak membantu dia, jadi Mama rasa memang sudah seharusnya Fahmi ada saat Arsyad sangat membutuhkannya."


"Do'ain Arsyad ya, Ma. Semoga Arsyad cepat sadar, aku juga kasihan sebenarnya sama Arsyad apalagi setelah kematian Tante Ridha."


"Mama pasti do'akan dia, Hul. Bagaimana pun juga dia sudah banyak membantu Fahmi selama ini."

__ADS_1


Memang benar, selama ini Arsyad sudah banyak membantu Fahmi dan selalu menjadi teman setia untuk Fahmi dalam segala keadaan. Bahkan Arsyad pernah membayarkan biaya rumah sakit ibunya Fahmi dulu dan Arsyad tak meminta ganti sedikitpun hingga detik ini.


"Kasihan sekali, Arsyad. Aira pergi, ibunya juga pergi," ucapnya bersimpati. "Arsyad itu sebenarnya orang baik, pasti sangat sulit berada di posisi dia karena dia berada di antara istri yang di cintainya atau ibu yang sudah mengorbankan segalanya untuk dia."


"Iya sih, Ma. Sebenarnya Arsyad nggak sepenuhnya salah, dan dia pun memang nggak menghendaki adanya Anggun. Buktinya dia menceraikan Anggun karena merasa benar-benar nggak sanggup terikat pernikahan dengan Anggun."


"Hem, tapi kalau menurut Mama, nggak seharusnya dia menceraikan Anggun. Toh dia sudah bercerai dengan Aira, jadi kenapa dia nggak coba aja nerima Anggun. kalau sudah begini, kasihan dua wanita itu yang harus menjada."


"Kalau aku sih nggak kasihan sama Anggun, Ma. Dari awal dia sudah tahu Arsyad sangat mencintai Aira, tapi dia masih bersikeras mau menjadi yang kedua, sekarang baru tahu rasa dia tuh. Yang kasihan itu Aira, Ma. Di madu begitu tanpa izin. " ibu mertua Hulya hanya bisa geleng-geleng mendengar celotehan Hulya itu.


"Ya sudah, kamu tidur gih. Besok pekerjaan masih banyak," kata ibu mertuanya itu dan Hulya pun segera bergegas ke kamarnya.


"Aira ..."


...****...


^^^Lahore, Pakistan.^^^


Javeed tak bisa tidur setelah melihat wajah Aira yang menyembunyikan kecantikan luar biasa di balik cadarnya, jantung Javeed berdebar kencang tanpa henti sejak tadi.

__ADS_1


"Aduh gimana ya? Apa aku perlu melamar dia setelah dia melahirkan nanti?" Javeed langsung beranjak dari tidurnya, ia duduk tegap, berusaha mengatur detak jantungnya, menarik napas dan menghembuskannya secara perlahan. "Tapi kan aku belum tahu status dia, masih istri orang atau bukan?"


Sementara di sisi lain, Aira yang baru saja menutup matanya kini harus terbangun saat ponselnya berdering.


"Hulya ..." Aira langsung menjawab panggilan dari sahabatnya itu.


"Assalamualaikum, Hulya," sapa Aira.


"Waalaikum salam, Aira? Ini benaran kamu, Ai?" Tanya Hulya dari seberang telfon.


"Iya," jawab Aira lirih. Ia pun keluar dari kamarnya karena takut mengganggu tidur Via.


"Ya Allah, Ai. Kenapa kamu menghilang gitu aja sih, huh? Kamu tahu nggak aku tuh nyariin kamu, apalagi Arsyad..." hati Aira terkesiap saat mendengar Hulya mengucapkan nama Arsyad, nama milik seseorang yang masih ia rindukan. dan sudah 3 minggu ini ia tak pernah lagi mendengar ada seseorang yang menyebut nama Arsyad. "Ai, Arsyad itu...."


"Hulya, aku nggak mau ngomongin hal itu. Aku telfon cuma mau tahu keadaan kamu dan Jihan, apa Jihan sehat?" Aira bertahan sambil tersenyum. Dan bibirnya memang berkata ia tak ingin tahu tentang Arsyad, namun hatinya berkata lain. Ia sangat merindukan pria itu, dia ingin tahu keadaannya.


" Aira, dengerin aku dulu...."


"Hulya, aku serius! Aku benar-benar nggak mau bahas itu lagi. Aku sudah melarikan diri jauh-jauh kesini hanya supaya aku bisa sedikit saja melupakannya, jadi aku mohon jangan lagi menyebut namanya karena bagiku dia hanya kenangan masa lalu yang sudah seharusnya aku kubur! "

__ADS_1


TBC...


__ADS_2