
"Aneh tahu, Bang. Apa perasaan aku aja, ya? Tapi anak Anggun itu seperti sudah lama di lahirkan gitu loh, Bang. Dulu aja Aira masih sedikit merah dan tubuhnya kecil saat usianya sudah 40 hari, tapi anaknya Anggun kayak bayi berusia di atas 2 bulan." Ummi Firda mengutarakan apa yang ada dalam benaknya saat melihat foto anak Anggun, sementara sang suami mendengarkan dengan seksama.
Saat ini keduanya sudah bersiap-siap tidur karena hari sudah malam. "Mungkin karena bayinya sehat, Sayang. Atau memang punya tubuh yang besar sejak dalam kandungan kandungan," kata Abi Gabriel yang memang tidak tahu bedanya bayi di lahirkan secara normal dan tidak normal.
"Bukan masalah ukuran bayinya, Bang. Tapi..." Ummi Firda menghela napas panjang kemudian ia berdecak. "Ya sudahlah, mungkin perasaan aku aja," ucapnya kemudian.
"Kamu curiga sesuatu?" Tanya bang Gabriel sambil berbaring menyamping, menghadap sang istri. "Jangan-jangan itu bukan anak Arsyad? Jangan-jangan Anggun hamil duluan sebelum menikah sama Arsyad? Makanya dia mau jadi istri kedua Arsyad meskipun Arsyad nggak mencintai dia."
Pupil mata Ummi Firda melebar mendengar apa yang di katakan oleh suaminya itu, ia langsung duduk tegak begitu juga dengan Abi Gabriel. "Ck, jangan berfikir begitu lah, Bang. Dosa, nanti jatuhnya fitnah lho," tegurnya walaupun kecurigaan itu kini hinggap di hatinya.
"Sayang, kita nggak curiga, cuma menduga dan aku rasa it salah satu bentuk waspada. Kalau di dunia bawah tanah, itu yang kami terapkan dan ajarkan. Peka, pintar menduga dan mencari tahu walau dari kecurigaan kecil sekecil lubang semut. Karena terkadang, hal kecil yang di sepelekan itu lah yang menyebabkan kehancuran besar," paparnya dengan serius.
Ummi Firda terdiam, mencerna apa yang di katakan sang suami. "Jadi menurut Bang Gabriel, Anggun itu sebenarnya sudah lama hamil atau sudah lama melahirkan?" Tanyanya.
"Ya mana aku tahu, Sayang. Aku nggak bisa bedain, tapi kalau anak Anggun sudah besar, berarti dia memang hamil sebelum menikah sama Arsyad dan diam memang melahirkan dengan normal tapi dia bilang lahirnya prematur. Dan kenapa aku mikir gini? Pertama, dia maksa banget mau nikah sama Arsyad, sampai rela jadi yang kedua."
"Yang kedua, dia maksa Arsyad untuk menyentuhnya. 'kan biasanya perempuan malu, Sayang. Apalagi kalau sebelumnya dia nggak pernah melakukan hubungan intim, lah kok dia nggak malu, mungkin dia maksa Arsyad supaya saat dia hamil maka Arsyad akan menduga itu anaknya."
"Ketiga, dia bilang lahir prematur. Anaknya di ruang NICU, tapi setiap kali Arsyad mau melihat anaknya, dia nggak langsung mengirimkan fotonya dengan berbagai alsan, dia justru memperlihatkan beberapa hari setelahnya saat anaknya sudah bisa dia gendong. Padahal hal biasa anak di foto setelah di lahirkan, atau engga, foto dari luar lah. Jadi kesimpulannya, bisa jadi dia mau menikah sama Arsyad untuk menutupi kehamilannya. "
Ummi Firda menganga lebar mendengar segala diagnosa sang suami akan kejanggalan Anggun, kejanggalan-kejanggalan yang tak pernah terbersit dalam benaknya sedikitpun.
"Kok kamu bisa mendetail gitu sih, Bang? Malah masuk akal semua lagi dugaanmu," ujar Ummi Firda yang membuat suaminya terkekeh.
"Aku terlatih dan di haruskan melihat semua kemungkinan yang ada di sekitarku, Sayang. Kalau nggak, sudah hancur sejak dulu kerjaanku."
__ADS_1
"Tapi nggak mungkin ah, Bang. Masak Anggun begitu sih," sanggah Ummi Firda.
"Bisa jadi, Sayang. Jika dia tega mau memisahkan Aira dan Arsyad dan berbohong soal pesan Aira, kenapa dia nggak bisa membohongi Arsyad soal anaknya sendiri? Dan dia mendorong Arsyad sampai kecelakaan, koma bahkan lumpuh, dan setelah itu dia masih nggak mau ngaku salah, setega itu dia, apa kita ngga sebaiknya mempertanyakan kembali pernyataan dia."
"Kalau di dunia bawah tanah, sekali anggota Black Swan berbohong, maka dia akan di blacklist dari daftar orang yang bisa di percaya. Apapun yang dia katakan tidak akan ada yang mempercayainya sampai kami sama-sama membuktikan apakah dia bohong atau jujur."
Ummi Firda kembali menghela napas berat, ia menunduk dan memang ku dagunya dengan dengan telapak tangannya.
"Ah, sudahlah, Bang. Pusing aku," ujarnya kemudian. "Kalau memang dia bohong, pasti Allah tunjukan kebohongannya kok."
"Iya, tapi nggak ada salahnya kita cari tahu. Karena Allah 'kan maunya kita juga ikhtiar. Jadi, nanti kita suruh Arsyad tes DNA kalau kita sudah pulang."
"Hm..." Ummi Firda menjawab sambil mendorong suaminya hingga terjatuh ke ranjang, Abi Gabriel terkekeh kemudian ia mendekap sang istri.
Keesokan harinya, Via mendapatkan kejutan dengan kedatangan Javeed yang sudah lama menghilang.
Javeed baru pulang dari Islamabad dan ia membelikan banyak oleh-oleh untuk Via seperti biasa, tentu saja bocah kecil itu sangat kegirangan. Via juga bercerita tentang adik kecilnya yang sudah lahir, dan untuk pertema kalinya Arsyad mengizinkan Javeed masuk ke dalam rumahnya untuk melihat Baby Ali.
"Ganteng 'kan, Om? Mirip Om, ganteng," celetuk Via yang langsung membuat Arsyad mendengus sementara Javeed langsung tertawa kecil.
"Iya, mirip sekali sama Om," kata Javeed sambil melirik Arsyad.
"Mirip rambutnya, sama-sama hitam," ujar Arsyad.
Javeed terkekeh kemudian berkata, "Kamu beruntung lho, bro. Punya mereka, padahal kalau saja kamu nggak datang. Mungkin mereka akan menjadi milikku."
__ADS_1
"Dalam mimpimu!" seru Arsyad.
"Iya, 'kan semua berawal dari mimpi," kekeh Javeed. "Yang selalu ada buat Aira dan Via selama mereka di sini itu aku...."
"Tapi yang namanya jodoh enggak akan kemana, Bro."
"Itu yang aku sesali."
"Ada Nida, Jav. Aku yakin kalian cocok." Aira menyela, Javeed hanya mengedipkan bahu. "Dia sepertinya juga menyukaimu."
"Aku cuma punya satu hati, Aira. Dan hatiku sudah mencintaimu."
"Silakan cintai dia sebanyak yang kau mau, asal jangan halangi cintanya padaku." Javeed kembali terkekeh mendengar ucapan Arsyad.
"Cerdas juga kamu, Bro."
"Harus!"
**TBC..
Hai, masih ada disini kan?
Nah, mampir ke Jasmine juga dong. Masih sepi banget tuh**.
__ADS_1