MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH

MANTAN KEKASIHNYA MEMBUATKU RESAH
28. Kecelakaan


__ADS_3

Eric melajukan motornya untuk mencari penginapan dan ia sengaja lewat di depan rumah mertuanya yang pernah didatangi beberapa waktu yang lalu.


Ia memperlambat laju kendaraannya ketika melihat keramaian dan ada tenda-tenda terpasang hingga ke rumah tetangga. "Tak salah lagi, pasti Anna yang sedang menikah," katanya dalam hati. Ada rasa sakit menembus hatinya yang paling dalam.


Dari arah yang berlawanan ia melihat Felyn berjalan dengan riang. Tangan kirinya memegang es krim dan tangan kirinya digandeng seorang perempuan. Eric memperkirakan bahwa perempuan tersebut adalah penjaganya.


Felyn sudah semakin besar dan tambah cantik. Awalnya Eric ingin menemuinya tapi niatnya diurungkan mengingat risiko yang bisa saja terjadi. Akhirnya ia hanya meraih ponselnya lalu mengambil gambar anaknya secara tersembunyi.


Dengan perasaan yang hancur Eric merebahkan tubuhnya di kasur empuk ketika masuk ke kamar di rumah penginapan. Ia ingin beristirahat sejenak sebelum kembali ke kota A.


Matanya terus memandangi foto anaknya yang sedang tertawa bahagia. Perasaan nyeri kembali menusuk kalbunya membayangkan anaknya yang akan memiliki ayah tiri.


"Ting!"


Eric segera membuka pesan yang masuk pada aplikasi WhatsApp.


Beberapa foto pernikahan yang di dalamnya juga ada Susi. Eric menyentuh layar ponselnya dan menggeser ke atas untuk melihat foto berikutnya.


Seolah tak percaya ketika melihat foto Anna sedang bersama Susi. Ada foto mereka bareng dengan pengantin dan ada juga yang hanya berdua dengan Susi.


Dalam gambar tersebut Anna tampak sangat anggun dengan gaun yang berwarna kuning keemasan membalut tubuhnya.


Eric mengambil posisi duduk di tepi tempat tidur sambil mengamati foto-foto yang dikirim oleh Susi.


(Coba Bapak tebak, saya sedang berada di mana?) chat dari Susi.


(Kok, kamu bisa foto bareng dengan istri saya?) balas Eric.


(Ceritanya panjang Pak, nanti di kantor baru saya ceritakan soalnya kami masih ada urusan.)


Dugaan Eric saat ini membuat keresahan hatinya sedikit berkurang.


Ia kembali memperhatikan foto tadi dan... "astaga!" gumamnya sambil memijit keningnya. Ia baru memperhatikan siapa pengantin laki-laki yang ada di dalam foto tersebut.

__ADS_1


Kini hatinya semakin lega karena sudah bisa memastikan bahwa yang menikah tadi adalah Andi, kakak iparnya, bukan Anna. "Tapi kenapa Susi, teman kantornya hadir dalam acara tersebut?" pikirnya lagi dengan hati yang hingung.


Malam itu Eric tidur dengan nyenyak di penginapan yang disewanya. Di tengah keheningan malam yang dingin ia terbuai mimpi yang indah.


Ada secercah harapan yang membuatnya merasa tenang dan bersemangat ketika bangun dari tidur di pagi hari. Tekad yang sudah bulat untuk menemui istri dan anaknya hari ini dan ia memilih waktu yang tepat. Menurutnya sore hari adalah waktu istirahat bagi mereka sehingga masih ada waktu yang bisa digunakan untuk mempersiapkan fisik dan mental sebelum bertemu dengan istri dan anaknya serta mertuanya.


Menjelang sore ia baru jalan. Tiba di alamat yang diberikan oleh Susi beberapa hari yang lalu ia sangat senang melihat pintu pagar terbuka.


"Permisi!" ucapnya dengan ragu. Tiba-tiba ia merasa gugup padahal tadi sebelum berangkat di rumah penginapan semua kata-kata sudah dihafal.


"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya Yura dengan ramah.


Eric tersenyum melihat perempuan yang datang menemuinya. "Tidak salah lagi, ini adalah kediaman Anna karena perempuan ini yang saya lihat kemarin sedang menggandeng tangan Felyn." katanya dalam hati.


"Apa betul ini rumah pak Nico?" tanya Eric dengan ramah pula.


"Iya, benar, Pak," sahut Yura.


"Apakah saya boleh masuk?" pinta Eric.


Wajah Eric berubah seketika. Semangat yang ada berangsur-angsur surut. Impiannya untuk bertemu dengan istri dan anaknya gagal lagi.


"Kira-kira kapan mereka balik ke sini?"


"Wahh, saya juga kurang tahu. Bapak bisa kok, nitip pesan, nanti saya sampaikan jika mereka sudah kembali,"


"Nanti kapan-kapan saya balik lagi ke sini. Terima kasih atas informasinya, Dek!"


"Sama-sama,"


Yura kembali ke toko setelah Eric sudah pergi. Hari ini ia menutup toko lebih awal dari biasanya sesuai dengan perintah dari Anna sebelum berangkat tadi.


Keluarga pak Nico berangkat ke Irian karena Andi akan memasuki rumah barunya dan sekaligus akan mengadakan acara syukuran.

__ADS_1


Setelah menutup toko, Yura juga tak lupa mengunci pintu pagar lalu pulang ke rumah kostnya.


***


Dalam perjalalanan pulang ke kota A, Eric kaget karena di tengah jalan ia mendapati orang banyak sedang berkerumun. Ia pun meminggirkan motornya dan menghampiri kerumunan orang tersebut.


"Ada apa ini, Pak?"


"Telah terjadi kecelakaan, ada mobil yang tabrak lari,"


"Trus, bagaimana dengan korbannya?"


"Korban tabrak lari masih tergeletak tapi syukur karena ia masih hidup, hanya saja warga bingung karena tidak bisa bertindak, masalahnya orang yang jadi korban ini adalah orang gila yang setiap hari tidak mengenal siang atau malam, selalu berkeliaran di sekitar sini dan kerap kali mengganggu pengguna jalan,"


Eric mendekat ke arah korban dan alangkah terkejutnya ia ketika melihat wajah korban dari dekat.


"Ayah...!!!" serunya dengan suara keras membuat orang-oranng yang berkerumun saling pandang satu dengan yang lainnya.


Eric melambaikan tangan kepada pengendara mobil yang lewat tapi tidak ada yang mengubrisnya. Akhirnya ia ingat, di ponselnya ada nomor pegawai rumah sakit. Ia segera menghubungi dan minta dijemput dengan ambulans. Tak lupa ia memberitahukan alamat tempat kejadian perkara.


Tak lama kemudian mobil ambulans datang ke tempat tersebut. Eric memohon kepada warga agar membantunya untuk menggotong tubuh ayahnya ke atas mobil ambulans lalu ia mengikuti mobil tersebut menuju rumah sakit.


Pergumulan yang dialami oleh pak Hendrik membuatnya prustasi hingga stres berat setelah diusir oleh istrinya dari rumah tanpa membawa apa-apa selain pakaian yang melekat di tubuhnya.


Hidup di kota tanpa tujuan membuat dirinya tidak bisa lagi menguasai pikirannya. Ia jadi gila dan kerjaannya setiap hari adalah mengganggu pengemudi yang lewat di jalan raya untuk meminta sesuap nasi. Kadang kala ia tidur di pinggir jalan tanpa alas di bawah panas terik matahari.


Pakaiannya sudah sangat lusuh dan rambutnya juga sudah gondrong tapi Eric tetap dapat mengenalinya. Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, ia memikirkan bagaimana cara agar ibu mau datang menemui ayahnya. Ia tahu hati ibunya sangat terluka atas perbuatan ayah yang tega menyelingkuhinya dengan Dewi yang merupakan teman akrabnya. Sebenarnya Eric juga pernah berpikiran seperti itu untuk melupakan ayahnya tapi melihat kondisinya saat ini, siapa lagi yang mau peduli kalau bukan anak-anaknya karena mereka merupakan darah dagingnya.


Perawat yang ada di rumah sakit segera membawa pasien ke ruang perawatan. Pak Hendrik rupanya pingsan akibat benturan benda keras di bagian kepalanya.


Setelah memastikan bahwa ayahnya sudah ditangani oleh perawat, Eric pergi membeli pakaian ganti buat ayahnya ke toko terdekat. Ia memilih baju kaos dan celana pendek.


"Berapa harganya, Bu?"

__ADS_1


"seratus lima puluh ribu rupiah,"


Eric segera membuka dompetnya lalu mencabut uang pecahan seratus dan lima puluh masing-masing satu lembar lalu menyodorkan kepada penjual tersebut.


__ADS_2