
Via sedih karena ia harus berpisah dari kakek dan neneknya, namun ia juga senang karena sebentar lagi akan bertemu lagi dengan Jihan. Dan lebih bahagia lagi karena Via akan segera masuk sekolah dasar, begitulah kata Umminya.
Ummi Firda dan Abi Gabriel pun rasanya begitu berat melepaskan cucu kedua mereka kembali ke Jakarta, namun mereka tahu di sana lah hidup Aira dan anak-anaknya akan berjalan.
Micheal, Zenwa dan Tanvir juga harus kembali ke rumah mereka, di Jakarta. Alhasil, kini Ummi Firda dan Abi Gabriel merasa kesepian. Tak ada lagi suara ramai anak-anak, tak ada lagi suara Tanvir yang marah-marah pada Via atau beradu argument dengan ayahnya.
"Kenapa Nenek dan Kakek sedih?" Tanya Tanvir yang seolah membaca kesedihan kakek neneknya saat mereka akan pergi.
"Ya karena akan berpisah dengan cucu Nenek yang tampan dan cantik ini," jawab Ummi Firda.
"Yah, Nenek. Itu saja di buat sedih, kalau nenek kangen kami, tinggal telfon saja sopir pesawat kakek, nanti pesawatnya datang. Pussshhhhh...." tangan Tanvir membuat gerakan seolah pesawat mendarat. "Nah, sudah deh. Nenek tinggal masuk, terbang deh ke Jakarta." seketika Ummi Firda tertawa geli melihat cucunya itu.
"Benar juga, kamu sangat pintar, bocah," kata Ummi Firda sembari mencubit gemas pipi Tanvir, sementara Tanvir yang di panggil bocah justru mendengus kesal.
"Tanvir sudah besar tapi semua orang manggil bocah," gerutu Tanvir kemudian ia masuk ke dalam mobil. Tak lupa ia menarik Via agar segera masuk juga.
Aira dan yang lainnya pun juga berpamitan pada keluarga mereka, dan sebelum pergi, sekali lagi Abi Gabriel menasihati Arsyad agar menjaga Aira dan anak-anaknya.
"Abi bukannya nggak percaya sama kamu, Arsyad. Tapi jujur saja, masih ada rasa takut dan khawatir di hati Abi setiap kali memikirkan Aira dan anak-anaknya. Suatu hari nanti, saat anak perempuanmu sudah dewasa, kamu akan meraskan apa yang Abi rasakan," kata Abi Gabriel yang langsung membuat Arsyad mengangguk.
"Iya, Abi. Terima kasih sudah kembali mempercayaiku, akan aku lakukan yang terbaik untuk mereka," jawab Arsyad sambil merangkul Aira yang menggendong Baby Ali.
"Sudah waktunya pulang..." teriak Tanvir dari dalam mobil. "Nanti kita tinggal di pesawatnya." lanjutnya.
__ADS_1
"Nggak akan," sambung Micheal. "Pesawatnya milik kita, akan pergi dan datang sesuai perintah kita." lanjutnya yang membuat Zenwa mendelik.
"Wow, hebat!" seru Tanvir takjub.
***
Setelah satu jam penerbangan, kini Aira dan yang lainnya sudah sampai di Jakarta. Mereka pulang ke rumah masing-masing, apalagi kata Micheal, ia sudah di tunggu oleh client-nya. Membuat Tanvir benar-benar kesal pada ayahnya yang tak ada lelahnya mencari uang itu.
Kini Arsyad kembali membawa Aira ke rumah orang tua Arsyad yang selama ini mereka tempati. Kedua mata Aira berkaca-kaca saat melangkah masuk, ia seolah melihat kembali masa lalunya saat Arsyad dan Ummi Ridha membawanya pulang.
Saat itu mereka bertiga merasa begitu bahagia, apalagi sikap sang mertua yang bak ibu kandung, membuat hidup Aira seolah begitu sempurna.
Namun di rumah ini juga...
Aira hanya mengangguk dan mengikuti Arsyad saat Arsyad merangkulnya, membawanya kembali ke kamar mereka.
Aira memperhatikan kamar yang menjadi saksi bisu perjalanan cintanya dengan Arsyad. Tak ada yang berubah dari kamar itu, tak ada satu pun. Semuanya masih sama, bahkan masih ada barang-barang Via di sana.
"Sini, tidurkan baby Ali di sini." Arsyad menepuk ranjang, Aira pun menidurkan anaknya itu disana.
"Ada apa?" Arsyad bertanya dengan begitu lembut. "Sejak tadi kamu melamun terus, Sayang." ia berkata sambil melepas cadar dan jilbab Aira.
Arsyad tersenyum saat melihat liontin berinisial A itu selalu berada di leher Aira. "Nggak apa-apa, cuma mengenang masa lalu," jawab Aira sambil tersenyum lembut. Ia pun menunduk saat menyadari Arsyad menatap liontin yang ia pakai.
__ADS_1
"Aku menemukannya saat aku kesini untuk mencari tas Via," lirih Aira.
"Aku fikir ada yang mencurinya, aku sudah marah-marah dan kalang kabut," kata Arsyad sambil terkekeh.
"Aku fikir liontin ini hilang, saat itu tiba-tiba nggak ada di leher aku."
"Aku menemukannya di masjid."
Sepasang suami istri itu kini saling pandang, menatap penuh cinta yang selalu bermekaran di antara keduanya. "Lihat? Yang hilang selalu di kembalikan pada pemiliknya, Allah sendiri yang mengatur itu," kata Arsyad sembari membelai rambut Aira kemudian ia melepaskan sanggul rambutnya.
"Iya, Allah mengaturnya dengan sangat baik," kata Aira sambil tersenyum. Arsyad mendekatkan wajahnya ke wajah Aira, masih dengan tatapan yang saling mengunci.
"Mas..." lirih Aira saat Arsyad mendekatkan bibirnya. "Masih siang, nanti Via..."
"Ummi...."
"Nah, kan..."
Arsyad berdecak kesal, baru saja ia ingin melepas rindu bersama sang istri, bocah kecil itu justru menganggu nya.
Aira segera menjauh dari Arsyad, ia kembali mengikat rambutnya, dan bersamaan dengan itu, pintu kamarnya terbuka, munucullah Via dan Jihan yang bergandengan tangan. "Abi... Ummi, ada om Fahmi sama tante Hulya di bawah," ujar Via girang.
"Oh ya, Via sama Jihan mau lihat adik bayi, Jihan penasaran sama adik bayi Via," katanya.
__ADS_1
"Ya sudah, kita ke bawah, ya. Biar Ummi bawa adik bayinya ke bawah," ujar Aira yang membuat kedua anak itu bersorak girang.