MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
50. Tidak Punya Rasa Malu


__ADS_3

Erika mendekati Felyn dan mencium lalu memeluk melepaskan rasa rindu. Felyn masih diam dan menatap Erika lekat-lekat.


"Kamu udah besar, Sayang," ucap Erika sambil mengelus-elus kepala Felyn dengan lembut.


"Kamu udah nggak kenal sama saya? Nih, tante Erika, adeknya papa kamu!" kata Erika lagi karena Felyn masih tampak heran dan bingung.


Yura menghampiri Felyn dan menyuruhnya untuk bersalaman dengan tantenya dan setelah itu ia sendiri pun berkenalan dengan Erika.


"Maaf, mana mamanya Felyn?" tanya Erika kepada Yura.


"Mamaku ada di kota B, dia nggak ikut ke sini," sahu Felyn.


Erika memandang Yura dan Felyn secara bergantian untuk memperoleh informasi yang sebenarnya. Yura mengangguk membenarkan ucapan Felyn.


"Gimana ceritanya kalian bisa ke sini?" tanya Erika lagi karena ia sangat penasaran.


"Ceritanya panjang, gimana kalau kita pulang ke rumah kakak Eric, nanti di sana saya akan menceritakan semuanya," usul Yura.


Erika berpikir sejenak lalu menganggukkan kepala tanda setuju dengan ajakan Yura. Yura tersenyum dan ia segera membayar harga barang yang dibeli lalu mengajak Erika dan Felyn untuk pulang ke rumah.


Yura dan Erika tampak seumuran dan keduanya langsung akrab. Tiba di rumah Eric, Erika terlebih dahulu memesan makanan di warung milik ayahnya kemudian mengikuti Yura dan Felyn yang sudah lebih duluan masuk ke dalam rumah.


"Kalau makanannya udah siap, nggak usah diantar masuk yah, biar saya yang ambil ke sini!" kata Erika kepada ibu Lastri.


"Siap, Non," sahut ibu Lastri.

__ADS_1


"Maaf yah, saya nggak bisa bantu soalnya ada sedikit urusan penting!" ucap Erika sambil tersenyum.


"Silahkan Non, nggak masalah kok, lagian ibu sudah punya teman di sini," ucap ibu Lastri dengan ramah. Dua hari yang lalu pak Hendrik menyarankan agar ibu Lastri sendiri yang mencari orang-orang yang bisa diajak kerja di warung karena pelnggannya semakin banyak. Ibu Lastri dengan senang hati memanggil kerabatnya yang tidak punya pekerjaan tapi punya tanggung jawab yang besar.


Ibu Lastri memang akrab dengan Erika karena gadis itu sering-sering membantu pekerjaan di warung tanpa diminta. Erika tidak pernah merasa risih atau pun malu melakukan pekerjaan di warung meskipun yang jadi pelanggan adalah teman-temannya di sekolah bahkan ia sendiri yang melayani para tamu jika ibu Lastri sedang memgerjakan pekerjaan yang lain.


Sementara ia sibuk menyiapkan makanan buat Erika, Yura, dan Felyn tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara seorang perempuan yang berseru memanggil namanya.


"Dewi...," ucap ibu Lastri dengan heran.


"Iya, tetangga lama, syukurlah karena ibu masih mengenaliku. Kalian hebat yah, sudah punya usaha sendiri!" kata Dewi sambil mengibaskan rambut pirangnya.


Ibu Lastri memperhatikan penampilan Dewi yang semakin seksi saja dibanding ketika masih tetanggaan dulu. Kali ini ia mengenakan dres berwarna merah maron yang pendeknya di atas lutut dengan leher terbuka seolah memamerkan belahan gunung kembar.


Dua minggu yang lalu masa tahananannya sudah habis sehingga ia sudah bisa menghirup lagi udara yang segar dan sepertinya ia tidak punya rasa malu setelah menjadi buah bibir masyarakat beberapa waktu yang lalu.


"Kok, Bu Lastri bengong saja?" ujar Dewi.


"Oh, iya, mau pesan apa?" tanya ibu Lastri tergagap.


"Nasi goreng merah yang pedas dan minuman jus jeruk!" sahut Dewi lalu duduk di di kursi yang masih kosong.


Sambil menunggu pesanannya ia menyibukkan diri dengan menatap layar ponsel. Ia jadi pusat perhatian orang-orang yang ada di warung tersebut bahkan yang mengenalnya langsung berbisik-bisik. Ada pula yang mencibir ke arahnya dan ada menatap dengan kagum karena kecantikannya serta ada juga yang memandanganya dengan tatapan yang nakal.


Setelah ibu Lastri melayaninya ia masih menahan dan menanyakan tentang keberadaan Eric. Ibu Lastri menyampaikan bahwa saat ini Eric sedang ke luar kota dan tak lama lagi akan berbaikan kembali dengan istrinya. Entah dari mana ibu Lastri mendapatkan jawaban seperti itu tapi sesungguhnya kata dan kalimat yang ia ucapkan mengalir begitu saja padahal ia sama sekali tidak pernah mendengar informasi yang sebenarnya namun ibu Lastri mengerti arah pembicaraan Dewi karena dari dulu ia tahu bahwa Dewi sangat menginginkan Eric.

__ADS_1


Dewi tampak kecewa mendengar ucapan ibu Lastri namun tidak lama kemudian ia kembali tersenyum. Entah apa yang sedang berputar dalam otaknya.


"Bu, mana pesanan kami?" seru Erika yang muncul di pintu.


"Eh, maaf Non, ibu nggak antar masuk soalnya lagi banyak pengunjung!" kata ibu Lastri. Ia menyodorkan tiga kotak yang berisi makanan kepada Erika.


"Erika!" sebuah suara memanggil Erika menghentikan langkah.Erika dan ia berbalik ke arah sumber suara.


Erika kaget melihat Dewi yang sedang tersenyum ramah kepadanya namun ia lekas berbalik lagi dan tidak mau meladeni wanita tersebut. Erika sangat benci kepadanya karena ia tahu persis bahwa masalah demi masalah yang terjadi dalam keluarganya baik yang dialami oleh ayah dan ibunya, pun yang sedang terjadi dengan Erik dan Anna, itu semua gara-gara Dewi.


"Erika!" seru Dewi dengan suara yang lebih keras lagi membuat pengunjung lainnya menoleh ke arahnya.


"Ada apa? Saya tidak mau berurusan dengan Anda!" sahut Erika dengan Emosi.


"Eh, anak kecil, jangan jual mahal dong!" kata Dewi dengan senyum mengejek.


"Lekas bayar harga makanan yang sudah kamu makan dan segera angkat kaki dari warung milik ayahku ini karena kami tidak suka melihat ada pelakor di tempat ini! Bagaimana Bapak dan Ibu?" seru Erika dengan lantang dan meminta dukungan dari orang-orang yang berada di situ.


"Pelakor? Dia pelakor?" ucap salah seorang pengunjung dengan dahi berkerut.


"Pantas aja pakaiannya sangat seksi," ujar yang lain.


"Adu, cantik-cantik, kok jadi pelakor," seru yang lain pula.


Masih banyak kalimat yang terlontar dari mulut para pengunjung dan memojokkan Dewi membuat Erika tersenyum puas. Ia berlalu dan masuk ke rumah.

__ADS_1


Sementara itu wajah Dewi bersemu merah karena telah dipermalukan oleh Erika. Ia membayar makanannya lalu pergi.


Dalam hati ia berpendapat bahwa jika hari ini belum berhasil maka besok atau lusa masih ada waktu. Toh, belum ada bukti bahwa Erik dan Anna sudah baikan namun ada satu hal yang mengganjal pikirannya, tadi Erika sempat mengatakan jika warung tempat ia makan itu adalah milik ayahnya. Yang benar saja, bukankah pak Hendrik sudah diusir oleh istrinya dari rumah dan sudah jadi gembel bahkan pikirannya sudah tidak waras lagi alias gila?


__ADS_2