MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
79. Ulang Tahun Krisna


__ADS_3

Dua tahun telah berlalu. Kini Felyn sudah punya adik laki-laki yang imut dan besok adalah tepat hari ulang pertamanya.


Eric dan Anna sangat bahagia atas kehadiran putranya yang diberi nama Krisna. Begitu pula dengan orang tua mereka dari kedua belah pihak yang saat ini semuanya sudah berkumpul. Mereka datang memenuhi undangan untuk menghadiri acara pesta ulang tahun sang cucu.


Pak Nico dan ibu Nadia menyewa seorang supir untuk datang mengantarnya karena ini adalah perjalanan yang sangat jauh dan pak Niko sudah tidak mampu untuk menyetir dengan jarak tempuh yang sekian.


Kakak Andi dan kakak Esty tidak bisa hadir karena ada kesibukan. Mereka hanya mengirim doa dan ucapan selamat berbahagia kepada Eric dan Anna dan berjanji untuk datang pada liburan yang akan datang.


Johan dan Susi juga datang membawa anaknya yang usianya hanya selisih beberapa bulan dengan usia Krisna.


"Halo, adek Kenzo!" seru Felyn yang sangat gemas jika melihat anak kecil. Hanzo menggerak-gerakkan kakinya dengan lincah dan pengen digendong sama kakak Felyn. Rupanya ia juga sudah kenal karena Felyn sering ikut ayahnya ke toko mebel.


Felyn menggendong Hanzo dan sesekali ia mencubit pipinya yang tembem dan membawanya ke dekat ibunya yang sedang menggendong Krisna. Felyn mengganggu adiknya lagi hingga Krisna menangis karena ia juga mau digendong oleh kakaknya. Tak heran jika Felyn sering ditegur oleh ibunya karena selalu mengganggu adiknya biarpun adiknya sedang tertidur pulas.


"Sini, Sayang!" kata Susi kepada anaknya. Hanzo turun dari gendongan Felyn lalu berjalan tertatih-tatih untuk mendapatkan ibunya.

__ADS_1


Selama acara berlangsung, Johan dan Susi secara bergantian menjaga anaknya. Kini Susi sangat bahagia karena Johan benar-benar menepati janjinya. Ia sangat berubah dan perhatian dalam segala hal serta sangat ulet dalam bekerja. Kerap kali Eric memberinya bonus karena melihat hasil kerjanya bagus dan kadang kala pekerjaannya selesai sebelum waktu perkiraan.


Tahun ini, Susi juga akan membuka usaha 'salon' dan rencananya akan dibuka di samping toko mebel. Di situ ada sebidang tanah yang tidak terlalu luas dan mereka sudah membelinya dengan menggunakan uang hasil dari penjualan rumah milik Johan dan masih ada sisanya yang akan digunakan untuk membangun tempat usaha.


Selain itu mereka juga sudah punya simpanan karena setiap bulan dapat gaji dan tak lupa keduanya selalu menabungnya sebagian untuk dijadikan modal usaha.


Tidak terasa acara ulang tahun Krisna sudah selesai dan Anna tampak kelelahan menggendong anaknya itu yang dari tadi agak rewel dan ia tidak mau digendong oleh orang lain termasuk ayahnya. Ia hanya mau sama ibunya dan juga Felyn tapi kakaknya itu belum mampu untuk menjaga adiknya berlama-lama.


"Pantas ia sangat rewel, tubuhnya hangat, sepertinya ia demam," ucap Eric sambil menyentuh kening Krisna menggunakan punggung tangannya.


"Mungkin ada giginya yang mau tumbuh," ujar ibu Nadia.


Anna duduk di sofa lalu memberi ASI kepada anaknya.Tak lama kemudian anak itu tertidur.


Siang itu juga kedua orang tua Anna kembali ke kota B. Berat rasanya untuk berpisah dengan anak dan cucu tapi pekerjaan sudah menanti. Anna juga berniat untuk menahan mereka hingga beberapa hari ke depan tetapi alasan kedua orang tuanya sangat tepat sehingga mereka harus berpisah.

__ADS_1


"Hati-hati di jalan!" kata pak Hendrik kepada besannya.


"Terima kasih!" ucap pak Nico dan istrinya.


Johan dan Susi juga pamit kepada tuan rumah karena mereka mau singgah untuk membeli sesuatu di sebuah toko dan takutnya nanti kehujanan karena cuaca sudah mulai mendung.


Ketika mereka keluar dari toko setelah membeli keperluannya, mereka melihat seorang ibu yang bertubuh kurus dan tatapannya sangat liar sedang berjalan mondar-mandir tak jelas.


Perempuan itu berpakaian lusuh dan mengenakan masker. Sepertinya ia berada di situ untuk mengharapkan belas kasihan dari orang-orang yang keluar masuk di toko tersebut.


"Mas, tunggu dulu, sepertinya saya kenal dengan perempuan itu!" kata Susi yang berusaha mengingat-ingat di mana ia pernah melihatnya.


"Ahh, mungkin kamu salah orang, ayo kita pulang sekarang soalnya cuaca semakin mendung!" ajak Johan. Ia khawatir jika kehujanan karena tidak ada persediaan mantel dan juga mereka membawa anak kecil.


Susi sangat penasaran dengan perempuan itu tapi ajakan suaminya membuat ia tergesa mengikutinya.

__ADS_1


Angin bertiup dan udara semakin dingin membuat Johan setengah berlari menuju ke parkiran motor sambil menggendong anaknya. Susi sampai tersengal-sengal saat berhasil tiba di parkiran.


Tanpa banyak tanya lagi, Johan segera membunyikan mesin motornya lalu tancap gas meninggalkan tempat tersebut.


__ADS_2