
Anggun langsung menghubungi nomor Aira namun tampaknya telfon Aira sedang tersambung dengan orang lain sehingga Anggun tak bisa menghubunginya.
Anggun mencobanya lagi dan lagi namun masih sama.
Akhirnya Anggun menyerah, ia meninggalkan pesan untuk Aira, memberi tahu bahwa Arsyad membutuhkannya.
Sementara di sisi lain, yang jaraknya ribuan mil dari sana, namun hatinya seolah masih terpaut pada apa yang ada disini.
Aira menggigit bibirnya, menyeka air matanya dengan satu tangannya sedangkan tangan yang lain memegang ponselnya yang tersambung ke Fahmi dengan gemetar. "Maaf ya, aku nggak bisa jenguk kamu," ucapnya dengan lirih. "Aku cuma bisa berdo'a buat kamu, Mas. Aku akan selalu mendoakanmu, di setiap sujudku, aku nggak pernah lupa untuk menyebut namamu. Dan Maafkan aku karena ternyata apa yang terjadi sangat berbeda dengan apa yang aku kira."
Aira menarik napas, mencoba menguatkan hatinya yang bergemuruh. Ada perasaan bersalah setelah tahu ternyata Arsyad tak pernah membuangnya sementara Aira dan seluruh keluarganya sudah mengira Arsyad berlaku tidak adil padanya, sehingga mereka semua memusuhi Arsyad begitu saja. Aira menyesal, padahal ia sudah hidup bersama Arsyad dan berbagi segala hal denganya selama 5 tahun, tapi ternyata hatinya masih bisa ternoda oleh prasangka.
"Mas, aku yakin kamu bisa mendengarku, aku harap kamu segera sembuh dan sehat kembali. Aku janji, aku akan kembali setelah aku melahirkan nanti, akan aku pertemukan kamu dengannya."
***
Jakarta, Indonesia.
Fahmi meletakkannya ponselnya di dekat telinga Arsyad, membiarkan Arsyad mendengarkan apapun yang di katakan Aira dari seberang telfon.
Setelah membaca pesan Anggun yang memberi tahu keadaan Arsyad, Fahmi langsungĀ meminta contact Aira pada Hulya kemudian ia bergegas ke rumah sakit. Dan tanpa ragu, Fahmi menghubungi Aira, memberi tahu keadaan Arsyad dan meminta Aira agar berbicara dengan Arsyad.
__ADS_1
"Ai, kenapa kamu nggak pulang aja?" Tanya Fahmi kemudian.
"Aku sudah melewati jalan itu, Fahmi. Aku rasa nggak mungkin aku memutar arah kembali dan melewati jalan yang sama," jawab Aira.
"Tapi bagaimana dengan Arsyad? Dia masih mencintaimu, kalian saling mencintai."
"Cinta selalu akan menemukan jalannya, Fahmi. Entah jalan perpisahan atau jalan pulang. Aku sudah lelah dengan semua yang ada, apalagi disana masih ada...." terdengar helaan napas berat Aira dari seberang telfon.
"Aku bingung sama kamu, Ai. Apalagi yang membuat kamu menjauh seperti ini? Arsyad sudah nggak punya hubungan dengan wanita mana pun, dia sendiri, begitu juga kamu."
"Kamu bingung karena kamu nggak pernah ngerasain ada di posisi aku, Fahmi." Aira menjawab dengan lirih bahkan suaranya terdengar tercekat dan Fahmi pun tak tahu harus menjawab apa, karena Aira benar, ia tak merasakan bagaimana rasanya berada di posisi Aira. Di saat Aira hidup dalam harapan dan perjuangan untuk memiliki buah hati, tapi sang suami ternyata memiliki wanita lain yang sedang mengandung buah hatinya. Di saat Aira sangat membutuhkan dukungan dari ibu mertuanya, ia justru di paksa untuk memilih di antara jurang dan jurang.
"Fahmi, terima kasih sudah menjaganya, terima kasih sudah membantuku berbicara dengannya," ucap Aira kemudian. "Tolong kabari aku jika keadaannya membaik." lanjutnya.
"Aku tahu, dia mengirim pesan sekarang."
"Kamu membalasnya?"
"Apa yang dia mau sama seperti Yang kamu mau, aku sudah berbicara dengan mas Arsyad."
Fahmi mengerti, itu artinya Aira tak membalas pesan Anggun. "Ingin berbicara Arsyad lagi?" Tanya Fahmi sembari menatap Arsyad yang masih menutup mata. "Sudah hampir sebulan dia menutup mata, Ai. Dia benar-benar pucat, badannya sangat kurus."
__ADS_1
***
Lahore, Pakistan.
"Sudah hampir sebulan dia menutup mata, Ai. Dia benar-benar pucat, badannya sangat kurus."
Aira mata Aira kembali mengalir dari sudut matanya namun bibirnya tersenyum tipis sambil berkata. "Aku yakin dia akan segera membuka mata, Fahmi. Dia masih harus melihat kedua anaknya nanti, 'kan?"
"Ya, kamu benar. Dia harus bangun untuk melihat kedua anaknya, dan juga untuk bisa memperjuangkan ibu dari anaknya."
"Dia sudah disana, nggak perlu lagi di perjuangkan."
"Kamu tahu pasti yang aku maksud itu kamu bukan Anggun, Ai."
***
"Jadi Arsyad nggak salah?" Tanya Ummi Firda dan Abi Gabriel menggeleng sambil meletakkan ponselnya di atas meja.
Ia baru saja berbicara dengan Aira dan Aira menceritakan hal yang sangat mencengangkan, tentang fakta yang tak pernah mereka duga.
"Kenapa bisa? Fitnah yang begitu besar, bukan hanya berdampak pada satu orang tapi pada semua orang, bahkan kami juga hancur ketika Aira hancur dan semua itu hanya karena dia???"
__ADS_1
"Semua sudah terjadi, Sayang. Aku cuma bingung, apa yang akan Aira lakukan selanjutnya? Bagaimana jika Aira kembali pada Arsyad?" Ummi Firda terdiam mendengar pertanyaan suaminya, dalam hati kecilnya ia merasa tak rela jika Aira kembali pada Arsyad karena Bagaimana pun juga Arsyad membohongi Aira.
"Entahlah, aku cuma berharap Aira dan cucu kita mendapatkan yang terbaik dan berbahagia."