
"Benar apa yang di ceritakan Kakakmu? Arsyad ... Arsyad mengkhianatimu?" Aira tidak bisa langsung menjawab pertanyaan sang ibu dari seberang telfon, suaranya tercekat, matanya kembali terasa panas dan berkaca-kaca, kepalanya sedikit mengangguk namun ia tahu, ibunya tidak melihat hal itu.
"Aira, jawab Ummi!" Tegas Ummi Firda.
"Ada apa?" Terdengar suara Abi dari seberang telfon. "Arsyad menikah lagi sama salah satu guru TK-nya, dan dia sekarang hamil, Bang. Aira di selingkuhi." jawab sang Ummi yang membuat dada Aira kembali sesak.
...
Abi Gabriel yang mendengar ucapan sang istri tentu saja langsung meradang, ia menyambar ponsel istrinya itu. "Aira, apa benar itu?" Tanya Abi Gabriel dengan tajam, tangannya mengepal dan rahangnya mengetat apalagi saat Aira bukannya menjawab justru terisak. Hatinya sebagai seorang ayah terasa begitu sakit mendengar isak tangis putri yang sangat di cintainya.
"Abi akan kesana sekarang juga, Aira," geram Abi Gabriel dengan emosi yang tertahan.
"Ja-jangan," lirih Aira. "Biar aku yang meenyelesaikan masalah ini, Abi. Aku mohon jangan datang."
Ummi Firda merebut kembali ponselnya dan kembali berbicara pada putri bungsunya itu. "Kalau begitu kamu yang pulang, Aira. Ummi nggak nyangka Arsyad bisa melakukan ini sama kamu, ya Allah." Ummi Firda tak kuasa menahan air matanya karena sang putri yang terus sesegukan.
Ia sangat terkejut saat Micheal menghubunginya dan menceritakan semua yang terjadi, Ummi Firda bahkan merasa akan pingsan mendengar kabar buruk itu karena ia tahu, itu pasti akan sangat menyakiti anak kesayangannya.
__ADS_1
"Ini salah Aira, Ummi. Karena Aira nggak bisa hamil, jadi Ummi Ridha memilih wanita lain untuk di jadikan ibu dari anak Arsyad."
"Itu bukan salahmu, Aira!" Seru Ummi Firda sambil menatap sang suami yang juga terlihat sangat marah itu. "Itu bukan salahmu, Sayang. Bukan...." lirihnya kemudian dengan lembut.
Abi Gabriel merangkul istrinya, mengusap pundaknya dengan lembut untuk membuatnya sedikit tenang walaupun ia sendiri begitu emosi, dadanya bergemuruh dan darahnya seolah mendidih, jika saja Arsyad ada di depannya saat ini, sudah pasti ia akan menghajar pria itu.
"Itu bukan salahmu, Putriku. Kamu jangan sedih, itu hanya sedikit cobaan dari Allah untuk menaikkan derajatmu," hibur Abi. "Sabar ya, Nak. In Shaa Allah, Allah akan memberikan reward yang luar biasa jika kamu mampu melewati ujian ini. Disini, kami selalu mendo'akanmu dan mendukungmu, selalu."
"Hikss, Abi....." hati Abi seperti di remas mendengar suara pilu sang putri. "Do'akan aku, Abi. Aku bingung," ucapnya.
"Tenangkan fikiranmu terlebih dulu, Aira. Sholatlah dan minta petunjuk sama Allah, Sayang," sambung Ummi Firda.
"Aira pasti kuat, Sayang," kata Abi. "Abi percaya, kamu pasti kuat menghadapi semua ini. Allah tidak mungkin memilihmu di ujian ini kalau kamu tidak kuat, Allah percaya kamu kuat, masak iya kamu tidak percaya pada diri kamu sendiri?"
Tak terdengar jawaban Aira, kembali yang terdengar hanya isakan kecil yang membuat perasaan Abi sebagai seorang ayah semakin sakit. "Kami akan selalu ada untukmu, ya." lanjutnya dengan begitu lembut.
....
__ADS_1
Arsyad meringis saat mengobati luka-luka di wajahnya karena pukulan Micheal yang membabi-buta, walaupun begitu, Arsyad tidak marah sedikitpun karena apa yang di lakukan Micheal sangat wajar.
Jika Arsyad punya seorang adik dan adiknya di sikiti, Arsyad pasti akan melakukan apa yang Micheal lakukan.
"Arsyad...." Arsyad enggan menoleh saat mendengar suara Umminya yang kini mendekatinya.
"Seharusnya Micheal tidak melakukan ini sama kamu, kenapa dia jadi seperti preman begini," kata Ummi Ridha yang membuat Arsyad tersenyum kecut.
"Kalau aku punya adik perempuan dan adikku di sakiti, mungkin aku akan membunuh pria yang menyakitinya," sinis Arsyad yang membuat Ummi Ridha menghela napas berat.
"Apa Aira belum pulang?" cicit Ummi Ridha kemudian.
"Ummi fikir dia akan pulang setelah apa yang kita lakukan?" tanya Arsyad sarkastik dan Ummi pun tidak bisa menjawabnya.
"Dia sakit hati, kita menghancurkan hatinya padahal dia tidak salah apa-apa, Ummi. Apa. Pernah Aira menyakiti kita walaupun hanya seujung kuku? Kenapa aku jadi pria yang kejam pada istriku sendiri?" gumam Arsyad frutasi. "Aku merasa menjadi pria paling hina, paling jahat, paling bodoh. Aku menyakiti istri yang sangat aku cintai dan sangat mencintaiku, dan aku juga tidak akan pernah bisa memberikan kebahagiaan pada istri yang mengandung anakku. Aira benar, aku bukan suami yang baik untuk Aira maupun Anggun."
"Arsyad...." geram Ummi Ridha namun Arsyad segera pergi dari kamarnya, membuat sang ibu hanya bisa menatapnya dengan sedih.
__ADS_1
"Sebegitu besarnya cintamu pada Aira, Arsyad. Sampai Anggun tidak memiliki sedikitpun tempat di hatimu meskipun dia akan memberikan anak untukmu."