MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
25. Foto Profil Masih Tetap


__ADS_3

Pagi ini Anna bangun ketika hari masih malam. Sudah seminggu ini ia kembali belajar untuk bangun lebih pagi seperti yang dilakukan saat masih menjadi istri bagi Eric.


Jam 06.00 WIB ia sudah berada di toko walaupun belum ada pembeli tapi ia tetap semangat dan untuk mengusir kejenuhan, ia mulai lagi mempromosikan barang-barang yang baru masuk di tokonya melalui aplikasi Facebook.


Ada juga beberapa pesan yang masuk di Massenger. Ia mulai membaca satu per satu dengan teliti karena ada beberapa orang yang memesan barang jualannya lewat aplikasi tersebut.


"Terima kasih banyak Kak, barangnya udah saya terima!"


"Sama-sama Dek, ditunggu pesanan berikutnya!"


"Siap Kak, kalau boleh tahu alamat lengkap Kakak di mana, siapa tahu bisa berkunjung langsung ke tokonya?"


Tanpa rasa curiga, Anna mengirim alamat lengkap dengan nomor ponselnya kemudian membalas chat yang lain.


Susi cukup membalas dengan stiker jempol. Ia sangat senang karena usahanya telah berhasil dan hal ini tentunya akan menjadi berita bagus untuk disampaikan kepada Eric.


Sementara itu ibu Nadia yang berada di rumah sedang menyiapkan sarapan buat cucunya yang baru bangun. Felyn sudah masuk di sekolah TK yang letak gedungnya tidak begitu jauh dari rumah. Ia sudah terbiasa diurus oleh omanya pada pagi hari karena mamanya sudah sibuk di toko.


Pak Nico bertugas untuk mengantar cucunya ke sekolah dan juga menjemputnya ketika sudah tiba jam pulang menggunakan kendaraan roda dua.


Kedua orang tua itu melakukan rutinitasnya setiap hari dengam semangat, apalagi setelah melihat keadaan Anna yang sudah banyak mengalami perubahan. Tubuhnya sudah mulai berisi kembali karena mereka selalu memberikan semangat dan dukungan.


"kring, kring, kring!" ponsel pak Nico yang ada dalam saku celananya berdering ketika motornya memasuki halaman rumah. Ia baru saja pulang mengantar Dhey dari sekolahnya.


"Halo Nak!" sapanya. Rupanya yang menelepon adalah Andi.


"Halo Pa, saya mau bicara sama mama," jawab Andi.


"Kenapa nggak menelepon ke nomornya aja?"

__ADS_1


"Udah Pa, tapi nggak diangkat,"


"Ada apa sih, kok kedengarannya serius bangat?"


"Entar juga Papa akan tahu,"


Mendengar suara suminya, ibu Nadia datang ke ruang tamu menghampiri. Pak Nico langsung menyerahkan ponselnya dan tampaklah ibu Nadia berbicara serius melalui ponsel tersebut.


Andi menyampaikan bahwa ia akan segera menikah dan calon istrinya adalah anak dari tetangga mereka dulu sebelum pindah ke rumah baru ini.


"Kamu akan menikah dengan anaknya pak Mardi?" tanya ibu Nadia dengan raut wajah yang senang.


"Iya Ma, Mama suka 'kan dengan gadis itu?" ucap Andi di seberang sana.


"Iya Nak, mama malah sangat akrab dengan dia waktu masih tetanggaan," seru ibu Nadia sambil terkekeh.


Keduanya masih bercakap cukup lama untuk membahas rencana selanjutnya. Pak Nico duduk dengan setia mendengar perbincangan mereka bahkan sekali-kali memberikan komentar.


"Tak pernah kusangkah Anak kita akan berjodoh dengan Mariam," kata ibu Nadia sambil tersenyum.


"Iya Bu, saya juga sangat setuju jika Mariam yang jadi istri anak kita soalnya kita sudah kenal keluarganya dan si Mariam itu anak yang berpendidikan, baik hati lagi," ujar pak Nico.


Mariam adalah anak pertama dari dua bersaudara dan baru lulus kuliah tahun kemarin di salah satu universitas yang ada di kota tempat tinggalnya. Sekarang ia sudah menjadi tenaga honorer dan mengajar di salah satu sekolah negeri di kota itu juga.


Umur Andi dengan Mariam selisih tujuh tahun. Ibu Nadia masih ingat ketika Mariam masih kecil dan sangat senang jika digendong oleh Andi bahkan ia sering ngambek jika Anna yang dekat dengan Andi.


Siang hari setelah Anna istirahat, mamanya menyampaikan rencana Andi dan tampaknya Anna juga sangat mendukung karena ia sangat kenal dengan Mariam yang merupakan teman dekatnya dulu waktu masih kecil walaupun usia mereka tak sama.


Ketika Anna masih tinggal dan bertetangga dengan mereka dulu, Mariam selalu datang menjenguknya saat punya waktu ketika pulang mengajar dari sekolah dan ia selalu memberikan suport agar dirinya bersemangat untuk melawan penyakitnya. Namun kala itu Mariam tidak pernah bercerita jika ia sedang berpacaran dengan kak Andi.

__ADS_1


Menurut Andi, mereka sudah tiga tahun menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih namun keduanya sangat pandai menyimpan rahasia dan hanya beberapa kali bertemu sejak pacaran karena Andi jarang pulang sejak bekerja di Irian. Mereka hanya berkomunikasi lewat ponsel.


"Mudah-mudahan kak Andi hidup bahagia nantinya!" ucap Anna sambil menunduk. Ia teringat dengan perjalanan rumah tangganya yang awalnya berjalan mulus namun hancur-lebur di tengah jalan.


"Amin!" kata ibu Nadia.


Hatinya iba melihat perubahan mimik wajah Anna yang tiba-tiba bersedih. Ia dapat memastikan bahwa anaknya pasti teringat lagi dengan pergumulan hidupnya.


"Saya mau ke kamar dulu, Ma!" Anna pamit kepada ibunya.


"Oh, iya Nak," sahut Ibu Nadia.


Tiba di kamar, Anna menghempaskan tubuhnya di tempat tidur. Air matanya mengalir deras. Entah mengapa ia merasa sangat rindu kepada Eric. Ia telah berusaha membuang jauh-jauh perasaan tersebut namun bayangan mantan suaminya itu semakin jelas di pelupuk matanya.


Ia meraih ponselnya di meja dan membuat akun baru menggunakan nama toko, sekaligus mau menggunakan akun tersebut untuk mempromosikan barang-barang jualannya.


Ada kerinduan dalam lubuk hati ingin mengetahui bagaimana kabar mantan suaminya saat ini. Dengan menggunakan akun tersebut ia mulai mengetik nama Eric dan seketika itu juga akun milik Eric terbuka.


Air mata Anna semakin deras melihat foto profil yang tidak pernah diganti sejak dari dulu. Eric tetap menggunakan foto mereka berdua yang saling bertatapan sambil tersenyum. "Atau jangan-jangan ia sudah tidak menggunakan akun ini dan sudah punya akun yang baru." batinnya dalam hati.


Ia pun mencari nama Eric yang lain tapi tak menemukan akhirnya ia kembali ke akun yang dibukanya tadi.


Matanya tak berkedip ketika melihat postingan terakhir yang diunggah oleh Eric dua hari yang lalu .Anna berusaha mengingat waktu kapan mereka mengambil gambar tersebut. Dirinya duduk di sofa sambil menggendong Felyn dan Eric merangkulnya dari belakang sofa.


Jari Anna menggeser layar ponselnya ke atas dan ia semakin penasan dengan status-status yang diunggah oleh Eric.


(Tetap menunggu walau dalam ketidakpastian dan kuyakin suatu saat nanti kebenaran akan mengungkapkan bahwa cinta sejati itu ada).


Ini adalah salah satu unggahan yang membuat Anna bertanya-tanya dalam hati. Dadanya berdebar saat membaca kalimat tersebut.

__ADS_1


Ia terus menelusuri unggahan demi unggahan dan tak ada satu pun foto kebersamaannya dengan Dewi. "Apakah Eric tidak jadi menikah dengan Dewi?" tanyanya dalam hati.


__ADS_2