Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson

Mahligai Cinta Zeda Humaira Emerson
MC Zeda Humaira #126 - Pulang


__ADS_3

Javeed memeluk Via dengan erat, bahkan kedua bola matanya kini sudah memerah dan berkaca-kaca karena akan berpisah dengan Princess kecilnya. "Om, nanti Om ke rumah, ya. Minta belikan saja tiketnya sama Abi dan Ummi, kan mereka kaya," kata Via dengan suara cerianya yang membuat Javeed terkekeh.


"Iya, Sayang. Insyaallah nanti Om ke Indonesia," kata Javeed.


Abi Gabriel pun berpamitan dengan keluarga Om Sahir, tak lupa ia mengucapkan banyak terima kasih karena sudah banyak membantu mereka selama tinggal disana.


Dan Arsyad pun juga tak lupa mengucapkan terima kasih pada Javeed karena Arsyad tahu, yang benar-benar menjaga Via dan selalu ada untuk Via adalah Javeed. "Kalau kamu mau ke Indonesia, kabari aku," kata Arsyad.


"Enggak takut istrimu di tikung?" Tanya Javeed dan Arsyad menggeleng tegas.


"Aku akan menjaganya sebaik mungkin, dan sisanya aku serahkan pada Allah."


"Keyakinan yang luar biasa mengagumkan," sindir Javeed.


"Kamu juga harus punya keyakinan itu, Jav." Aira menyela. "Terima kasih banyak atas segalanya, semoga Allah yang membalas kebaikanmu."


Javeed hanya mengangguk sambil tersenyum tipis, ia merasa sedih karena harus berpisah dari orang-orang yang sudah ia anggap keluarga sendiri. Namun ia juga bahagia karena melihat orang-orang yang ia sayangi itu bahagia.


Kini Aira berpamitan pada Nida, ia memeluk gadis cantik itu dan Aira memberikan hadiah berupa annting berlian yang membuat Nida membelalakan matanya.


"Kak, ini..." Nida tak tahu harus berkata apa, bahkan orang tuanya pun tak pernah memberikan hadiah berupa perhiasan berlian.


"Angap aja ini sebagai tanda persaudaraan kita," kata Aira sambil tersenyum lembut.


"Tapi ini mahal banget, Kak Aira. Hadiah macam apa ini," ucap Nida tak percaya.

__ADS_1


"Yang pasti bukan hadiah pernikahan," sambung Javeed yang membuat Nida mendengus.


"Kamu pakai, ya," kata Aira dan Nida mengangguk sambil tersenyum penuh haru. Kemudian ia memeluk Aira dan mengucapkan banyak terima kasih.


"Jangan khawatir, tante Nida. Ummi kaya, jadi antingnya meskipun mahal tetap bisa di beli," seru Via yang seketika membuat semua orang tertawa.


"Ini pasti ajaran Micheal neh, awas aja anak itu!" gumam Abi Gabriel.


"Jangan asal nuduh," tegur Ummi Firda. "Anak itu nggak akan punya waktu ngajarin Via yang enggak-enggak." lanjutnya.


"Manusia mana lagi yang suka membanggakan kekeyaan orang tuanya kalau bukan Micheal?" balas Abi Gabriel dengan tegas.


"Iya juga ya..." kini Ummi Firda yang justru juga mencurigai Micheal.


***


Micheal yang saat ini sedang berada di ruang kerjanya langsung berlari ke pintu dan segera menguncinya dari dalam saat mendengar suara teriakan Tanvir.


"Astagfirullah..." gumam Micheal sambil mengusap dadanya.


"Papa, buka pintunya! Tanvir ada berita penting!" seru Tanvir sambil menggedor-gedor pintu.


"Nanti ya, Nak. Papa mau kerja," balas Micheal.


Ia terpaksa mengunci pintu karena ia benar-benar tak ingin di ganggu oleh bocah kecil putra kesayangannya itu. Apalagi jika ia harus di todong berbagai pertanyaan dan permintaan yang membuat kepalanya pusing.

__ADS_1


"Pa, beritanya adalah Via mau pulang hari ini!" seru Tanvir.


"Iya, Papa sudah tahu," balas Micheal dan ia kembali berusaha fokus pada pekerjaannya.


"Papa, aku minta uang!" Micheal berdecak kesal, ia pun segera membuka pintu dengan membawa satu lembar uang.


"Nehh, mau beli apa sih?" tanya Micheal.


"Mau beli hadiah untuk Livia dan adik bayi," kata Tanvir sambil menyambar uang dari ayahnya. "Kok cuma satu lembar, Pa? kan hadiahnya untuk dua orang, dua lembar dong."


Micheal menghela napas berat mendengar permintaan sang anak, ia pun segera mengambil dompetnya dan memberikan satu lembar uang 100 ribuan.


"Pa, untuk Livia bagusnya di kasih hadiah apa,, ya?" Tanya Tanvir seperti orang dewasa yang hendak memberikan hadiah untuk gebetannya.


"Belikan aja cokelat," kata Micheal sambil berjalan masuk.


"Jangan, Pa. Kasih gelang aja, atau engga, cincin aja," ujarnya yang membuat Micheal terperangah. Ia langsung menoleh dan menatap Tavir dengan mulut yang menganga.


"Usia masih 9 tahun, isi otak seperti orang 29 tahun," gumam Micheal tak habis fikir. "Udah kayak orang mau nembak gebetan aja neh anak."


"Ya sudah, aku belikan cincin saja, karena Tanvir lihat Livia tidak pakai cincin."


"Terserah kau bocah!"


TBC...

__ADS_1



__ADS_2