
Pak Hendrik duduk termenung di ruang tamu setelah Eric kembali ke kantor. Ia sangat senang karena anaknya menyukai masakannya bahkan tampak wajah Eric berbinar tadi saat mencicipinya karena katanya ia teringat dengan istrinya yang dulu selalu menyiapkan makanannya di rumah sehingga ia tidak pernah makan di luar.
Sekilas pak Hendrik menoleh ke luar jendela dan langsung teringat dengan perempuan yang telah menghancurkan hidupnya karena melihat rumah yang pernah ia kunjungi. Saat ini suasana di rumah tersebut sudah berbeda dan mobil yang terparkir di halaman juga bukanlah mobil yang biasa dipakai oleh Dewi.
Beberapa saat kemudian muncul seorang perempuan di pintu sambil menggendong seorang bayi yang kira-kira baru berumur satu tahun lebih. Rupanya perempuan tersebut keluar untuk menyambut kedatangan suaminya yang baru pulang bekerja. Seorang pria dengan pakaian kantoran turun dari mobil sambil menjinjing tas yang langsung disambut oleh perempuan tadi lalu pria tersebut menggendong bayi mungil sambil menciumi pipinya.
Rupanya rumah di sebelah sudah diisi oleh orang baru. Trus, Dewi ke mana?
Pak Hendrik bertanya dalam hati, namun pikiran itu ditepisnya segera karena ia tidak mau lagi mengingat-ingat perempuan yang sudah membuatnya tergoda dan pada akhirnya membuat hidupnya hancur berantakan. Masih beruntung karena Eric mau memaafkan perbuatannya, seandainya tidak, mungkin sekarang dirinya sudah meregang nyawa saat mengalami kecelakaan.
Ia sedih dan sangat menyesali perbuatannya. Bisnis mebel yang dikelolahnya dulu sudah mulai berkembang, sekarang entah bagaimana kabarnya. Mampukah seorang wanita yang bekerja sebagai guru jika harus mengurus bisnis pula? Ada keinginan untuk pulang ke rumah dan berlutut di hadapan sang istri dan meminta maaf tapi sangat sedikit kemungkinan untuk dapat dimaafkan. Tak selamanya juga dirinya akan menjadi beban bagi Eric yang juga sudah punya beban berat. Lalu apa yang harus dilakukan?
Cukup lama ia termenung hingga tidak menyadari bahwa anaknya sudah pulang dari kantor.
"Kenapa Ayah melamun?" tanya Eric membuat ayahnya kaget.
"Ehh, anu, tolong carikan saya pekerjaan!" jawabnya dengan gugup.
"Pekerjaan? Bukankah Ayah masih sakit?"
"Ayah udah sehat kok, bosan di rumah aja,"
Erik tampak berpikir dengan ucapan ayahnya yang masuk akal juga bahwa tinggal di rumah saja pasti membosankan.
__ADS_1
"Nanti kita bicarakan soalnya saya mau mandi dulu!" kata Eric sambil berlalu. Ia masuk ke kamarnya, berbaring sejenak lalu mandi.
Sambil membersihkan tubuhnya ia terus berpikir, kira-kira pekerjaan apa yang cocok buat ayahnya. Tiba-iba senyum mengembang di bibirnya. Ia punya ide yang cemerlang dan semoga saja ayahnya akan setuju dengan ide tersebut.
Usai berpakaian ia menemui ayahnya yang sedang duduk di ruang tengah. Di meja sudah ada dua gelas kopi yang asapnya masih mengepul. Rupanya pak Hendrik menyeduh kopi ketika anaknya sedang mandi. Bukan hanya air minum yang tersedia tapi ada juga pisang goreng yang masih hangat. Aromanya sangat harum, tidak seperti pisang goreng yang sering ia makan.
"Beli di mana pisang gorengnya Ayah?"
"Pisangnya saya beli di penjual keliling tadi waktu lewat,"
"Trus yang goreng, siapa?"
"Ya, siapa lagi kalau bukan Ayah,"
Eric menatap ayahnya dengan kagum. Tak disangkah bahwa selain pandai memasak, ayahnya juga bisa membuat gorengan.
(Seorang perempuan muda telah tertangkap basah di sebuah toko perhiasan emas karena mencuri beberapa set perhiasan saat penjaga toko sedang sibuk menulis nota pembelian seseorang, namun perbuatan perempuan muda tersebut dilihat oleh pemilik toko yang ada di ruangan sebelah dalam dan mereka hanya dibatasi kaca riben. Pelaku tersebut yang diketahui bernama Dewi segera di tangkap oleh pemilik toko dengan meminta bantuan kepada tetangga sesama penjual. Dewi, yang diketahui berstatus janda ini tidak bisa mengelak karena barang bukti ada di saku baju dan saku celana yang dikenakannya. Berselang beberapa saat, pihak yang berwajib datang menjemput dan membawanya ke kantor polisi.)
Pak Hendrik dan Eric saling berpandangan setelah mendengar berita tersebut.
"Semoga ia diberi hukuman yang berat biar jera karena dia memang seorang perempuan yang sangat jahat. Mudah-mudahan ibu juga sedang menonton berita ini biar tahu semua sifat aslinya si Dewi itu. Gara-gara ibu, kebahagiannku lenyap dan kehidupan saya hancur. Anna pergi meninggalkan rumah ini karena hasutan dari ibu yang tergila-gila ingin menikahkan dia denganku," kata Eric dengan emosi.
"Iya, Ayah juga tidak akan seperti ini seandainya bukan ibumu yang selalu mengajak dia ke rumah. Lagian juga, Laki-laki mana yang tidak akan tertarik dengan godaannya yang sangat menantang, apalagi datang ke rumah dengan pakaian seksi dan dengan sengaja memamerkan tubuhnya. Awalnya Ayah bersikap biasa saja ketika ia bru pertama kali ke rumah tapi justru dia yang memulai menggoda saya dengan genit," ucap pak Hendrik pula.
__ADS_1
Keduanya terdiam beberapa saat dengan pikiran masing-masing.
"Oh, bagaimana kalau kita bikin usaha sendiri?" tanya Eric untuk mengalihkan perhatian dan berhenti memikirkan masa lalu yang berhubungan dengan Dewi.
"Ide yang sangat bagus, tapi apa yang bisa kita buat?" ujar pak Hendrik menanggapi.
"Ayah 'kan pintar masak, bagaimana kalau kita bikin warung di depan?"
"Boleh juga, tapi modal dari mana?"
"Saya masih punya simpanan kok, kalau Ayah setuju, dalam minggu ini juga kita segera bergerak,"
Wajah pak Hendrik berbinar melihat semangat anaknya. Keduanya pun segera beranjak dari tempat duduk dan pergi ke luar untuk melihat tempat yang cocok untuk mendirikan warung.
"Sepertinya di sini tempatnya strategis soalnya dekat dengan jalan raya," kata Eric menunjuk sudut halaman rumahnya.
"Tapi...," pak Hendrik tidak melanjutkan perkataannya. Ia ragu-ragu untuk mengucapkan isi pikirannya.
"Tapi apa, Ayah?" tanya Eric dengan alis terangkat.
"Siapa tahu istrimu kembali. Apakah ia tidak akan protes usah kita nantinya?" ujar pak Hendrik dengan ragu-ragu.
"Saya yakin semuanya akan baik-baik aja!" sahut Eric meyakinkan.
__ADS_1
Sepertinya Eric sudah tidak sabar lagi. Ia ingin melihat ayahnya punya kesibukan dan punya pendapatan, juga jauh di lubuk hatinya, ia ingin mempersatukan kembali ayah dan ibunya menjadi sebuah keluarga yang utuh. Berpikir seperti itu membuatnya tersenyum getir mengingat kehidupan rumah tangganya sendiri yang sedang berantakan.
Eric tetap punya prinsip yang tidak berubah. ia telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tetap bersabar dan setia menjalani hidupnya tanpa seorang istri. Ia akan membuktikan kesetiaannya suatu saat kepada Anna karena ia yakin cinta sejati yang tulus akan dipersatukan oleh Yang Kuasa. Hanya doa yang tak putus-putusnya selalu dipanjatkan kepada Tuhan yang ia percaya dapat mempertemukan kembali dengan keluarga kecilnya. Cepat atau lambat semua akan indah pada waktunya.