
Pak Hendrik sangat bersemangat sejak Dewi memberinya sebuah harapan. Ia tampak selalu berpakaian bagus dan berpenampilan layaknya anak muda yang sedang jatuh cinta.
"*****... *****... *****...!" ponsel miliknya berdering saat ia sudah bersiap ingin mengunjungi tokonya.
"Halo, ada yang bisa saya bantu?"
"Iya Om, aku lagi butuh Om sekarang,"
"Ini siapa yah?"
"Masakan Om nggak kenal suaraku yang merdu ini?"
Sambungan terputus secara sepihak membuat pak Hendrik penasaran. Ia kembali duduk di sofa dan memeriksa siapa pemilik nomor tersebut namun tidak ada gambar yang ditampilkan di profilnya.
Dua hari yang lalu Dewi mengajak ibu Elma dan Erika makan di luar ketika pulang dari sekolah dan saat itulah mereka berselfi-selfi ria menggunakan ponsel Erika. Setelah itu Dewi meminjam ponsel tersebut dengan alasan untuk melihat foto-foto mereka dan tanpa sepengetahuan ibu Elma dan juga Erika, ternyata Dewi bukannya melihat foto tapi dengan lincah ia mencari nomor ponsel pak Hendrik. Mata Dewi membaca sederet nama-nama kontak yang ada dan ia menemukan nama 'ayah' di dalamnya. Segera ia mengirim nomor tersebut ke ponselnya lalu setelah berhasil ia buru-buru menghapus pesan tersebut lalu mengembalikan ponsel itu ke Erika.
Hari ini Dewi masuk kerja namun sebelum berangkat ia sengaja menghubungi nomor pak Hendrik agar penasaran dengan si penelepon. Ia tersenyum puas membayangkan bagaimana kegelisahan yang dialami oleh orang tua tersebut setelah menerima telepon darinya.
Tiba di kantor ia disambut hangat oleh Johan yang juga bekerja di kantor tersebut sebagai atasannya. Dari cara ia memandang Dewi, sudah bisa ditebak kalau mereka ada hubungan sepesial.
Dewi bisa diterima di kantor tersebut karena Johan yang mempromosikan setelah mereka berkenalan saat bertemu di bioskop sebulan yang lalu.
"Sayang, jangan sering bolos dong, entar kamu dipecat!" kata Johan ketika keduanya sudah berada di dalam ruangan kerja.
"Maaf Kak, kemarin aku ada urusan keluarga yang sangat penting sehingga tidak sempat menghubungimu!" sahut Dewi beralasan.
Ia meraih jemari Johan dan meremasnya untuk mengalihkan pikirannya agar tidak memperpanjang persoalan tentang kebolosannya kemarin. Dan benar saja, Johan merangkulnya lalu memberikan ciuman hangat pada wajah hingga bagian lehernya.
"Saya sangat merindukanmu Sayang, sehari aja nggak ketemu tapi serasa udah sebulan," ucap Johan.
__ADS_1
"Ah, Kakak... ," sahut Dewi dengan manja.
"Gimana kalau kita cepat-cepat nikah soalnya saya udah nggak sabar nih, pengen... ?" Johan tidak melanjutkan ucapannya.
"Nggak usah buru-buru Kak, kita nikmati dulu masa pacaran sambil kumpul uang buat acara nikahan kita nantinya!" jawab Dewi.
Dewi sama sekali tidak mencintai Johan tapi dari mana lagi ia mau dapat tambahan penghasilan kalau bukan dari pria ini yang selalu mengabulkan permintaannya. Olehnya itu ia memanfaatkan dengan berpura-pura mencintainya.
"Jam istirahat nanti kita cari angin di luar, yuk!"
"Boleh Kak,"
Keduanya melepaskan pelukan karena mendengar teman-teman yang lain sudah datang.
Ketika Dewi sedang asik bekerja tiba-tiba ponselnya berdering. Ia langsung memeriksa siapa yang menghubunginya. Setelah melihat nama yang ada di layar ponselnya ia mengabaikan dan menyimpan kembali ke dalam tas kecilnya.
Ibu Elma yang menelponnya. Dewi pikir, pasti dia mau ditraktir makan lagi, dasar tante-tante doyan makan. Yah... tapi tak apalah yang penting bisa dekatin anaknya.
(Sebelumnya aku minta maaf karena melanggar perjanjian untuk tdk mengirim pesan lagi kepadamu tapi perasaan ini tidak bisa kuredam. Aku mencintaimu Kak!)
Pesan tersebut dikirim dan tak lupa disertakan dengan foto lama yang masih tersimpan dalam ponselnya, dalam foto tersebut tampak Eric memeluknya dengan mesra.
Eric tertegun melihat gambar dirinya yang sedang memeluk mesra Dewi yang menatapnya dengan senyum manis. Ia mengingat-ingat waktu kapan keduanya mengambil gambar tersebut. Semuanya jadi kenangan masa lalu.
Masa lalunya memang sangat berkesan dengan Dewi sehingga sulit terlupakan secara utuh.
Suasana hati yang sedang galau memikirkan keadaan rumah tangganya sedikit terobati saat melihat puluhan foto-foto mesranya yang Dewi kirimkan kepadanya.
Eric tidak membalas pesan dari Dewi tapi Dewi senang karena semua pesan dan foto yang dikirim sudah tercentang biru. Artinya semua sudah dibaca dan dilihat oleh mantan kekasihnya.
__ADS_1
Jam istirahat sudah tiba, Eric enggan pulang ke rumah untuk mencicipi masakan istrinya. Ia memilih ke warung yang terletak di dekat kantor tempatnya bekerja.
Setelah memesan makanan ia kembali membuka ponselnya untuk melihat foto-foto yang dikirim oleh Dewi sambil menunggu pesanannya.
Tak lama kemudian Johan dan Dewi juga masuk ke warung tersebut dan Eric melihat kedatangan mereka namun Dewi tidak melihatnya karena terhalang dengan pengunjung yang lain. Warung milik pak Mimin ini memang selalu ramai dikunjungi oleh pegawai-pegawai kantor yang ada di sekitarnya karena masakannya enak dan selalu menggunakan bahan-bahan yang masih segar.
(Untuk apa kamu selalu mengharapkan cintaku sedangkan kamu sudah punya seorang kekasih?) Eric mengirim pesan kepada Dewi disertai dengan foto yang berhasil ia bidikkan tadi.
Mendengar ponselnya berdering, Dewi merogoh tas kecilnya dan memeriksa pesan tersebut. Ia yakin bahwa saat ini Eric berada tidak jauh dari tempat ini karena terbukti dengan foto yang dikirim.
Ia mengedarkan pandangannya di dalam ruangan tersebut tapi karena ramainya pengunjung ia tidak bisa mengenali Eric apalagi banyak di antara pengunjung yang mengenakan masker.
(Jangan salah paham Kak, pria yang kutemani ini hanyalah teman biasa, rekan kerja di kantor. Kami nggak ada hubungan apa-apa loh, tapi aku senang soalnya kakak mengirim pesan kepadaku. Artinya Kakak punya rasa cemburu sebagai tanda cinta. Terima kasih Sayang!)
"Kok kamu tampak gelisah?" tanya Johan melihat kekasihnya yang todak tenang duduk.
"Nggak, cuman sedikit gerah," sahut Dewi.
"Ohh, silahkan pesan menu kesukaanmu!" kata Johan sambil menyodorkan daftar menu kepadanya.
"Aku mengikut aja deh dengan pesanan Kakak," ucap Dewi karena tidak fokus.
Johan segera memanggil pelayan dan memesan nasi putih dengan lauk ikan bakar dua porsi.
Sementara itu, Eric yang berada tidak jauh dari meja tempat Dewi dan Johan sudah hampir selesai makan. Ia pun menghabiskan makanannya dan berurusan dengan kasir lalu buru-buru pergi untuk menghindar dari Dewi.
Dewi tidak melihat Eric karena pada saat mau keluar dari rumah makan, pelayan juga datang untuk melayani mereka.
Eric masuk ke ruangannya untuk beristirahat karena waktu istirahat masih lama. Sambil berbaring di kursi ia menyibukkan diri dengan ponselnya.
__ADS_1
Biasanya jam-jam begini jika ia belum sampai di rumah, Anna akan mengiriminya chat bahkan meneleponnya secara berulang-ulang tapi kali ini ponselnya sunyi-sepi. Ia merenung, sesakit itukah Anna sehingga ia sudah mengabaikannya?
Eric tidak pernah tahu bahwa kemarin ibunya telah menelepon Anna dan menyuruhnya untuk bercerai dengan dirinya dengan alasan, Eric akan segera menikah dengan Dewi karena mereka masih saling mencintai.