MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
31. Bisnis Baru


__ADS_3

Hanya butuh waktu seminggu para tukang mengerjakan pembuatan warung di depan rumah Eric. Kini Eric dan ayahnya sudah memulai usaha dengan menyediakan beberapa masakan.


Hari pertama, pak Hendrik memberlakukan discon lima puluh persen untuk menarik perhatian pelanggan. Lokasi berjualan yang sangat strategis membuat masakannya di hari pertama cepat ludes. Kebanyakan orang-orang yang tinggal di kompleks perumahan tersebut adalah orang-orang pekerja kantoran sehingga ada saja di antara mereka yang tidak sempat memasak sayur dan lauk.


"Bagaimana Ayah, apakah warungnya ramai?" tanya Eric yang baru pulang dari kantor. Tadi siang ia tidak pulang untuk makan karena ada rapat di kantor dan mereka makan bersama.


"Iya Nak, Ayah bahkan kewalahan tadi karena masih ada orang yang datang, sementara bahan-bahan sudah habis," sahut pak Hendrik dengan senang.


Eric pun ikut senang mendengar ucapan ayahnya.


"Sebaiknya Ayah istirahat, cukup menjual di siang hari saja dulu!" saran Eric melihat ayahnya kelelahan.


Pak Hendrik menuruti saran anaknya. Ia segera menutup warung lalu masuk ke rumah untuk beristirahat.


Beberapa hari kemudian pak Hendrik tampak semakin sibuk. Eric jadi kasihan melihat ayahnya yang kelelahan akhirnya ia menghubungi Erika.


"Selamat malam, Dek!"


"Selamat malam juga Kak, tumben menelepon?"


"Kalau pulang sekolah besok, kamu ke rumah yah! Kakak ada perlu!"


"Siap, Kak!"


Erika sangat senang mendapat telepon dari kakaknya. Dulu, biasanya Eric akan memberinya uang jajan tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya. Makanya Erika bersemangat karena ia bisa lagi jalan-jalan ke Maal bersama dengan teman-teman satu gengnya.


"Telepon dari siapa?" tanya ibunya yang dari tadi memperhatikan anak gadisnya senyam-senyum setelah berbicara melalui telepon.


"Kak Eric, Bu, dia minta saya untuk ke rumahnya besok sepulsng dari sekolah," sahut Erika dengan semangat.


Ibu Elma termenung mendengar ucapan Erika. Ia merasa sangat bersalah kepada Eric. Anna pergi karena ulahnya yang terlalu ambisi ingin menjadikan Dewi sebagai menantunya, namun apa yang terjadi, justru wanita itulah yang telah menghancurkan rumah tangganya.


Sejak suaminya keluar dari rumah setelah ia mengusirnya, penghasilan dari usaha mebel miliknya menurun drastis karena tidak ada lagi yang mengontrol para pekerja.


Ibu Elma sering tampak duduk sendiri merenungi nasibnya. Sudah beberapa kali Erika memergokinya dalam keadaan sedang menangis tapi ketika tahu ada Erika ia berpura-pura seolah-olah tidak terjadi apa-apa.


Keesokan harinya setelah pulang dari sekolah, Erika cepat-cepat mengganti seragam sekolahnya lalu pamit kepada ibunya. Saking semangatnya, ia tidak merasa lapar.


Ia mengendarai motor menuju ke rumah kakaknya yang hanya butuh waktu beberapa menit saja dapat dilalui.

__ADS_1


Erika heran ketika motornya memasuki halaman rumah kakaknya karena sudah ada warung dan ada juga beberapa pengunjung. Sangkahnya, Anna yang sedang menjual.


Erika memarkir motornya lalu segera masuk ke dalam rumah tapi tidak menemui siapa-siapa.


Ia berniat untuk menghubungi Eric tapi baru saja panggilan dimulai tiba-tiba kakaknya itu muncul di pintu utama.


"Terima kasih udah datang!"


"Kok, Kakak nggak pernah ngomong kalau kak Anna sudah pulang?"


"Haaa, mana dia! Mana istriku?"


Eric kalang-kabut dan setengah berlari mendatangi setiap ruangan untuk mencari keberadaan istrinya. Erika malah bingung melihat tingkah kakaknya.


"Ada apa Kak? Bukannya di depan ada usaha jualan makanan? Ya, pastinya istri Kakak ada di sana," kata Erika membuat wajah Eric tampak kecewa.


"Ahhh, kamu ini, bikin Kakak jadi ...," ucap Eric. Ia tidak melanjutkan perkataannya tapi menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan kasar. Dadanya masih berdegup kencang karena mengira bahwa istri dan anaknya sudah ada di rumah.


"Maksud Kakak?" Erika semakin tidak mengerti.


"Sekarang coba kamu ke warung dan minta makanan dua porsi!"


"Ayah! Kok, Ayah ada di sini?" tanya Erika dengan heran. Ia membalas pelukan ayahnya dengan erat pula. Ada rasa rindu karena sudah beberapa bulan tidak pernah bertemu.


"Maafkan Ayah, Nak!" ucap pak Hendrik.


"Maafin juga Erika, soalnya nggak pernah jenguk Ayah waktu di rumah sakit, ibu yang melarangku ke sana!"


"Ayah mengerti, Nak,"


Keduanya pun menangis tanpa merasa risih dengan tatapan penuh tanya para pengunjung yang sedang makan.


Setelah tangisnya reda, Erika duduk di kursi yang kosong. Ia masih syok sehingga lupa dengan tujuannya datang ke warung.


"Mana makanannya, Dek?" tanya Eric yang datang menghampiri. Sebenarnya ia sudah menduga dengan apa yang dialami oleh adiknya karena tidak menyangkah bahwa akan bertemu dengan sang ayah di tempat yang tak terduga.


"Oh, iya, Kak... tapi kenapa Kakak nggak pernah ngomong kalau ayah ada di sini?" protes Erika dengan tatapan menyelidik.


"Ssttt, nanti Kakak jelasin, yuk kita makan dulu soalnya saya mau balik ke kantor lagi!" ajak Eric. Ia melayani dirinya sendiri untuk mengambil makanan karena melihat ayahnya sedang sibuk melayani para pembeli.

__ADS_1


Setelah pamit kepada ayahnya, keduanya keluar dari warung dan masuk ke dalam rumah. Pak Hendrik memperhatikan keakraban anaknya itu sambil tersenyum bahagia lalu dengan semangat ia melanjutkan pekerjaannya.


Sambil menikmati masakan ayahnya, Eric sesekali menatap wajah adiknya yang juga makan dengan lahap. Sate ayam adalah makanan paforitnya sejak dari dulu dan tentu saja Eric tahu hal itu sehingga tadi ia memilih lauk tersebut.


"Kamu suka dengan satenya?" goda Eric.


"Suka bangat," ujar Erika sambil mengunya makanan di mulutnya.


"Kalau suka, kamu bisa makan sate ayam setiap hari secara gratis tapi ada syaratnya loh!"


"Apa syaratnya, Kak?"


"Kamu harus jadi karyawan di warung untuk membantu ayah, setidaknya melayani pembeli, membersihkan meja, membungkus makanan yang dipesan oleh pembeli, atau mencuci piring,"


"Waahh, banyak amat kerjaannya, Kak!"


"Yahhh... ini cuman tawaran dari saya, katanya mau makan sate ayam setiap hari. Ingat Dek, di dunia sekarang ini, tidak ada lagi yang namanya gratisan,"


"Iya juga sih, tapi saya khawatir, Ibu nggak ngizinin kalau tahu ayah ada di sini,"


Wajah Erika tampak sedih. Usai menghabiskan makanannya ia juga menceritakan keadaan ibunya selama ayahnya pergi meninggalkan rumah. Kakak-beradik itu bersepakat untuk menyatukan orang tua mereka kembali walau keduanya sadar bahwa perkara tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan.


Erika menemui ayahnya di warung setelah Eric berangkat ke kantor. Ia menyempatkan diri membantu ayahnya untuk mencuci perabotan yang kotor.


Menjelang sore Erika pamit kepada ayahnya karena ibunya sudah menelepon.


"Sering-seringlah ke sini Nak biar Ayah kerja dengan semangat!"


"Siap, Ayah!"


"Jangan beri tahu ibumu yah, kalau Ayah ada di sini! Ayah khawatir ia akan datang ke sini dan mengusirku lagi,"


Erika sedih mendengar ucapan ayahnya lalu ia menganggukkan kepala sambil menatap ayahnya dengan sendu.


"Ini, buat laukmu nanti malam dan kalau ibumu tanyakan dari mana asalnya, bilang aja, eric yang beli!" kata pak Hendrik sambil memberikan kotak berisi lauk kepada Erika.


"Terima kasih, Ayah!"


"Sama-sama,"

__ADS_1


__ADS_2